Asal Usul Nasi Kuning, Dulu Hidangan Kaum Bangsawan, Kini Jadi Menu Sarapan Favorit di Solo
January 20, 2026 08:44 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Nasi kuning kini mudah ditemukan di berbagai sudut Kota Solo.

Mulai dari pasar tradisional, warung kaki lima, hingga penjual sarapan pagi, hidangan berwarna kuning cerah ini menjadi menu favorit banyak orang.

Namun, di balik kesederhanaannya saat ini, nasi kuning di Solo menyimpan sejarah panjang yang lekat dengan budaya keraton dan kehidupan bangsawan Jawa.

Di lingkungan Keraton Surakarta, nasi kuning dulunya disajikan sebagai hidangan istimewa bagi kalangan bangsawan.
Di lingkungan Keraton Surakarta, nasi kuning dulunya disajikan sebagai hidangan istimewa bagi kalangan bangsawan. (Sajian Sedap)

Baca juga: Asal-usul Kolak Biji Salak, Takjil Favorit di Solo, Ada Kaitannya dengan Nabi Musa, Terbuat dari Ubi

Asal usul nasi kuning

Nasi kuning sudah dikenal sejak masa kerajaan-kerajaan Jawa.

Warna kuning yang dihasilkan dari kunyit bukan sekadar pemanis visual, melainkan memiliki makna filosofis.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, warna kuning melambangkan kemakmuran, kejayaan, dan kesejahteraan.

Karena makna inilah, nasi kuning kerap dihadirkan dalam upacara penting, selamatan, dan perayaan sakral.

Di lingkungan Keraton Surakarta, nasi kuning dulunya disajikan sebagai hidangan istimewa bagi kalangan bangsawan.

Proses pembuatannya pun tidak sembarangan. Beras pilihan dimasak dengan santan, kunyit, dan rempah-rempah tertentu, menghasilkan aroma harum serta rasa gurih yang khas.

Lauk pendampingnya pun mencerminkan status sosial, seperti ayam ingkung, telur, kering tempe, dan sambal khusus.

Hidangan eksklusif kaum Bangsawan

Pada masa lalu, tidak semua masyarakat bisa menikmati nasi kuning.

Hidangan ini identik dengan acara resmi keraton, perayaan kelahiran, pernikahan bangsawan, hingga ritual adat tertentu. 

Penyajiannya sering dibentuk menyerupai tumpeng kecil sebagai simbol hubungan manusia dengan Tuhan dan harapan akan kehidupan yang makmur.

Keistimewaan nasi kuning terletak pada maknanya, bukan hanya rasanya.

Karena itu, masyarakat biasa umumnya hanya bisa menikmati nasi putih dalam keseharian, sementara nasi kuning menjadi simbol kemewahan dan doa baik.

Perubahan zaman dan turunnya sekat sosial

Seiring berjalannya waktu dan memudarnya sekat sosial antara bangsawan dan rakyat, nasi kuning mulai keluar dari tembok keraton.

Resep yang dulunya eksklusif perlahan dikenal masyarakat luas.

Pedagang-pedagang rumahan mulai menjual nasi kuning dengan lauk yang lebih sederhana, menyesuaikan kemampuan ekonomi masyarakat.

Di Solo, nasi kuning kemudian berkembang menjadi makanan rakyat yang merakyat.

Meski bahan dan lauknya lebih sederhana, cita rasa gurih dan aromanya tetap dipertahankan.

Inilah yang membuat nasi kuning mudah diterima oleh semua kalangan.

Dari hidangan Keraton menjadi menu sarapan

Kini, nasi kuning di Solo identik dengan menu sarapan pagi.

Penjual nasi kuning biasanya mulai berjualan sejak subuh dan kerap habis sebelum siang.

Lauk pendampingnya pun semakin beragam, mulai dari telur dadar, suwiran ayam, tempe orek, hingga sambal pedas yang menggugah selera.

Praktis, mengenyangkan, dan penuh rasa membuat nasi kuning menjadi pilihan favorit untuk memulai hari.

Tanpa disadari, masyarakat Solo yang menyantap nasi kuning setiap pagi sebenarnya sedang melestarikan warisan kuliner yang dulunya hanya dinikmati kalangan bangsawan.

Warisan budaya yang tetap hidup

Perjalanan nasi kuning di Solo mencerminkan perubahan sosial dan budaya masyarakat Jawa.

Dari simbol kemewahan dan doa dalam lingkungan keraton, kini nasi kuning menjelma menjadi makanan sederhana yang menyatukan semua lapisan masyarakat.

Meski statusnya telah berubah, makna nasi kuning sebagai lambang harapan, kesejahteraan, dan kebahagiaan tetap melekat.

Inilah yang membuat nasi kuning tidak sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas dan sejarah kuliner Kota Solo.

(TribunStyle.com/Ika Bramasti).

Ikuti dan Bergabung di Saluran Threads TribunStyle.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.