DP3A Bandung Tekankan Pencegahan Perundungan, Kasus PDBK di Sekolah Belum Dilaporkan
January 20, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kasus dugaan perundungan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SMPN 40 Bandung masih dalam proses asesmen. 

Hingga kini laporan resmi terkait kasus tersebut belum diterima oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Bandung.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung, Uum Sumiati, mengatakan pihaknya telah melakukan pengecekan awal untuk memastikan perkembangan penanganan kasus tersebut.

“Barusan kami cek ke UPTD PPA, informasi sementara belum masuk laporannya. Mungkin masih diselesaikan di Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) Dinas Pendidikan,” kata Uum, kepada Tribunjabar.id, Selasa (20/1/2026). 

Uum menjelaskan, DP3A Kota Bandung selama ini terus mendorong upaya pencegahan perundungan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.

Upaya tersebut dilakukan melalui sejumlah program yang menyasar peserta didik, tenaga pendidik, hingga orang tua.

Baca juga: Dugaan Perundungan di SMP Negeri 40 Bandung, Kepala Sekolah Sebut Korban Tak Pernah Dikeluarkan

“Kalau ke sekolah, melalui program Senandung Perdana dan Sekolah Ramah Anak sudah kita lakukan,” ujarnya.

Tak hanya menyasar sekolah, DP3A juga menggencarkan kampanye anti-perundungan ke tingkat masyarakat. 

Program tersebut dijalankan secara bertahap di seluruh wilayah Kota Bandung.

“Termasuk ke masyarakat di 30 kecamatan,” kata Uum. 

Berhenti Sekolah

Sebelumnya mencuat dugaan perundungan terhadap PDBK di sekolah hingga menyebabkan korban enggan meneruskan sekolah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). 

Sontak hal ini mendapat sorotan dari Wali Kota Bandung Muhammad Farhan.

Dalam  unggahan di media sosial pribadi Farhan, ibu dari siswa bersangkutan mengungkapkan bahwa anaknya tidak melanjutkan sekolah karena mengalami trauma akibat perundungan yang dialami.

Baca juga: Persib Dipuja-puji Media Prancis, Klub Tepat Destinasi Pemain Eropa dan Punya Suporter Fanatik

Trauma itu tidak hanya dirasakan sang anak, tetapi juga oleh dirinya sebagai orang tua, sehingga memutuskan tidak kembali menyekolahkan anaknya.

“Putus, Pak, karena sering dibully. Artikulasi kurang jelas. Anaknya juga enggak mau sekolah,” ujar sang ibu dalam percakapan yang diunggah Farhan, dikutip Selasa (20/1/2026).

Menanggapi hal itu, Farhan meminta dinas terkait untuk melakukan pemantauan terhadap kondisi keluarga tersebut.

“Ibu ini punya tiga anak. Ketiganya disabilitas, coba dipantau,” kata Farhan.

Dari tiga anak tersebut, satu anak dengan down syndrome telah menyelesaikan pendidikan di SMA luar biasa (LB). Sementara satu anak lainnya tidak bersekolah.

Farhan meminta agar dilakukan asesmen menyeluruh terhadap keluarga tersebut, termasuk memastikan seluruh bentuk bantuan yang memungkinkan dapat diberikan.

“Minta di-assesment, lalu dipastikan semua yang bisa kita bantu, dibantu,” ujarnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.