Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Komunitas Desember Kopi Gayo menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 600 seniman yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di enam wilayah Aceh.
Yakni di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang.
Kegiatan ini berlangsung selama 30 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026, mengusung semangat Seniman untuk Seniman.
Bantuan diberikan kepada seniman perorangan maupun kelompok, mencakup seniman tradisi dan seniman modern.
Penyaluran dilakukan secara langsung, dari tangan ke tangan dan dari kelompok ke kelompok, sebagai bentuk empati serta penghormatan terhadap martabat seniman penerima.
Koordinator Bantuan Seniman untuk Seniman, Devie Matahari, menyampaikan bahwa bantuan yang disalurkan berupa beras sebanyak 3 ton (kemasan 5 kilogram) dan uang tunai sebesar Rp 27.038.000.
Uang tunai tersebut merupakan hasil penggalangan dana melalui kegiatan “Malam Doa untuk Kemanusiaan Aceh” yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta pada 26 Desember 2025.
Acara penggalangan dana tersebut diinisiasi oleh Bidang Sastra Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI) bersama Komunitas Desember Kopi Gayo.
Dan didukung oleh UP TIM, Jakpro, dan Simpul Seni Dewan Kesenian Jakarta, serta melibatkan 20 komunitas seni dan seniman perorangan dari wilayah Jabodetabek.
Sementara bantuan beras berasal dari The Atjeh Connection Foundation sebanyak 1 ton, serta 2 ton beras dari Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta.
Selain penyaluran bantuan, Desember Kopi Gayo juga menyelenggarakan kegiatan Art Healing bertajuk “Kuet Mi Uyet” yang berlangsung pada Sabtu (10/1/2026), di Asir-Asir Atas, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.
Kegiatan ini menjadi ruang pemulihan batin bagi para seniman Gayo yang terdampak bencana, melalui doa, sastra lisan, musik, puisi, dan seni bertutur.
Founder Desember Kopi Gayo, Fikar W Eda, menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah seremoni atau pertunjukan.
“Ini adalah ruang bersama bagi para seniman korban, relawan, maupun penyimpan duka untuk mengalirkan luka melalui seni,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, para seniman lintas genre duduk melingkar tanpa panggung dan tanpa hierarki, menegaskan makna Kuet Mi Uyet yang berarti kuatlah akar.
Filosofi ini menjadi penegasan bahwa meskipun bencana merusak rumah, kebun, dan sawah, akar kebudayaan, solidaritas, dan nilai kebersamaan masyarakat Gayo tidak boleh tercabut.
Melalui program Penyaluran Bantuan dan Art Healing Seniman untuk Seniman.
Desember Kopi Gayo berharap seni dapat kembali menjalankan perannya sebagai ruang pemulihan, penguat solidaritas, serta penjaga nilai kemanusiaan di tengah bencana. (*)
Baca juga: Relawan Lintas Agama Bersama Bhante Dhirapunno Bantu Korban Longsor di Jamur Konyel Bintang
Baca juga: Status Tanggap Darurat Bencana Berakhir 22 Januari 2026, Begini Tanggapan Jubir Pemkab Aceh Tengah
Baca juga: Satresnarkoba Polres Aceh Tengah Ringkus Petani Asal Bireuen, 7 Kilogram Ganja Disita