TRIBUNJATENG.COM - Kasus pengeroyokan guru oleh para siswa di Tanjung Jabung Timur, Jambi, terus merembet.
Kini sejumlah pihak ikut bicara. Mulai dari siswa, hingga guru yang lain.
Para siswa menjelaskan kronologi veris mereka, demikian pula dengan guru Agus Saputra.
Sejumlah fakta baru pun terungkap.
Baca juga: Penyebab Pengeroyokan Guru Agus Saputra Versi Siswa, Tamparan dan Panggilan Prince
• Resmi Berubah, Daftar Harga Bahan Bakar Minyak BBM Terbaru Rabu 21 Januari 2026, Pertamax Turun
Guru Agus Saputra menyebut bahwa kekerasan oleh oknum siswa tidak hanya menimpanya, tetapi juga dialami guru-guru lain yang memilih bungkam.
Kekecewaan terhadap sikap pasif pihak sekolah mendorong Agus melaporkan tidak hanya para siswa pelaku, tetapi juga kepala sekolah dan jajaran manajemen ke Polda Jambi.
Ia menilai budaya diam demi rasa aman telah membuat kekerasan di lingkungan pendidikan terus dibiarkan terus terjadi.
Agus Saputra menilai, bungkamnya manajemen sekolah dipicu oleh faktor geografis dan posisi para guru yang tinggal di lingkungan sekitar.
Hal ini menciptakan budaya ketakutan yang membuat mereka enggan bersuara meskipun melihat adanya ketidakadilan.
"Mereka mungkin menjaga keamanan atau sebagaimana bentuk dari segala sesuatu yang mereka anggap aman. Mereka menjaga mulut dan telinga mereka agar tidak terlalu seperti saya."
"Saya satu-satunya orang yang di sana terlalu vokal, mungkin dianggap terlalu kritis membentuk karakter mereka menjadi lebih baik," ujar Agus dengan pedih.
Agus Saputra juga menyoroti adanya upaya pengecilan masalah, seolah-olah hanya dia yang menjadi korban tunggal atas kenakalan siswa di wilayah tersebut.
Ia menyebutkan ada perbedaan antara fakta di lapangan dengan apa yang pernah disampaikan saat pemeriksaan di tingkat lokal.
"Contoh kasus waktu itu di BAP di Polsek Berbak, mereka mengatakan hanya saya yang mendapatkan perlakuan buruk dari anak-anak Berbak, tapi sebenarnya semua guru (juga mengalami)," tegasnya lagi.
Bagi Agus, laporan ke Polda Jambi adalah jalan terakhir untuk menuntut keadilan transparan.
Ia tidak ingin lagi ada musyawarah yang hanya menjadi kedok untuk menutupi borok pembiaran kekerasan di lingkungan pendidikan yang kini tengah ia perjuangkan.
Setelah guru Agus Saputra melaporkan kejadian viral pengeroyokan yang terjadi di lingkungan sekolahnya. Kini, siswa yang juga ada dalam video tersebut melapor ke Polda Jambi.
Siswa inisial LF pada Senin (19/1/2026) malam datang ke Polda Jambi didampingi keluarga dan kuasa hukumnya.
Berdasarkan pantauan Tribunjambi.com, siswa dan kuasa hukumnya tiba di Polda Jambi sekitar pukul 20.50 WIB.
Mereka langsung masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) untuk melakukan laporan kasus ini.
"Iya, kita akan laporan dulu," kata Kuasa Hukum, Dian Burlian.
Sebelumnya, Agus Saputra Guru di SMK Negeri Tanjung Jabung Timur juga sudah melapor ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026).
Agus didampingi kakaknya, datang ke Polda Jambi sekitar pukul empat sore dan melakukan pembuatan laporan polisi hampir empat jam.
Kakak kandung Agus, Nasir mengatakan bahwa langkah hukum ini diambil karena adiknya merasa dirugikan terlebih secara mental setelah kasus ini viral di sosial media.
"Kondisi adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore. Adik saya dirugikan secara mental dan sikis terlebih di medsos. Karena kita warga negara kita berhak melapor," kata Nasir pada Kamis (15/1/2026) malam.
Ia mangatakan bahwa pasca kejadian Aus telah melakukan visum. Di mana ada beberapa luka lebam di tubuhnya yang juga akan menjadi bukti untuk pihak kepolisian.
"Sudah ada visum dan ada bekas lebam," ujarnya.
Pasca pengeroyokan oleh sejumlah siswa, guru SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Agus Saputra, untuk sementara waktu tidak menjalankan aktivitas mengajar.
Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi memberikan waktu guru Bahasa Inggris tersebut ruang dan waktu penenangan, sekaligus menjaga kondusivitas proses belajar mengajar di sekolah.
Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan Disdik Provinsi Jambi, Ilham Khalik, menerangkan Agus Saputra tidak mengajar di sekolahnya sejak Rabu (14/1/2026).
"Karena memang kita memaklumi juga. Ini kan trauma nih. Trauma, sakit, kita manusiawi juga," tuturnya via telepon seluler, Senin (19/1/2026).
Terkait cuti, Ilham menjelaskan Agus belum mengajukannya. Hingga kini, pihaknya belum bisa memastikan sampai kapan Agus tidak mengajar.
Pihaknya juga telah menyarankan agar Agus mengambil cuti.
"Maka saya sarankan begini, kalau memang masih sakit, trauma, itu ya silakan diajukan cuti sesuai dengan ketentuan. Kami sudah sarankan itu," jelasnya.
"Tergantung nantilah, lihat situasi, berapa hari dia ngajukan itu. Kalau cuti sakit itu memang ada ketentuannya," lanjutnya.
Perihal keberadaan Agus Saputra, Ilham menerangkan masih berada di Jambi.
"Masih di Jambi dan beliau mau mengajukan cuti atau gimana, saya kurang tahu juga tadi. Bagian kepegawaian yang tahu itu," terangnya.
Disdik Provinsi Jambi akan memeriksa kembali Agus Saputra pada Rabu (21/1/2026).
Pemeriksaan itu rencananya diagendakan pada selasa atau rabu mendatang.
Pemeriksaan itu terkait insiden pertikaian antara Agus dengan siswanya yang viral beberapa hari lalu.
“Besok itu kami minta keterangan, hari Selasa ataupun Rabu ya," katanya.
(*/ Tribun-medan.com)