Pelayanan Gereja Loloskan Teknisi Ini dari Tragedi Pesawat ATR di Bulusaraung, Iman Luputkan Maut
January 20, 2026 09:33 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Di balik duka mendalam tragedi jatuhnya pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026), terselip kisah yang mengguncang perasaan.

Sebuah keputusan sederhana, namun sarat makna iman, membuat seorang teknisi bernama Franky D Tanamal luput dari maut.

Nama Franky sempat tercantum dalam daftar manifes penerbangan nahas itu. 

Baca juga: Kepala Pesawat ATR 42-500 Ditemukan Tim SAR, Begini Bentuknya

Franky dijadwalkan ikut terbang bersama kru lainnya.

Namun, takdir berkata lain. Franky memilih mengajukan izin untuk tidak berangkat karena harus menjalani panggilan pelayanan gereja—sebuah panggilan yang tak sanggup ia tinggalkan.

Keputusan itu menjadi garis pemisah antara hidup dan kematian.

Kisah tersebut mencuat ke publik melalui unggahan akun Facebook Gemilang Jaya Ban, milik Rumoton Sitanggang, sahabat dekat Franky.

Dengan nada haru dan penuh rasa syukur, Rumoton menuliskan bagaimana temannya luput dari kecelakaan yang merenggut banyak nyawa.

“Kebetulan teknisinya teman saya yang luput dari musibah ini,” tulis Rumoton.

Kalimat singkatnya sarat kelegaan sekaligus kepedihan dan penuh makna.

Menurut Rumoton, Franky sudah siap berangkat dan namanya resmi tercatat dalam manifes.

Namun, pada saat-saat terakhir, ia menghadap komandan penerbangan untuk meminta izin tidak ikut terbang karena tugas pelayanan di gereja.

“Karena ada pelayanan di gereja saat itu. Yang pasti pesawat layak terbang. Ini murni musibah,” tulis Rumoton, mengutip penjelasan langsung dari Franky.

Pernyataan itu sekaligus menepis spekulasi awal.

Baca juga: Sebelum Pesawat Jatuh, Hariadi Sempatkan Diri Video Call Dengan Istrinya

Sebagai teknisi, Franky disebut sudah memastikan kondisi pesawat dalam keadaan laik terbang sebelum keberangkatan.

Tragedi tersebut dipandang sebagai kecelakaan yang tak dapat diprediksi, bukan akibat kelalaian teknis.

Unggahan Rumoton kemudian berubah menjadi doa dan kesaksian iman.

Ia menuliskan rasa syukur karena Tuhan, menurut keyakinannya, masih memberikan kesempatan hidup bagi sahabatnya—tepat saat mereka memilih untuk melayani umat.

“Puji Tuhan atas segala kemurahannya. Sobatku luput dari musibah ini. Kami sama-sama melayani umat Tuhan untuk beribadah pagi ini. Cara Tuhan memang tak terselami,” tulisnya.

Kalimat-kalimat itu menyebar luas, menggugah empati publik.

Banyak warganet menyebut kisah Franky sebagai pengingat rapuhnya hidup dan misteri jalan takdir.

Di tengah kisah haru tersebut, fakta lain turut mencuat.

Direktur Utama PT Indonesia Air Transport (IAT), Tri Adi Wibowo, mengonfirmasi adanya perbedaan data manifes dengan kru yang benar-benar berada di dalam pesawat saat kecelakaan.

“Kru yang on-board ada tujuh orang, bukan delapan seperti yang tercantum dalam Passenger Manifest,” ujar Tri dalam konferensi pers di Gedung Mina Bahari IV, KKP, Jakarta.

Tujuh kru tersebut adalah Andi Dahananto, Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Hariadi, Florencia Lolita dan Esther Aprilita.

Sementara ketiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Masing-masing Ferry Irawan dengan pangkat penata muda tingkat I dan jabatan analis kapal pengawas.

Selanjutnya, Deden Mulyana dengan pangkat penata muda tingkat I dengan jabatan pengelola barang milik negara dan Yoga Naufal dengan jabatannya operator foto udara.

Sementara beberapa nama lain—termasuk Franky D Tanamal—tercantum di manifes namun tidak berada di dalam pesawat saat tragedi terjadi.

Antara Duka dan Keajaiban Hidup

Sementara tim SAR gabungan masih berjibaku di medan terjal Bulusaraung, mengevakuasi korban di tengah cuaca yang tak bersahabat.

Kisah Franky D Tanamal menjadi potret lain dari tragedi ini—tentang hidup yang diselamatkan oleh keputusan iman, tentang maut yang datang begitu dekat lalu berlalu.

Di saat banyak keluarga menunggu kabar dengan air mata, Franky berdiri sebagai saksi hidup bahwa satu pilihan kecil dapat mengubah segalanya.

Tragedi ini bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga renungan: bahwa di balik bising mesin pesawat dan catatan manifes penerbangan, ada tangan tak terlihat yang bekerja dalam diam—menentukan siapa yang pergi, dan siapa yang masih diberi waktu untuk hidup.

Medan yang terjal, hutan lebat, serta cuaca ekstrem di ketinggian menjadi tantangan utama dalam proses evakuasi.

Duka mendalam terus mengalir, terutama setelah kerabat dari kru lain, seperti Dwi Murdiono dan pramugari Esther Aprilita, mengunggah pesan-pesan terakhir yang kini dianggap sebagai firasat sebelum kejadian.

Pihak otoritas penerbangan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan akan segera memulai investigasi untuk mencari kotak hitam (black box) guna mengungkap penyebab pasti kecelakaan yang merenggut nyawa para patriot pengawas laut Indonesia ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.