TRIBUNNEWSMAKER.COM – Sebelum menjadi korban tragis kecelakaan pesawat ATR 42-500, Florencia Lolita Wibisono sempat menunjukkan perlakuan tak biasa kepada ibunya yang mengundang rasa haru.
Florencia Lolita Wibisono terlihat sangat perhatian dan menitipkan pesan-pesan penuh kasih, seolah menyadari sesuatu yang tak biasa.
Momen ini kini menjadi sorotan publik, bak firasat terakhir sebelum tragedi nahas menimpa dirinya.
Baca juga: Video Terakhir Deden Maulana Korban Pesawat ATR 42-500, Lambaian Tangan Jadi Kenangan Memilukan
Sebelum musibah jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, pramugari Florencia Lolita Wibisono (32) rupanya sempat bertingkah tak biasa di depan ibunya.
Melalui sambungan telepon, wanita yang akrab disapa Olen ini menunjukkan
perhatian yang lebih dalam sesaat sebelum ia menjalankan tugas dinasnya.
Jenazah pramugari yang diduga kuat adalah Florencia ditemukan oleh Tim SAR gabungan di area lereng yang sangat terjal.
Dugaan identitas korban menguat setelah ditemukannya seragam dan name tag yang masih menempel di pakaian sesosok wanita yang terbujur kaku dengan posisi tubuh tersangkut di antara dahan pohon.
Korban ditemukan masih mengenakan seragam ATR 42-500 berwarna hitam, dipadukan dengan celana jins dan sepatu kets hitam.
Saipul Malik dari Tim Arai Sulsel mengungkapkan bahwa papan nama (name tag) pada jasad tersebut masih terlihat sangat jelas dan tidak mengalami kerusakan berarti.
"Ada, nametag-nya masih ada namanya," ucap Saipul.
Meski belum bisa memastikan secara hukum sebelum identifikasi resmi rumah sakit, Saipul menyebut nama yang tertera pada name tag tersebut sangat identik dengan salah satu kru pesawat.
"Seingat saya tertulis Florencia," kata Saipul lagi.
Namun, proses evakuasi jasad korban dari lereng gunung masih menghadapi tantangan berat akibat cuaca ekstrem.
Danrem 142/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan mengonfirmasi bahwa posisi korban berada di medan yang sulit dijangkau di tengah hujan badai.
"Korban masih di lereng. Kita sedang cari (rute evakuasi yang tepat). Karena situasi begini kan gelap, nanti kita usahakan di desa yang paling dekat," ujar Andre.
Keluarga Florencia mengenang momen terakhir mereka melalui layar ponsel.
Tante Olen, Suly Mandang, menceritakan bahwa sebelum berangkat, keponakannya itu sangat perhatian kepada sang ibu yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Terakhir dia video call, baru sekarang ngelihatin mamanya terus. Sebelum dia berangkat dari Yogyakarta ke Makassar itu memberi tahu bahwa akan melakukan perjalanan dinas di situ," kenang Suly.
Selain memohon doa, Olen mengabarkan rencana dinasnya dengan nada yang hangat kepada orang tuanya pada Jumat (16/1).
Suly menyebut keluarga sangat terpukul setelah mendapat informasi dari kakak Olen bahwa adiknya berada di dalam pesawat nahas tersebut.
"Kemarin dapat info pesawat yang dinaiki Olen bahwa hilang. Kakaknya yang menghubungi kami bahwa Olen di pesawat itu," tuturnya.
Berdasarkan data kelaikan medis (MEDEX) dari Kementerian Perhubungan, Florencia sebenarnya dalam kondisi prima sebelum terbang.
Ia memiliki sertifikat kesehatan Kelas 2 dengan hasil pemeriksaan medis terakhir pada Januari 2025 yang dinyatakan fit dan berlaku hingga Januari 2026.
(TriunNewmaker.com/TribunnewsBogor.com)