TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Jejak Dwi Murdiono, engineer asal Bogor yang jadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 akhirnya ditemukan.
Tim SAR menemukan beberapa barang milik Dwi di TKP jatuhnya pesawat ATR yakni di kawasan Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin (19/1/2026) malam.
Bukan cuma milik Dwi, Tim SAR gabungan juga berhasil mendapatkan barang milik Kopilot pesawat Farhan Gunawan.
Dari beberapa barang yang ditemukan, ada satu benda tak terduga yang ditemukan di dalam tas milik korban.
Apa itu?
Dalam pencarian di hari ketiga jatuhnya pesawat ATR, Tim SAR menemukan pelampung darurat berwarna kuning yang terbakar di beberapa bagian.
Pelampung tersebut berada di dekat pohon tengah hutan.
Selain itu, Tim SAR juga mendapati tas milik Farhan dan Dwi Murdiono serta dompetnya.
Dari sanalah ditemukan jejak Dwi yang disinyalir berada di dekat TKP.
Di tas Dwi, Tim SAR menemukan KTP yang beralamat di Bogor, Jawa Barat.
Lalu di tas Dwi juga ada dua kartu ID Card Airfast Indonesia dan Indonesia Air miliknya.
Ada juga kartu debit AT serta beberapa lembar uang rupiah ditemuakn di dalam tas Dwi.
Sementara di tas Farhan, Tim SAR menemukan KTPnya yang beralamat di Luwu Timur.
Selain barang-barang yang ditemukan di atas, Tim SAR juga mendapati sebuah benda berwarna orange hitam.
Benda tersebut ternyata adalah pistol flare alias flare gun yang biasa digunakan untuk kondisi darurat guna meminta pertolongan.
Namun saat ditemukan di dalam tas, flare gun itu masih dalam kondisi utuh alias belum terbuka.
Diduga flare gun tersebut belum sempat digunakan Dwi ataupun Farhan saat kejadian.
Semua barang-barang milik korban itu telah diserahkan ke posko SAR AJU Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Bukan cuma Dwi Murdiono, satu warga Bogor lainnya juga jadi korban pesawat ATR 42-500.
Dia adalah pramugari bernama Esther Aprilita Sianipar.
Sang putri jadi korban jatuhnya pesawat, ayah Esther, Adi Sianipar langsung terbang ke Makassar.
Adi menanti kabar ditemukannya Esther bersama keluarga korban lainnya.
Sembari menahan tangis, Adi mengurai cerita soal komunikasi terakhir dengan Esther Aprilita.
Kata Adi, ia terakhir kali berbicara dengan Esther satu hari sebelum kecelakaan terjadi yakni pada Jumat (16/1/2026).
Saat itu Adi diberi tahu oleh Esther kalau dia sedang berada di Bandara Halim Perdanakusuma.
"Jumat malam (terakhir chat Esther), kalau dia kan stand by di Halim. Ya dari Halim mungkin ke Jogja, kita enggak tahu rute-rutenya, tapi dia stand by di Halim," ujar Adi dilansir dari youtube Tribun Timur, Senin (19/1/2026).
Lalu keesokan harinya yakni pada Sabtu, Esther tidak lagi membalas chat sang ayah.
Padahal di hari Sabtu itu Adi ingin menjemput Esther pulang sama-sama ke Bogor.
"Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA dia karena saya lagi ke Jakarta, dia kan kos di Jakarta, jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif," kata Adi.
Sementara jejak dua warga Bogor yakni Dwi dan Esther belum diketahui, Tim SAR membawa kabar terbaru dari TKP.
Pada Senin (19/1/2026) Tim SAR berhasil menemukan satu jenazah korban jatuhnya pesawat ATR.
Jenazah berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan di tebing kedalaman 500 meter dari Puncak Gunung Bulusaraung.
Sehari setelah kejadian yakni pada Minggu (18/1/2026), Tim SAR telah menemukan jasad laki-laki.
Hingga kini identitas dua jenazah yang berhasil ditemukan, Tim SAR belum mengungkapnya.
Diduga kedua jasad korban masih diidentifikasi oleh dokter forensik.
Baca juga: Jejak Nametag Pramugari Pesawat ATR 42-500, Korban Tersangkut di Tebing Curam: Tertulis Florencia
Berikut adalah nama 10 penumpang pesawat ATR 42-500:
Kru pesawat (7 orang):
1. Kapten Andy Dahananto (Pilot in Command)
2. Kopilot Farhan Gunawan (Second in Command)
3. Hariadi (Flight Operation Officer)
4. Restu Adi P (Engineer)
5. Dwi Murdiono (Engineer)
6. Florencia Lolita (Awak Kabin/Flight Attendant)
7. Esther Aprilita S (Awak Kabin/Flight Attendant)
Penumpang dari KKP (3 orang):
1. Ferry Irawan (Pegawai KKP, Analis Kapal Pengawas)
2. Deden Mulyana (Pegawai KKP, Pengelola Barang Milik Negara)
3. Yoga Noval (Pegawai KKP, Operator Foto Udara)