Dacumesta: Warisan Empat Gampong di Reubee Pidie, Ini Harapan Generasi Muda
January 21, 2026 02:03 AM

Oleh: Muhammad Khaizir*)

Bermula pada tanggal 23 September 1987, sebuah gagasan besar lahir dari empat gampong di Kemukiman Reubee, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie.

Para tokoh dari keempat gampong ini, yaitu Meunasah Daboh, Meunasah Cut, Meunasah Mesjid, dan Meunasah Tanjong, sepakat untuk mendirikan sebuah wadah untuk mempersatukan pemuda, menumbuhkan solidaritas, dan menghadirkan program nyata bagi masyarakat.

Dacumesta, itulah nama yang disepakati dalam forum rapat.

Nama ini merupakan singkatan dari Daboh, Cut, Mesjid, dan Tanjong.

Di balik lahirnya Dacumesta, berdiri sosok-sosok visioner, antara lain, Drs. Ismail A. Janan, Tgk. Tabrani Ahmad,Tgk. Samsul Bahri, serta para keuchik (kepala desa) dari empat gampong tersebut.

Mereka mendapat dukungan penuh dari Haji Sa’id Risjad, abang dari konglomerat Indonesia Ibrahim Risjad, yang membantu dalam pelaksanaan program awal.

Dacumesta lahir dari pemikiran sederhana namun mendalam: menyatukan pemuda empat desa dan menghadirkan manfaat nyata. 

Program pertama yang digagas adalah:

Bantuan alat kematian dan tazhis jenazah (memandikan, mengkafankan, menyalatkan, hingga menguburkan).

Pendidikan agama sebagai fondasi moral dan spiritual generasi muda.

Program ini menjadi simbol kepedulian sosial yang melekat kuat dalam identitas Dacumesta.

Baca juga: Dari Malaysia ke Pidie: Jafar Insya Tak Lupakan Kampung Halaman, Krueng Reubee yang Sarat Sejarah

Reubee yang Istimewa

Untuk gambaran pembaca, Kemukiman Reubee, merupakan satu dari empat kemukiman yang ada di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie. 

Selain Reubee, tiga kemukiman lain di Kecamatan Delima adalah Gampong Aree, Beuah, dan Bambong.

Kemukiman Reubee sendiri merupakan wilayah historis dan memiliki peran penting dalam sejarah Kesultan Aceh Darussalam. 

Dikutip dari Serambinews.com, Pakar Sejarah Aceh yang juga Guru Besar FKIP USK, Prof Dr Husaini Ibrahim MA berpendapat, bahwa Reubee merupakan salah satu daerah istimewa pada masa Kesultanan Aceh Darussalam.

Di Reubee inilah, Iskandar Muda menghabiskan masa remajanya untuk menimba ilmu pengetahuan dan agama pada Tgk Chik Direubee yang bernama asli Maharaja Lela Daeng Mansur.

Ulama besar pada masanya ini merupakan ayahanda dari Putroe Tsani permaisuri dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam.

Di Reubee ini pula, tepatnya di Gampong Meunasah Runtoh, jasad Putroe Tsani (ibunda dari Sultanah Ratu Safiatuddin) dimakamkan.

Makam Putroe Tsani ini, terpaut sekira 5 kilometer dari makam Tgk Chik Direubee yang berada di Meunasah Raya.

Di Reubee terdapat beberapa nama kawasan yang mirip dengan kawasan di Kutaraja yang menjadi pusat Kerajaan Aceh Darussalam.

Seperti Lampoh Pande yang merupakan tempat menuntut ilmu agama dan Jurong Kandang yang menjadi areal pemakaman.

Tidak jauh dari Lampoh Pande, terdapat satu situs peninggalan Kerajaan Aceh, yakni rumah Teungku Raja Husain di Gampong Neulop Reubee.

Lalu di Meunasah Raya Reubee terdapat makam Tgk Chik Direubee yang merupakan ayahanda dari Putroe Tsani.

Dua peninggalan Tgk Chik Direubee, yakni tongkat dan Alquran saat ini masih disimpan oleh salah satu keturunannya, Hamidah yang juga adik dari pengusaha nasional asal Aceh, almarhum H Ibrahim Risyad.

Baca juga: Usai Dikunjungi Irmawan, Dinas PUPR Pidie Mulai Survei Ablasi Krueng Reubee

Kepengurusan yang Terstruktur

Sejak awal, kepengurusan Dacumesta terstruktur dengan jelas. Pada awal bediri, Dacumesta dipimpin oleh Drs. Ismail A. Janan sebagai Ketua Umum, didampingi oleh Tgk. Wajidi Idris di posisi Sekretaris Umum, dan Tgk. Nasir Arafah sebagai Bendahara Umum.

Kepengurusan ini dilengkapi dengan seksi-seksi yang menjalankan berbagai program sosial kemasyarakatan.

Sebagian pengurus awal ini telah berpulang ke Rahmatullah, beberapa di antaranya kini telah berusia sepuh.

Tapi mereka masih memiliki semangat dan harapan, agar bisa melihat Dacumesta, wadah yang mereka dirikan, tetap memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya di empat gampong ini, umumnya di Kabupaten Pidie dan Aceh.

Saat ini, tongkat kepemimpinan berada di tangan Karimudin Ibrahim, yang melanjutkan semangat para pendiri.

Harapan Generasi Muda

Perjalanan Dacumesta tidak berhenti pada semangat para pendiri. 

Generasi muda kini memiliki harapan besar agar organisasi ini tetap relevan dan berdaya.

Di antara harapan yang penulis rangkum dari para pemuda adalah Dacumesta bisa;

Menciptakan program kerja kreatif, relevan, dan berdampak positif bagi anggota serta masyarakat.

Menyatukan pengurus dan anggota, mengesampingkan ego pribadi, dan bekerja sama demi kemajuan bersama.

Mengembangkan omset organisasi, baik di dalam maupun luar daerah, agar Dacumesta tumbuh mandiri dan berdaya.

Identitas & Semangat

Dacumesta bukan sekadar organisasi, melainkan roh kebersamaan empat gampong. 

Identitasnya terpatri dalam bait-bait puisi yang saya beri judul:

Dacumesta, Empat Gampong Satu Jiwa

Daboh bersemi dalam cahaya,  

Cut bersatu menebar bahagia,  

Mesjid teduh tempat berdoa,  

Tanjong gagah menjunjung cita.  

 

Empat gampong satu jiwa,  

Dacumesta wadah mulia,  

Gotong royong jadi pusaka,  

Silaturahmi teguh selamanya.  

 

Reubee bersinar karena bersama,  

Delima harum dengan karya,  

Pidie bangga melihat nyata,  

Aceh jaya berkat Dacumesta.

Puisi ini bukan hanya kata-kata, melainkan cermin semangat: gotong royong, silaturahmi, dan kebersamaan yang menjadi pusaka Dacumesta.

 

*) PENULIS adalah perantau asal Gampong Tanjong Reubee, Pidie. Saat ini menetap di Banda Aceh.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.