SURYA.CO.ID, LAMONGAN - Cuaca ekstrem yang melanda perairan Laut Jawa berdampak terhadap aktivitas nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan.
Angin kencang, gelombang tinggi, membuat sebagian besar nelayan memilih tidak melaut dalam beberapa waktu terakhir.
Pantauan SURYA.CO.ID di pesisir utara Lamongan, para nelayan untuk sementara menyandarkan perahunya dan mengisi waktu dengan memperbaiki alat tangkap.
Sekretaris Dinas Perikanan Lamongan, Margono Jaya Putra, mengatakan kondisi tersebut terpantau saat pihaknya melakukan peninjauan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong.
Dari hasil konfirmasi langsung kepada nelayan, aktivitas melaut menurun drastis sejak Januari hingga Februari.
Baca juga: Lamongan Diterpa Angin Berputar, Kerusakan 4 Rumah dan Tempat Usaha Bawa Kerugian Rp 145 Juta
“Saat kami turun ke Brondong dan meninjau TPI, kami konfirmasi langsung ke nelayan. Memang sepi, karena banyak nelayan tidak berani melaut akibat angin kencang dan ombak besar,” ujarnya, Selasa (20/1/ 2026)
Dikatakan, faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama nelayan.
Terutama bagi kapal dengan kondisi teknis yang kurang prima, risiko melaut di tengah cuaca ekstrem dinilai sangat tinggi.
“Kalau kapal kondisinya tidak sehat, dikhawatirkan bisa pecah di tengah ombak. Angin di laut juga sangat kencang,” katanya.
Baca juga: Nelayan Lamongan Kesulitan Dapatkan Solar Subsidi, Tak Melaut dan Pilih Sandarkan Perahunya
Margono menambahkan, dalam kondisi cuaca ekstrem tersebut, hanya satu hingga dua kapal yang berani melaut.
Akibatnya, aktivitas di TPI terlihat lengang dan pasokan hasil tangkapan ikan menurun.
Cuaca ekstrem diperkirakan masih berlangsung hingga Februari dengan gelombang laut yang cukup besar.
Meski demikian, produksi perikanan tangkap Kabupaten Lamongan sepanjang 2025 tercatat tetap melampaui target.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Lamongan, realisasi produksi perikanan tangkap mencapai 79.685,22 ton, melebihi target 78.814 ton.
Dengan capaian tersebut, Margono optimistis target produksi perikanan tangkap pada 2026 tetap dapat tercapai.
Namun ia menegaskan capaian produksi tidak bisa dipaksakan karena sangat bergantung pada kondisi alam.
“Namanya target dan realisasi tidak bisa dipaksakan, karena kejadian alam itu tidak bisa diduga,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Ketua Rukun Nelayan (RN) Blimbing, Nur Wakhid.
Dikatakan, seluruh nelayan di wilayahnya memilih libur melaut akibat musim angin barat yang telah berlangsung sejak pertengahan Desember lalu.
“Kondisi angin kencang, ombak besar, dan arus laut deras sudah terjadi sejak pertengahan Desember. Semua nelayan di Blimbing memilih tidak melaut demi keselamatan,” kata Nur Wakhid.
Ia memperkirakan nelayan baru dapat kembali melaut paling cepat pada awal Februari atau pertengahan Februari, menunggu kondisi cuaca laut benar-benar aman.
“Perkiraan paling cepat melaut lagi awal Februari atau pertengahan Februari,” katanya.
Baik Margono dan Nur Wakhid berharap ke depan kondisi cuaca semakin membaik agar aktivitas melaut kembali normal dan hasil tangkapan nelayan meningkat.