SURYA.CO.ID, SURABAYA – Dunia kerja tengah mengalami pergeseran besar akibat digitalisasi, namun Jawa Timur (Jatim) tidak tinggal diam.
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur secara resmi menyosialisasikan program pengembangan talenta digital yang menyasar siswa serta lulusan SMA, SMK dan SLB.
Tak main-main, program ini menawarkan pelatihan hingga sertifikasi internasional secara gratis.
Program strategis ini, terintegrasi dengan kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan sekolah dengan kebutuhan nyata dunia usaha dan dunia industri (DUDI).
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menegaskan bahwa sertifikasi adalah kunci utama bagi lulusan agar dilirik oleh perusahaan besar.
Menurutnya, industri saat ini tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga keterampilan tambahan yang terukur.
“Fasilitasnya gratis semua. Ada berbagai jurusan atau kompetensi yang bisa diikuti sesuai dengan ruang kerja yang ada sekarang. Industri tidak serta-merta mengambil lulusan kalau tanpa kompetensi tambahan,” ujar Aries kepada SURYA.co.id, Selasa (20/1/2025).
Menariknya, peserta yang lulus pelatihan tidak akan dibiarkan begitu saja. Mereka akan dimasukkan ke dalam talent pool Komdigi melalui aplikasi khusus, yang dapat diakses langsung oleh pihak industri. Jika kualifikasi siswa cocok, perusahaan bisa langsung melakukan perekrutan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menekankan bahwa fokus utama pengembangan ini adalah pada bidang Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan Big Data.
Ia optimis, bahwa meski beberapa jenis pekerjaan mulai hilang, peluang kerja baru di sektor digital justru akan meledak pada rentang 2025-2030.
“Pengembangan terutama untuk AI, dan itu adalah kebutuhan hari ini. Digitalisasi ekosistem itu tidak berarti semua pekerjaan akan berkurang. Peluang-peluang baru sangat besar, tinggal di bidang apa saja, dan itu yang harus disosialisasikan,” tegas Khofifah.
Program ini tidak hanya eksklusif bagi siswa baru, melainkan juga terbuka bagi mereka yang sudah bekerja, namun ingin meningkatkan keahlian (upskilling).
Mengingat Jawa Timur memiliki sektor industri manufaktur terbesar di Indonesia, kebutuhan akan tim IT, tim AI hingga ahli data menjadi sangat mendesak.
“Ini menjadi penting supaya matching dengan kebutuhan industrinya. Setelah sosialisasi, akan ada program lanjutan yang melibatkan lintas perangkat daerah, mulai dari Kominfo hingga sektor ketenagakerjaan,” pungkas Khofifah.
Melalui kolaborasi ini, Jawa Timur berharap dapat mencetak generasi emas yang tidak hanya menjadi penonton di era digital, tetapi menjadi pemain utama yang menggerakkan roda ekonomi manufaktur dan teknologi nasional.