Pertempuran Bojongkokosan, ketika Sekutu Mati Kutu di Sukabumi
Moh. Habib Asyhad January 20, 2026 04:34 PM

Pertempuran Bojongkokosan menjadi bukti bagaimana pasukan Sekutu dibuat mati kutu oleh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Sampai-sampai mereka menawarkan gencatan senjata.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Ada satu pertempuran, yang jarang orang mengingatnya, di mana Sekutu sampai dibuat mati kutu itu. Itulah Pertempuran Bojongkokosan di Sukabumi Jawa Barat pada ujung 1945.

Salah satu tokoh yang bersinar pada pertempuran itu adalah Eddy Sukardi.

Pertempuran Bojongkokosan terjadi pada 9-12 Desember 1945 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Itu adalah pertempuran antara pejuang republik melawan konvoi pasukan Sekutu yang membawa tawanan perang dan tahanan sipil ke Bandung.

Di tengah perjalanan, konvoi itu disergap pejuang kemerdekaan Indonesia di dekat Cicurug.

Setelah melakukan negosiasi, konvoi akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Bandung. Negosiasi itu juga disebut sebagai contoh pertama pengakuan secara de facto Republik Indonesia oleh Sekutu.

Pertempuran dimulai ketika pasukan TKR Sukabumi di Pos Cigombong mendapatkan informasi tentang kedatangan pasukan Inggris, Gurkha, dan NICA yang hendak masuk ke wilayah Sukabumi. Karena itulah, TKR langsung melakukan pemblokiran dengan menduduki posisi pertahanan di tepi tebing utara dan selatan jalan di Bojongkokosan.

Menurut beberapa sumber, pemblokiran ini terjadi sepanjang 81 kilometer. Dari sekitar Cigombong hingga Ciranjang di Kabupaten Cianjur.

Dalam konvoi itu, pasukan Sekutu diperkuat oleh puluhan tank, kendaraan lapis baja, dan truk yang membawa ribuan pasukan Gurkha. Ketika mendekati tebing Bojongkokosan, konvoi itu diserbu oleh tembakan pejuang kemerdekaan.

Pertempuran sempat terhenti karena hujan deras tapi berlanjut lagi keesokan harinya. Pasukan Sekutu yang ketakutan akhirnya mengundang pemimpin TKR dan pemerintah daerah untuk berunding. Diwakili Komandan Resimen III Letnan Kolonel Eddy Sukardi, gencatan senjata pun disetujui dan konvoi akhirnya bisa melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Tapi gencatan senjata itu ternyata cuma bertahan sehari. Pada 10 Desember 1945, pasukan Sekutu melakukan serangan pembalasan. Mereka melakukan pemboman udara di langit Sukabumi yang menewaskan sekitar 73 pejuang. Tak hanya itu, ratusan warga sipil juga terluka, ratusan rumah di sekitar Kompa dan Cibadak juga hancur.

Sementara di sisi pasukan Sekutu, ada ratusan tentara yang tewas, 100 orang terluka parah, dan 30 tentara menyerah – terutama pada pertempuran hari pertama. Pertempuran ini ternyata punya dampak besar terhadap kehadiran Inggris di Indonesia yang tak lama.

Apa yang terjadi di Bojongkokosan rupanya sampai ke meja parlemen dan mayoritas dari mereka menolak keterlibatan lebih jauh Inggris dalam pertempuran Indonesia melawan Belanda. Mereka juga disebut menghormati keinginan rakyat Indonesia untuk merdeka sebagaimana yang terjadi di Surabaya sebulan sebelumnya.

Sosok Eddy Sukardi

Berbicara tentang Palagan Bojongkokosan tapi bisa dilepaskan dari sosok Eddy Sukardi. Dialah tokoh perjuangan masyarakat Sukabumi melawan Belanda yang mencoba merebut kembali Tanah Air yang sudah merdeka.

Eddy adalah Komandan Resimen III Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang membawahi Bogor, Sukabumi, dan Cianjur sejak 1945 hingga 1945. Dia kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Brigade Guntur di Tasikmalaya lalu menjadi Komandan Brigade 14 Divisi Siliwangi.

Ketika itulah Eddy berhasil memadamkan pemberontakan Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI) di Kedu, Jawa Tengah. Ketika kembali ke Jawa Barat dalam long march Siliwangi pada Desember 1948, dia ditangkap oleh pasukan Belanda di Ciamis.

Setelah perang berakhir, Eddy bertugas di Kalimantan. Lalu pada 1957, dia memutuskan berhenti dari militer dengan pangkat terakhir kolonel dan memutuskan menjadi seorang pebisnis hingga akhir hayatnya. Eddy meninggal dunia pada 5 September 2014 di Bandung, Jawa Barat.

Kemenangan TKR dalam Pertempuran Bojongkokosan di antaranya adalah taktik hit and run serta pengerahan sniper di sepanjang jalan Bojongkokosan yang dilakukan oleh Eddy. Dengan taktik itu, tentara Republik menewaskan ratusan pasukan Sekutu sementara ratusan lainnya luka-luka.

Selain di Bojongkokosan, pasukan Inggris di Cianjur juga berhasil dikalahkan. Setelah itu, Eddy mengerahkan Soeroso sebagai pimpinan gerilyawan kota. Soeroso berhasil mengganggu pergerakan Batalion 3/3 Gurkha Rifles (kesatuan militer Inggris) dari Bandung hingga ke Sukabumi.

diabadikan dalam Museum Bojongkokosan

Apa yang terjadi di Bojongkokosan pada Desember 1945 itu kemudian didokumentasikan dalam Museum Palagan Bojongkokosan atau Museum Palagan 1945 Bojong Kokosan. Museum itu adalah penghormatan bagi para pejuang kemerdekaan, terutama pejuang Sukabumi, melawan tentara Sekutu.

Museum Palagan Bojongkokosan punya beberapa koleksi yang terbagi dalam dua ruang pameran, yaitu:

Ruang Pameran I

Pada ruang pameran I terdapat 4 (empat) buah vitrin dan baling-baling dan kaca jendela pesawat serta foto dan nama –nama pahlawan yang gugur di medan perang dalam Pertempuran Bojong Kokosan.

Ruang Pameran II

Pada ruang pameran II terdapat: Miniatur masterplan Palagan Bojongkokosan yang berada di tengah-tengah ruangan. Terdapat Minirama (maket) yang menggambarkan tentang Peristiwa di Bojong Kokosan.[8] Masing- masing menggambarkan dan diberi judul:

  1. Penyusunan Kekuatan
  2. Musyawarah untuk melakukan tindakan
  3. Penyerbuan ke Perkebunan Cirohani
  4. Pertempuran Bojongkokosan
  5. Pemboman Cibadak oleh Angkatan Udara Kerajaan Inggris
  6. Pengusungan Jenazah dan yang luka-luka, dan Minirama
  7. Pemakaman Jenazah para Pahlawan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.