Di Era Daeng Manye, Gerbang Takalar Menjulang Megah dengan Ikon Jagung dan Ikan
January 20, 2026 05:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Wajah baru Kabupaten Takalar kini mulai terasa bahkan sebelum kaki benar-benar menginjak wilayahnya.

Dari kejauhan, sebuah bangunan megah berdiri menjulang, menyambut setiap kendaraan yang melintas di perbatasan Takalar dan Gowa.

Di bawah kepemimpinan Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye dan Wakil Bupati Hengky Yasin, pintu masuk Kabupaten Takalar tak lagi sekadar penanda batas wilayah.

Ia menjelma menjadi simbol perubahan arah pembangunan daerah.

Pantauan Tribun-Timur.com, Senin (20/01/2026), gerbang baru itu berdiri kokoh di jalur utama keluar-masuk kendaraan antarwilayah.

Di sisi utara terdapat Kelurahan Palleko, di selatan Kelurahan Malewang, sementara di sisi barat berbatasan langsung dengan Kelurahan Kalase’rena, Kabupaten Gowa.

Bangunannya menjulang sekitar 20 meter dengan lebar kurang lebih 15 meter.

Kokoh, tegas, namun tetap artistik.

Dari arah Gowa, pengunjung langsung disuguhi identitas khas Takalar.

Di sisi kiri terpampang logo jagung, simbol kekuatan pertanian.

Di sisi kanan, tergambar ikan tuing-tuing atau ikan terbang, ikon kekayaan laut Takalar.

Di bagian tengah, terbentang tulisan besar:

“Selamat Datang di Kabupaten Takalar Butta Panrannuangku.”

Tulisan itu bukan sekadar sambutan. Ia adalah pernyataan kebanggaan.

Tak lagi tertera tagline lama “Takalar Berjuang”.

Pergantian ini menjadi penanda bahwa Takalar sedang membuka lembaran baru.

Meski demikian, nilai sejarah tetap terjaga. Daerah ini tetap dikenal sebagai tanah kelahiran dua Pahlawan Nasional: Ranggong Daeng Romo dan H. Padjonga Daeng Ngalle.

Bagi warga sekitar, kehadiran gerbang ini membawa kebanggaan tersendiri.

Daeng Tinri, warga Kelurahan Palleko, mengaku paling menikmati keindahan gerbang saat malam hari.

Lampu-lampu penerangan membuat bangunan itu tampak hidup dan memikat.

“Kalau malam, cantik sekali. Terang, megah. Bisa dibilang, gerbang Takalar sekarang kalah-kalahkan gerbang daerah lain di Sulsel,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, masyarakat sudah lama menantikan hadirnya ikon daerah yang benar-benar membanggakan. Kini, harapan itu terasa nyata.

“Baru masuk wilayah Takalar saja, orang sudah dapat kesan bagus. Ini penting, karena kesan pertama itu menentukan,” katanya.

Gerbang megah ini sejalan dengan visi Bupati Mohammad Firdaus Daeng Manye yang kerap menekankan, pembangunan tidak hanya soal fungsi, tetapi juga soal rasa dan kebanggaan.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Daeng Manye menegaskan bahwa wajah daerah harus ditata, dimulai dari pintu masuknya.

Ia ingin setiap orang yang melintas langsung merasakan karakter Takalar maju, tertata, dan beridentitas.

Ikon jagung dan ikan bukan sekadar hiasan. Keduanya adalah simbol kekuatan ekonomi masyarakat: pertanian di darat dan perikanan di laut.

Keduanya pula yang selama ini menjadi denyut kehidupan warga Takalar.

Ke depan, pemerintah daerah berharap Takalar semakin dikenal sebagai daerah yang berkembang, punya jati diri kuat, dan mampu bersaing dengan wilayah lain di Sulawesi Selatan.

Kini, setiap kendaraan yang melintas di perbatasan Takalar tak hanya melewati sebuah gerbang.

Mereka seolah sedang disambut oleh pesan tak tertulis: Takalar siap melangkah lebih jauh dan semuanya dimulai dari kesan pertama yang kini tampak semakin berkelas. (*)



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.