Renungan Harian Katolik
Rabu 21 Januari 2026
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
PW Santa Agnes, Perawan dan Martir
KESEMPATAN BERBUAT BAIK TAK TERBATAS WAKTU
(1Sam. 17: 32-33.37.40-51; Mzm. 144:1.2.9-10; Mrk. 3:1-6)
Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang? Tetapi mereka itu diam saja." (Mrk. 3:4)
Ajakan berbuat adalah sebuah tuntutan universal bagi setiap orang penghuni dunia fana ini. Fana artinya akan berlalu entah dalam waktu singkat atau pun lama. Waktu untuk berbuat baik adalah waktu rahmat bagi siapa pun yang mau memanfaatkannya.
Yesus memberi contoh untuk berbuat baik tanpa batas waktu, aturan atau pun hukum. Kemauan untuk berbuat kasih tidak diprogramkan atau pun diatur oleh otoritas tertentu.
Berbuat baik, beramal kasih sifafnya universal, namun dilakukan setiap pribadi tanpa paksaan.
Waktu untuk mempraktekannya pun tak dibatasi, kapan pun bisa kita lakukan sesuai sikon setiap individu, kelompok atau komunitas.
Ketika Yesus berbuat baik, dengan menyembuhkan orang pada hari Sabat, para Farisi marah dan mempersalahkan Dia karena Ia melakukannya pada hari Sabat.
Waktu Yesus bertanya sekedar konfirmasi kapan waktu yang cocok untuk berbuat baik, para Farisi berdiam saja.
Artinya mereka tak punya landasan pertimbangan yang kuat melarang siapa pun untuk berbuat baik pada hari Sabat.
Berbuat baik adalah perintah Ilahi dari Tuhan bagi setiap orang untuk melakukannya kapan pun Anda mau melakukannya. Santo Paulus, Rasul, mengajak kita untuk tidak jemu berbuat baik dan berdoa.
Berbuat baik, menghadirkan rahmat yang luar biasa dalam hidup. Maka iblis berjuang ekstra bagi manusia tak beriman untuk tidak berbuat baik, dengan seribu satu alasan. Mari berbuat baik, tanpa pertimbangan apa pun bagi kepentingan diri sendiri.
Setan telah sukses mendidik manusia agar ia melakukan kebaikan untuk urusan kepentingan diri sendiri: cari nama, prestasi fana, urusan politik, dan aneka kepentingan yang bersifat sementara bukan untuk menggapai sesuatu yang bersifat lestari.
Orang beriman benar, dia melakukan segala sesuatu dengan tujuan tunggal untuk mendapat berkat di saat ini dan keselamatan di akhirat kelak.
Orang yang tak beriman, lalu berpura-pura beriman, apa pun yang ia lakukan syarat dengan kepentingan untuk diri sendiri.
Orang beriman mengadalkan Tuhan, apa pun risikonya. Sebab tujuan berbuat baik bersifat kekal. Dan sungguh jarang orang melakukannya dengan hati rela bagi sesamanya yang sedang berkurangan.
Daud mampu mengalahkan Goliat karena tujuan perjuangannya bukan untuk merebut kekuasaan melainkan melayani Tuhan demi kepentingan universal semua manusia. Maka Daud tak pernah gentar dalam melawan kejahatan dari siapa pun yang membelenggu.
Pemazmur menanggapi dalam madah pujiannya, "Ya Allah, aku hendak menyanyikan lagu baru bagi-Mu, dengan gampus sepeluh tali aku hendak bermazmur. Sebab Engkaulah yang memberi keemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!" (Mzm. 144:9-10).
Mengandalkan Dikau ya Tuhan adalah hasrat setiap orang, namun tak semua insan sanggup melakukannya.
Kami terlampau egois, sulit membagi berkat dengan sesama. Kami tidak mampu memberi kesaksian tentang kasih dan kebenaran-Mu seperti Santa Agnes, Perawan dan Martir-Mu. Santa Agnes doakanlah kami selalu.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Rabu/Pekan Biasa II/A/II, 210126)