TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Kecamatan Sungai Tubu, wilayah terluar Malinau, Kalimantan Utara yang dikenal dengan akses geografis yang menantang, kini resmi mengakhiri era isolasi digital, Selasa (20/1/2026).
Lima desa di wilayah ini dipastikan telah terjangkau jaringan internet 100 persen, sebagai fondasi awal transformasi pelayanan publik berbasis digital.
Ada 5 desa di seluruh Kecamatan Sungai Tubu. Saat ini telah terjangkau sepenuhnya dari beberapa Program Komdigi, Pemerintah desa dan Kecamatan hingga jaringan internet satelit Pemkab Malinau.
Camat Sungai Tubu, Jimmy Sakay mengungkapkan, infrastruktur ini sangat krusial mengingat selama ini koordinasi pemerintahan sering terputus akibat status blank spot.
Baca juga: Dapat SOA Orang dari Pemkab Malinau, Warga Sungai Tubu Bayar Angkutan Hanya Rp 100 Ribu, Ini Rutenya
"Saat ini ada sembilan titik akses yang menjadi tulang punggung konektivitas, dengan rincian delapan sudah on-air dan satu titik dalam proses instalasi," ungkap Jimmy Sakay kepada TribunKaltara.com, Selasa (20/1/2026).
Pengadaan jaringan internet ini merupakan kolaborasi antara relokasi WiFi Bakti serta pemanfaatan eknologi satelit Starlink yang dibiayai melalui dana desa dan kecamatan.
Sebelumnya cakupan jaringan internet lebih banyak tersebar di ibukota kecamatan, Desa Long Pada, saat ini menjangkau Desa Long Nyau, Long Titi, Long Ranau dan Rian Tubu.
Prioritas utama sebaran jaringan internet ini sengaja dipusatkan pada fasilitas publik seperti Puskesmas dan sekolah-sekolah di pelosok desa.
Sektor pendidikan menjadi perhatian khusus, karena selama ini kendala jaringan sering dikeluhkan menjadi persoalan update data pokok pendidikan (Dapodik)
"Termasuk ini solusi bagi persoalan Update data Dapodik. Totalnya sebenarnya ada 10 titik, tapi 1 itu di Sekolah SMA yang menjafi kewenangan provinsi," kata Pria yang juga mantan Sekcam Malinau Kota tersebut.
Baca juga: Kendala Jaringan Internet, 179 Unit Kerja Pemerintah Malinau Kaltara Terapkan Absensi Manual
Meski sinyal jaringan internet telah menjangkau seluruh desa, tantangan teknis masih membayangi karena seluruh BTS di wilayah ini sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Kondisi cuaca yang tidak menentu kerap memengaruhi kestabilan sinyal, ditambah lagi kapasitas bandwidth yang masih terbatas di angka 1 hingga 2 Mbps.
"Tahun 2026 ini kami juga fokus pada perbaikan sistem baterai BTS di daerah 3T, termasuk rencana bantuan 24 unit baterai baru untuk desa Long Pada agar sinyal tetap stabil saat mendung," ucapnya.
(*)
Penulis : Mohammad Supri