BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (DKUP) Kabupaten Bangka Barat memastikan pasokan gas LPG 3 kilogram akan kembali normal dalam dua hari ke depan. Kepastian tersebut disampaikan setelah pihaknya melakukan pemantauan langsung ke sejumlah agen dan pangkalan LPG 3 kilogram di wilayah Bangka Barat.
Kepala DKUP Bangka Barat, Miwani, mengakui kelangkaan gas LPG 3 kilogram, terjadi disejumlah kecamatan di Bangka Barat, karena sejumlah faktor.
"Kelangkaan gas LPG 3 kilogram, yang mencuat itu di Kecamatan Tempilang, Mentok dan Simpang Teritip. Kondisi itu terjadi karena memang dari SPBE ada angkutan mereka dan stasiun pengisian juga, kapal pengangkutan mengalami rusak kemarin, kurang lebih satu Mingguan," kata Miwani kepada Bangkapos.com, Selasa (20/1/2026) di Mentok.
Dia menyebutkan pihaknya telah menginventarisasi data dan memastikan stasiun pengisian di Kecamatan Kelapa saat ini sudah beroperasi normal.
Ia optimistis dalam dua hari ke depan distribusi gas LPG 3 kilogram akan sepenuhnya normal, seiring hasil pemantauan langsung di lapangan serta laporan yang diterima melalui grup komunikasi internal.
"Insya Allah dua hari ini, karena hari ini antrean sudah berjalan normal kembali dan kami sudah melakukan pantauan di lapangan dan WA grup. Kami juga telah menginventalisir data. Bahwa, stasiun pengisian di Kelapa sudah berjalan dengan normal, dari sebelumnya untuk doping gas di wilayah Babar, agen itu mengisi ke Pangkappinang," katanya.
Ia menyampaikan, pihaknya pada hari ini, telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di dua titik pangkalan dengan mengambil sampel penjualan.
Dari hasil sidak tersebut, ditemukan adanya pangkalan yang menjual gas LPG 3 kilogram di atas harga eceran tertinggi (HET), yang seharusnya Rp 18.200 per tabung namun dijual seharga Rp 20.000 per tabung.
"Kami hari ini sidak kami lakukan di dua titik ambil sempel. Ada pangkalan jual di atas HET Seharusnya dijual di Rp 18.200 per tabung, dilakukan penjualan Rp 20.000 per tabung. Kami akan sampaikan ke agen, agar dilakukan pembinaan pangkalan yang menjual di atas HET itu," katanya.
Selain itu, ia mengatakan, pihaknya juga melakukan penimbangan terhadap tabung gas LPG 3 kilogram di dua pangkalan sebagai sampel.
Dari hasil penimbangan, berat tabung kosong sekitar 5 kilogram dengan isi gas 3 kilogram, sehingga total berat mencapai 8 kilogram dan tidak ditemukan adanya selisih timbangan.
"Isi berat tabung 5 kilogram, kemudian isinya 3 kilogram, tadi kami timbang dua titik pangkalan timbangan 8 kilogram tidak ada selisih timbangan. Ini tentunya akan kami lakukan sidak secara berkala," lanjutnya.
Ia menyebutkan, secara umum, masih menemukan di lapangan adanya toko eceran yang menjual gas bersubsidi tersebut dengan harga jauh lebih tinggi di atas HET, berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per tabung.
"Temui di lapangan toko eceran ada menjaul Rp 30-35 ribu per tabungnya. Memang untuk eceran bukan kewenangan kami. Tetapi kami sampaikan ke pangkalan. Pangkalan menjadi kunci, jangan menjual ke pengerit dan toko eceran," lanjutnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)