30 Puisi Melankolis tentang Hujan Pagi, Sunyi yang Menenangkan Hati
January 21, 2026 10:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Hujan di pagi hari sering kali membawa suasana yang berbeda.

Tidak sekadar dingin atau basah, rintiknya kerap menghadirkan keheningan yang membuat pikiran melambat.

Dalam suasana itu, perasaan yang semalam terpendam seolah ikut jatuh bersama hujan.

Bagi sebagian orang, hujan pagi menjadi waktu paling jujur untuk berdialog dengan diri sendiri.

Kesedihan, rindu, lelah, dan harapan bercampur tanpa perlu disembunyikan.

Tidak ada tuntutan untuk selalu cerah, karena pagi pun boleh dimulai dengan mendung.

Melalui 30 puisi melankolis ini, hujan pagi digambarkan sebagai teman yang setia menemani sunyi.

Setiap bait menghadirkan refleksi tentang menerima perasaan, berdamai dengan keadaan, dan melanjutkan hari dengan hati yang lebih tenang.

Hujan turun perlahan pagi ini,
membasuh sisa letih yang belum sempat pergi.
Aku diam, mendengar rintiknya
seperti doa yang jatuh tanpa suara.

Pagi basah oleh hujan,
dan aku oleh kenangan.
Keduanya datang tanpa izin,
lalu menetap lebih lama dari rencana.

Di balik jendela, hujan bercerita,
tentang rindu yang tak sempat disampaikan.
Aku mendengarnya dalam diam,
sebab beberapa luka tak butuh jawaban.

Hujan pagi menyapa sunyi,
membuat dunia terasa lebih pelan.
Seakan semesta tahu,
hari ini hati perlu waktu.

Rintik hujan di pagi hari
adalah cara langit menangis diam-diam.
Tanpa teriak, tanpa amarah,
hanya jatuh dan hilang.

Aku mencintai hujan pagi,
karena ia tak memaksa cerah.
Ia mengajarkan,
tak apa merasa sedih sebelum kuat kembali.

Pagi ini hujan turun,
seperti perasaan yang tak selesai semalam.
Masih ada sisa rindu,
masih ada hal yang belum ikhlas.

Hujan dan kopi pagi,
dua hal yang sama-sama pahit.
Namun entah mengapa,
keduanya terasa menenangkan.

Di bawah hujan pagi,
aku belajar menerima.
Bahwa tak semua yang pergi
harus kembali.

Hujan turun tanpa bertanya,
seperti kenangan yang datang tiba-tiba.
Membasahi hati yang sudah retak,
lalu pergi meninggalkan sepi.

Pagi yang hujan ini
terasa seperti jeda.
Waktu berhenti sejenak,
memberi ruang untuk bernapas.

Langit mendung pagi ini,
dan aku pun sama.
Tak semua kesedihan
butuh penjelasan.

Hujan pagi jatuh di atap,
aku terbangun bersama rasa kehilangan.
Beberapa hal memang pergi,
tanpa sempat berpamitan.

Ada damai dalam hujan pagi,
meski dingin menyelinap pelan.
Seperti sedih yang diterima,
bukan dilawan.

Aku menunggu hujan reda,
seperti menunggu hati tenang.
Tak tergesa,
tak memaksa.

Hujan pagi membawa pesan,
bahwa luka juga bisa lembut.
Tak selalu perih,
kadang hanya basah dan diam.

Pagi ini hujan tak kunjung berhenti,
dan aku membiarkannya.
Karena ada hal-hal
yang tak perlu segera selesai.

Rintik hujan mengiringi pagi,
seperti lagu lama yang akrab.
Tak membuat bahagia,
tapi terasa jujur.

Di balik hujan pagi,
aku menemukan diriku yang lelah.
Lalu perlahan belajar,
untuk tidak selalu kuat.

Hujan pagi adalah pelukan,
yang tak terlihat tapi terasa.
Menyentuh hati yang dingin,
tanpa banyak kata.

Aku duduk menatap hujan,
membiarkan pagi berlalu pelan.
Tak semua hari harus berlari,
beberapa cukup dilewati.

Hujan pagi membuatku sadar,
bahwa sedih pun bagian dari hidup.
Ia datang untuk mengingatkan,
bukan menghukum.

Langit kelabu, jalan basah,
dan hati yang sama rapuhnya.
Pagi ini tak cerah,
tapi tetap layak dijalani.

Hujan pagi tak pernah salah waktu,
ia datang saat dunia belum siap.
Seperti kenyataan,
yang melihat tanpa menunggu.

Aku menyukai hujan pagi,
karena ia jujur pada perasaannya.
Tak pura-pura cerah,
tak takut terlihat sedih.

Di antara hujan dan pagi,
aku menemukan keheningan.
Tempat terbaik
untuk berdamai dengan diri sendiri.

Hujan pagi menghapus jejak semalam,
tapi tidak dengan kenangan.
Beberapa hal memang
tak bisa dicuci oleh waktu.

Pagi ini hujan turun pelan,
seolah tahu aku sedang rapuh.
Ia tidak bertanya,
hanya menemani.

Aku belajar dari hujan pagi,
tentang jatuh tanpa suara.
Tentang kuat tanpa pamer,
tentang pergi tanpa dendam.

Saat hujan menyapa pagi,
aku memilih diam dan menerima.
Karena tidak semua hari
harus dimenangkan. (MG Agit Aida Musfiroh)

Baca juga: 10 Puisi tentang Hujan di Yogyakarta, Cocok untuk Caption Foto

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.