Laporan wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.com - Sabtu sore (17/01/2026), gerimis tipis menyelimuti rooftop Mall Solo Square, Kota Solo, Jawa Tengah. Di tengah riuh pengunjung yang lalu-lalang, aroma hangat wedang jamu khas Nusantara perlahan mencuri perhatian.
Wangi rempah itu berasal dari outlet Rempah Jawi, milik Nur Alita Rahmawari, gadis muda yang tekun merawat tradisi lewat racikan jamu.
Dengan gerakan cekatan dan penuh ketelatenan, Alita memadupadankan kunyit, temulawak, jahe merah, kayu manis, kapulaga, dan madu. Hanya dalam hitungan menit, segelas jamu penyehat jantung siap mengalirkan kehangatan ke setiap pelanggan.
“Awal buka bisnis jamu dulu sempat ditertawakan teman. ‘Buka kok di mal, biasanya kan boba, thai tea, minuman manis-manis yang laku’. Akhirnya saya tetap memutuskan jualan jamu di mal, karena di Solo belum ada,” ujar Alita mengawali ceritanya kepada Tribunnews.com.
Alasan lainnya tidak lepas dari pengalaman pribadinya saat sadar betapa pentingnya hidup sehat. Dia juga melihat jamu sebagai warisan budaya yang mulai ditinggalkan, dianggap tidak praktis, dan kurang relevan dengan Gen Z.
“Saya juga ingin mengedukasi hidup sehat bisa dimulai dari kebiasaan sederhana melalui jamu yang berkualitas,” lanjut alumni Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ini.
Singkat cerita, berbekal inspirasi dari resep JSR Ustaz Zaidul Akbar dan racikan sendiri, Alita mantap membuka Rempah Jawi pada Desember 2025 lalu. Di awal, respons masyarakat cukup beragam lantaran masih ada stigma jamu itu pahit.
Namun setelah mencoba, banyak pelanggan justru kaget karena rasanya ringan, tidak pahit dan menyegarkan. Seiring waktu, Rempah Jawi mulai mendapat kepercayaan sebagai minuman jamu kekinian.
Alita menambahkan, dirinya melihat ada peningkatan minat terutama dari anak muda dan kelompok pekerja terhadap jamu, dibarengi kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan secara alami.
“Tren gaya hidup sehat dengan penggunaan herbal di Indonesia juga semakin positif. Masyarakat mulai sadar kesehatan adalah investasi jangka panjang,” imbuh Alita.
Sekarang Rempah Jawi sudah memiliki 24 varian racikan jamu dengan konsep lebih modern dan higienis, yang dibanderol Rp10 ribu hingga Rp18 ribu. Menu best seller di antaranya rempah imun, rempah vitalitas pria, rempah lancar haid, telang latte, hingga rosella latte. Dalam sebulan penjualan bisa tembus 200-500 cup.
Terakhir, Alita mengaku ingin terus berinovasi, memperluas edukasi manfaat rempah, serta ikut melestarikan budaya ‘njamu’ yang relevan mengikuti perkembangan zaman.
Baca juga: Setetes Susu Kambing Etawa Ponpes Sabiluna: Penggerak Ekonomi Mandiri, Penjaga Raga Santri
Pemandangan berbeda tergambar di lapak jamu milik Sudino (50). Berbekal gerobak kecil sederhana di atas motor, menjadi teman setia menjajakan jamu di Jalan Setia Budi, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah.
Sejak fajar menyingsing pukul 06.30 WIB, silih berganti pembeli dari berbagai kalangan usia berdatangan tanpa diundang.
Selain harga yang ramah di kantong hanya Rp5.000 per gelas, jamu milik Sudino juga menawarkan kepraktisan. Pembeli cukup duduk di atas kendaraan, tak perlu turun, dan langsung bisa rasakan kenikmatannya.
Total sudah 13 tahun lamanya Sudino menggantungkan hidup dengan berjualan jamu. Cacian dan makian sempat mewarnai perjuangannya karena dianggap merusak derajat seorang pria gara-gara jualan jamu.
“Keliling kampung, ngeri hinaannya dari orang-orang. Wong lanang kok dodolan jamu, wes nggo sayak wae, ngisin-ngisini (laki-laki kok jualan jamu, sudah pakai pakaian wanita saja, buat malu),” katanya kepada Tribunnews.com, Sabtu pagi (17/01/2026).
Tekad bulat Sudino berjualan jamu tak tergoyahkan. Seiring berjalannya waktu, ia mulai dapat tempat di hati para penggemar jamu di Solo Raya. Bahkan, di tahun 2014, Sudino tidak perlu lagi berkeliling dari kampung ke kampung karena sudah punya tempat mangkal.
Aktivitas Sudino sudah dimulai sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Ia meracik puluhan rempah dan herbal untuk diolah menjadi jamu siap minum. Setiap harinya, ia mampu menjual sekitar 60 liter jamu dengan pendapatan Rp300 ribu - Rp 1 juta.
Saat berjualan, Sudino juga tidak ragu merekomendasikan racikan jamu disesuaikan dengan keluhan pelanggan. Resep itu ia dapatkan dari sang istri yang lebih dulu berjualan jamu.
