Kakek 76 Tahun Gunakan Gim sebagai Sarana Menjalin Hubungan Keluarga
January 20, 2026 08:44 PM

Kisah Kakek 76 Tahun yang Memanfaatkan Gim untuk Tetap Terhubung dengan Keluarga.

Tribunnewsmaker - Di usia 76 tahun, banyak orang membayangkan masa pensiun sebagai waktu untuk bersantai menikmati makanan tanpa terburu-buru, membaca koran, atau bepergian untuk berlibur. Namun, gambaran itu sama sekali tidak berlaku bagi Jimmy Tang.

Baca juga: Bocah Meninggal Dunia Usai Menirukan Adegan Serial Squid Game

Jimmy Tang (kanan), 76 tahun, belajar bermain Counter-Strike 2 dan telah merasakan manfaat kesehatan sejak saat itu - sekarang dia berharap dapat mengajari para lansia lainnya bersama pelatih Esports Academy, Lester Tan. (AsiaOne/Lau Han An)

Berikut kakek 76 tahun main gim

Alih-alih duduk santai di rumah, Jimmy justru lebih sering ditemukan di warnet. Dengan tangannya yang masih cekatan, ia menggerakkan mouse di atas alasnya sambil bermain gim tembak-menembak secara daring, menantang lawan dari berbagai tempat.

Bagi Jimmy, bermain gim bukan sekadar hobi untuk mengisi waktu luang. Aktivitas ini justru menjadi cara penting baginya untuk membangun dan menjaga kedekatan dengan keluarga, terutama dengan anak dan cucunya. Hal itu ia sampaikan kepada AsiaOne pada Sabtu, 10 Januari 2026.

Menurut Jimmy, memiliki hobi yang sama adalah kunci untuk membangun hubungan yang kuat. Ia percaya bahwa tanpa kesamaan minat, akan sulit menciptakan ikatan yang erat. Bahkan, ia menilai bahwa keluarga yang tidak memiliki hobi bersama bisa menghadapi masalah dalam menjalin kedekatan emosional.

Jimmy, yang merupakan pensiunan perwira militer, kini dikenal sebagai pemimpin tim Counter-Strike 2 bernama Squad2X2. Tim ini terdiri dari empat orang lansia dengan rentang usia antara 64 hingga 76 tahun. Meski demikian, Counter-Strike 2 bukan satu-satunya gim yang ia mainkan. Di waktu senggang, Jimmy juga menikmati gim populer bertema mitologi Tiongkok, Black Myth: Wukong, serta beberapa seri gim Street Fighter.

Kedekatannya dengan cucu-cucu semakin terasa melalui dunia gim. Jimmy mengungkapkan bahwa setiap kali ia mengalami kesulitan saat bermain atau menghadapi masalah teknis, ia akan menghubungi cucu-cucunya. Mereka dengan senang hati datang untuk membantu, mulai dari mengatur konsol hingga menjelaskan cara bermain. Dari situlah, hubungan mereka semakin erat karena berbagi hobi yang sama.

Namun, kesamaan hobi bukan satu-satunya hal yang menjembatani perbedaan usia di antara mereka. Jimmy juga menyoroti dinamika umum hubungan antara orang tua atau kakek-nenek dengan cucu, yang sering kali diwarnai nasihat atau sikap meremehkan kemampuan generasi muda. Lewat gim, peran itu justru terbalik.

Dalam dunia gim, Jimmy tidak ragu menjadi “murid”, sementara cucu-cucunya berperan sebagai “guru”. Mereka membantunya memahami pengaturan komputer, memasang gim, dan mempelajari fitur-fitur baru. Menurut Jimmy, ketika ia menunjukkan keinginan untuk belajar sesuatu yang baru, cucu-cucunya justru merasa senang dan bersemangat untuk menemaninya.

Ketertarikan Jimmy terhadap teknologi sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi, rasa ingin tahunya selalu besar. Ia mengenang bagaimana pada era 1980-an, ketika komputer Apple pertama kali diperkenalkan secara komersial, ia tertarik untuk memahami apa sebenarnya fungsi dan kegunaan komputer.

