TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Operasi pencarian delapan korban Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), dikebut Tim SAR dan TNI-Polri.
Hari ini memasuki hari ke-5 pencarian.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT hilang kontak, Sabtu (17/1/2026).
Penemuan serpihan pesawat ATR 42-500 pertama kali ditemukan di kawasan Gunung Bulusaraung, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur, Sabtu siang.
Selain korban, pencarian juga difokuskan pada bagian penting pesawat, khususnya ekor pesawat dan black box.
Black box atau kotak hitam pesawat adalah perangkat vital berisi Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam data teknis dan percakapan kokpit untuk investigasi kecelakaan,
Meski disebut kotak hitam, warnanya justru oranye terang agar mudah ditemukan, dirancang tahan banting dan suhu ekstrem.
Fungsinya kotak hitam merekam semua parameter penerbangan (kecepatan, ketinggian, bahan bakar) dan dialog pilot, menjadi "saksi bisu" untuk analisis penyebab kecelakaan demi meningkatkan keselamatan penerbangan di masa dep
Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengungkapkan, sejauh ini, tim gabungan masih menyisir area pegunungan demi menemukan komponen vital pesawat tersebut.
“Kita masih berharap tim keenam yang saat ini mencari ekor pesawat itu bisa menemukan hasil," ujar Bangun Nawoko saat ditemui di Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Makassar, Selasa (20/1/2026) malam.
"Sasarannya adalah black box,” jelasnya.
Kendati demikian, Bangun Nawoko mengakui belum ada laporan terbaru dari lapangan terkait penemuan black box maupun bagian penting pesawat lainnya.
“Sampai hari ini saya belum menerima laporan dari tim terkait penemuan bagian penting pesawat,” katanya.
Pencarian dilakukan di medan yang sangat menantang dengan kontur pegunungan terjal, hutan lebat.
Terlebih kondisi cuaca di pegunungan Bulusaraung tidak menentu.
Personel SAR gabungan bahkan harus bermalam di lokasi pencarian guna mengefektifkan operasi dan memperluas jangkauan penyisiran.
Kendati dihadapkan pada kondisi ekstrem, Pangdam XIV/Hasanuddin mengaku optimis delapan korban lainnya segera ditemukan.
Ia menilai keberhasilan tim menemukan dua korban sebelumnya menjadi modal penting dalam upaya lanjutan.
“Mudah-mudahan kondisi korban lainnya juga sama, sehingga tidak terlalu menyulitkan pencarian,” tutur Bangun Nawoko.
Terkait durasi operasi SAR, Pangdam menjelaskan secara prosedural pencarian dilakukan selama tujuh hari.
Namun, TNI siap mengikuti kebijakan dan perintah pimpinan sesuai evaluasi perkembangan di lapangan.
“Secara prosedural biasanya tujuh hari, tetapi untuk kami di TNI adalah atas perintah. Prinsipnya, kami siap mendukung penuh sampai tugas kemanusiaan ini selesai,” tegasnya.
Jenazah Perempuan Tiba Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel
Sejauh ini, satu jenazah korban berjenis kelamin perempuan telah tiba di Post Mortem Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Makassar, Selasa (20/1/2026) pukul 22.38 WITA.
Jenazah ditempatkan di belakang RS Bayangkara Makassar.
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto membenarkan telah menerima satu kantong jenazah.
Jenazah itu sebelumnya diserahkan Basarnas dan kini sedang menjalani pemeriksaan post mortem oleh tim DVI.
“Kami dari Tim DVI Polda Sulsel telah menerima satu kantong mayat dari Basarnas dan saat ini sudah berada di Biddokkes. Sekarang sedang dalam proses pemeriksaan atau identifikasi,” ujar Didik di Kantor Biddokkes Polda Sulsel.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa identitas korban belum dapat diumumkan kepada keluarga.
Meski secara fisik jenazah diketahui berjenis kelamin perempuan, proses identifikasi belum bisa disimpulkan.
“Secara fisik memang perempuan. Tapi karena korban perempuan ada dua, kami belum bisa memastikan identitasnya,” jelasnya.
Menurut Didik, tim DVI saat ini tengah mengumpulkan data post mortem dari jenazah.
Nantinya akan direkonsiliasikan dengan data ante mortem yang sebelumnya telah dikumpulkan dari keluarga korban.
“Kita akan kumpulkan ciri-ciri post mortem, sementara data ante mortem sudah kami kumpulkan. Setelah itu baru dilakukan rekonsiliasi atau pencocokan data. Jika sudah cocok, baru akan kami sampaikan,” katanya.
Ia menegaskan, kecepatan bukan menjadi prioritas utama dalam proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ini.
Ketepatan dan keakuratan data menjadi hal yang paling penting agar tidak terjadi kesalahan fatal.
“Kami tidak boleh salah mengembalikan jenazah kepada keluarga korban. Karena jenazah baru masuk, kami mohon semua pihak bersabar,” tegas Didik.
Hingga saat ini, operasi SAR dan proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 masih terus berlanjut.
Hal ini seiring upaya pencarian korban lainnya serta pengumpulan data pendukung untuk memastikan identitas korban secara resmi. (*)