“Seperti campuran cabe puyang, temulawak, kunir putih itu manjur untuk mengobati capek-capek badan. Kalau batuk itu kunir putih sama daun sirih. Jadi ilmu raciannya itu pepiling (ingatan),” serunya.
Sudino melanjutkan, senada dengan Alita, ia mengakui dari tahun ke tahun tren masyarakat mengonsumsi jamu terus meningkat. Titik lonjakannya saat Covid-19 melanda. Bahkan, rempah sempat menjadi langka karena banyaknya permintaan.
Pascapandemi, menurut Sudino kini aktivitas ‘njamu’ cenderung naik di tengah beralihnya dari konsumsi obat kimia ke bahan-bahan alami.
“Banyak yang pindah jamu daripada minum obat. Ada banyak pelanggan saya yang asam lambung awalnya tiap hari minum obat, terus pindah ke jamu bisa sembuh. Jangan obat kimia terus, sesekali dijamoni (minum jamu),” pesan Sudino.
Baca juga: Bukan Kopi, Kami Memilih ‘One Shot’ Jamu di Malam Minggu
Kepala Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Sahid Teguh Widodo, menjelaskan sejarah panjang jamu di Nusantara.
Ia mengatakan tradisi meracik jamu terpahat di relief Candi Borobudur, yang dibangun oleh Raja Medang Rakal Panangkaran (770 M), dilanjutkan oleh Dinasti Syailendra (880 M), dan diselesaikan oleh Raja Rakal Pikatan serta Raja Pramudhawardhani.
"Artinya jamu sudah ada pada era sebelum abad-abad itu. Oleh karenanya dapat dipastikan Jamu merupakan bagian dari sejarah budaya Jawa," katanya saat ditemui Tribunnews.com, Rabu (31/12/2025).
Prof Sahid melanjutkan, pengetahuan tentang Jamu muncul dari kesadaran bahwa tanaman tidak hanya untuk dimakan. Namun, juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan dan penyembuhan berbagai penyakit.
Lama-kelamaan kebiasaan ini menjadi kearifan Jawa. Di tanah subur Jawa terdapat beraneka ragam tanaman rempah yang dapat diracik untuk kesehatan dan menyembuhkan berbagai penyakit.
Lewat tradisi tutur dari generasi ke generasi, meracik Jamu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa yang kemudian secara luas dikenal dengan istilah jamu, jampi, jejampi, maupun usada.
"Keberagaman ini lahir dari munculnya berbagai macam penyakit manusia. Jadi, pada pokoknya fungsi dasar jamu itu untuk kesehatan, kekuatan, kebugaran, dan untuk menangkal maupun penyembuhan penyakit," urainya.
Bagi Prof Sahid, jamu itu unik. Tidak ada resep yang berlaku umum. Tergantung siapa, keadaan, umur, dan selera dari pemakainya. Jadi ada peran metode "gothak-gathuk sampai mathuk, titen, niteni, ngrasakke, gethok tular, dan rasan-rasan.
Ia juga ikut mengamini tren masyarakat dalam mengonsumsi jamu turut meningkat dari masa ke masa, utama di kaum muda. Tidak menutup kemungkinan jamu bisa dijadikan sebagai identitas nasional Bangsa Indonesia.
"Tren ngopi saya yakin bisa mengubah ke njamu. Kita bisa melihat contoh tradisi minum teh di Jepang. Di Inggris ada tradisi afternoon tea. Di Iran ada tradisi Nabat, minum cairan kental gula batu, juga thai tea di Thailand. Mengapa kita tidak membangun tradisi minum jamu sebagai identitas kultural? Sebagai ritual sosial? Ini pasti mendunia," tutur Prof Sahid.
Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. (Cand.) Dr. Inggrid Tania, M.Si., melihat produk herbal makin digemari generasi muda, terlebih pascapandemi Covid-19.
“Mereka sadar pentingnya gaya hidup sehat. Misalnya menyangkut nutrisi dengan mengutamakan asupan bahan-bahan alami atau yang berasal dari tanaman,” katanya saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (6/1/2026).
Terkait penggunaan produk herbal, lanjut Dr Inggrid, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok.
Baca juga: Ketika Jamu dan Minuman Herbal Menghipnotis Festival Kopi di Swiss
Pertama, masyarakat yang skeptis atau terlalu tidak percaya terhadap herbal, sehingga menjadi tantangan untuk diedukasi bahwa herbal juga aman dan memberikan khasiat. Kedua, ada yang overpercaya terhadap herbal, seakan-akan semua herbal itu pasti aman.
Oleh karenanya, ia memberikan catatan. Dr Inggrid mengimbau masyarakat untuk tetap menjadi konsumen yang cerdas dan kritis, serta tidak langsung percaya pada testimoni dari segelintir orang terkait khasiat produk herbal.
“Seakan-akan semua herbal itu pasti aman. Padahal tidak selalu seperti itu. Penting untuk memperhatikan cara mengonsumsi herbal secara tepat. Bagaimana memilih produk herbal, pastikan sudah berizin dan terdaftar di BPOM,” pungkasnya. (*)