Ia juga bercerita tentang kunjungannya ke Menara Sim Lim pada masa itu, di mana ia datang dengan persiapan setelah terlebih dahulu melakukan riset. Bahkan, Jimmy sempat mencoba mempelajari Microsoft Excel versi pertama yang dirilis pada tahun 1985. Hingga kini, semangat belajarnya tidak pudar baru-baru ini ia bahkan mengikuti kursus merakit komputer.

Ketertarikannya pada teknologi inilah yang akhirnya membawanya ke dunia esports. Namun, langkah tersebut tidak lepas dari peran Lien Foundation, yang mengundangnya untuk mengikuti kursus esports khusus lansia. Awalnya, Jimmy ragu, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk menerima tantangan tersebut.

“Kenapa tidak?” katanya. Apalagi, program tersebut diberikan secara gratis sesuatu yang ia sambut dengan tawa.

Keluarganya pun menyambut positif keterlibatan Jimmy dalam program tersebut. Mereka senang melihatnya tetap aktif, mempelajari hal-hal baru, dan tidak hanya menghabiskan waktu di rumah. Dengan nada bercanda, Jimmy bahkan menyindir stereotip kehidupan pensiunan yang hanya diisi dengan bangun tidur, membaca koran, dan makan di kedai kopi.

Ia mendorong para lansia untuk terus belajar dan mencoba hal baru. Menurutnya, banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan, termasuk melalui dana pengembangan keterampilan seperti SkillsFuture, untuk mempelajari berbagai hal mulai dari hidroponik hingga membuat roti.

Jimmy juga menekankan manfaat bermain gim bagi kesehatan mental. Menurutnya, bermain Counter-Strike 2 membantu menjaga ketajaman pikiran dan melatih kemampuan mengambil keputusan dengan cepat. Gim tersebut membutuhkan koordinasi antara mata dan tangan, serta respons cepat dalam situasi yang terus berubah.

Selain manfaat mental, bermain gim juga memperluas lingkaran pertemanannya. Jimmy menceritakan bahwa setiap Senin dan Kamis, ia bermain secara daring sambil berkomunikasi melalui Discord. Dari sana, ia menjalin pertemanan dengan para pemain senior dari Malaysia dan bahkan dari Swedia, yang sudah bermain bersamanya selama dua tahun terakhir.

Melalui gim, Jimmy merasa telah membangun komunitas pertemanan yang tidak hanya terbatas di lingkungan sekitar, tetapi juga lintas negara.

Tak berhenti di situ, Jimmy kini berusaha membagikan kegembiraan bermain gim kepada lebih banyak lansia. Dengan dukungan dari Singapore Cybersports & Online Gaming Association (SCOGA), ia mulai membangun komunitas esports untuk para senior. Ia meminjam laptop dari kenalan di asosiasi tersebut dan mengajarkan teman-temannya cara menggunakan perangkat serta bermain Counter-Strike 2.

Kini, Jimmy aktif mengajar dan bermain bersama para lansia lainnya di Bishan Esports Hub yang baru dibuka hub esports pertama di Singapura yang secara khusus ditujukan bagi kalangan senior. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi antara Bishan East–Sin Ming Beautiful People Taskforce, Lien Foundation, dan SCOGA. Di dalamnya tersedia komputer gaming dan konsol Nintendo Switch yang dirancang ramah bagi lansia, serta berbagai program pelatihan.

Hub tersebut juga menawarkan sesi exergaming, yaitu aktivitas yang menggabungkan permainan dengan gerakan fisik, dipandu oleh pelatih dari Esports Academy.

Berbicara tentang harapannya, Jimmy mengatakan bahwa bermain gim bisa menjadi alternatif hobi bagi para lansia yang tidak mampu mengikuti aktivitas fisik yang berat. Menurutnya, gim dapat menjadi cara menyenangkan untuk tetap aktif dan terhubung dengan orang lain.

Dengan senyum, ia mengajak para lansia untuk tidak ragu mencoba. Bahkan, ia sempat bercanda bahwa bermain gim seperti Counter-Strike 2 mungkin saja membantu proses pemulihan pasien lansia di rumah sakit.

“Kalau mereka bisa main gim, mungkin bisa lebih cepat pulih dan pulang,” ujarnya sambil tertawa.

Tribunnewsmaker | Asiaone.com | Aleyda Salsa Sabillawati

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.