TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Kamis 22 Januari 2026.
Tema renungan harian Katolik "kerinduan manusia akan kesembuhan".
Renungan harian Katolik untuk hari Kamis Biasa II, Hari ke-5 Pekan Doa Sedunia, Perayaan fakultatif Santo Vinsensius Palloti, Pengaku Iman, Santo Anastasius, Martir, dengan warna liturgi hijau.
Adapun bacaan liturgi Katolik hari Kamis 22 Januari 2026 adalah sebagai berikut:
Baca juga: Bacaan Injil Katolik Kamis 22 Januari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik
"Saul berikhtiar membunuh Daud."
Sesudah Daud mengalahkan Goliat, orang Filistin itu, pasukan-pasukan Israel pulang. Maka di segala kota Israel, keluarlah wanita-wanita menyongsong Raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.”
Maka bangkitlah amarah Saul dengan amat sangat! Perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya, “Kepada Daud mereka perhitungkan berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkan beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itu pun akan jatuh kepadanya.”
Sejak hari itu Saul selalu menaruh dendam kepada Daud. Maka Saul mengatakan kepada Yonatan, anaknya, dan kepada semua pegawai-pegawainya, bahwa Daud harus dibunuh.
Oleh sebab itu, hati-hatilah besok pagi, duduklah di suatu tempat perlindungan dan bersembunyilah di sana. Aku akan keluar dan mendampingi ayahku di padang tempatmu itu.
Lalu Yonatan mengatakan yang baik tentang Daud kepada Saul, ayahnya, katanya, “Janganlah Raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu.
Bukankah apa yang diperbuatnya sangat baik bagimu! Daud telah mempertaruhkan nyawanya dan telah mengalahkan orang Filistin itu, dan karena dia, Tuhan telah memberikan kemenangan besar kepada seluruh Israel.
Tatkala melihatnya, engkau bersukacita karenanya. Mengapa engkau hendak berbuat dosa terhadap orang yang tidak bersalah dengan membunuh Daud tanpa alasan?”
Saul mendengarkan perkataan Yonatan, lalu bersumpah, “Demi Tuhan yang hidup, ia tidak akan dibunuh.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm 56:2-3.9-10a.10b-11.12-13
Ref. Kepada Allah, aku percaya tidak takut.
Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang menginjak-injak aku, sepanjang hari mereka memerangi dan menghimpit aku! Seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari, bahkan banyak orang menyerbu aku dari tempat tinggi.
Tuhan, Engkau tahu akan sengsaraku, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaucatat? Musuhku akan mundur pada waktu aku berseru.
Aku yakin, bahwa Allah berpihak kepadaku. Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Tuhan, yang sabda-Nya kujunjung tinggi.
Kepada-Nya aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadapku? Nazarku kepada-Mu, ya Allah, akan kupenuhi dan kurban syukur akan kupersembahkan kepada-Mu.
Bait Pengantar Injil 2 Timotius 1:10b
Ref. Alleluya
Penebus kita Yesus Kristus telah membinasakan maut dan menerangi hidup dengan Injil
Bacaan Injil Markus 3:7-12
Sekali peristiwa, Yesus menyingkir ke Danau Galilea bersama murid-murid-Nya, dan banyak orang dari Galilea mengikuti Dia. Juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus serta Sidon datanglah banyak orang kepada-Nya.
Sesudah mereka mendengar segala yang dilakukan-Nya. Karena orang banyak itu, Yesus menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya, jangan sampai Dia terhimpit oleh mereka.
Sebab Yesus menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desak ingin dijamah oleh-Nya. Bilamana roh-roh jahat melihat Yesus,
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik
"Kerinduan Manusia Akan Kesembuhan"
Ada satu benang merah yang selalu muncul ketika kita membaca Injil: manusia datang kepada Yesus membawa luka. Ada yang sakit tubuhnya, ada yang lelah jiwanya, ada yang hancur harapannya. Injil hari ini, Markus 3:7–12, menggambarkan Yesus yang dikerumuni orang banyak dari berbagai daerah. Mereka datang bukan karena sensasi, melainkan karena kerinduan untuk dipulihkan.
Dalam renungan Katolik harian ini, kita diajak merenungkan mengapa orang-orang itu berbondong-bondong mencari Yesus, dan apa artinya bagi hidup iman kita hari ini, khususnya di tengah dunia digital yang ramai, cepat, tetapi sering kali sunyi secara batin.
Yesus Menarik Diri, Tetapi Orang Banyak Mengikuti
Injil dimulai dengan catatan bahwa Yesus menyingkir bersama murid-murid-Nya ke tepi danau. Namun orang banyak tetap mengikuti-Nya, bahkan dari wilayah-wilayah jauh: Galilea, Yudea, Yerusalem, Idumea, seberang Yordan, Tirus, dan Sidon.
Ini menunjukkan dua hal penting.
Pertama, kabar tentang Yesus telah menyebar luas. Orang-orang mendengar tentang apa yang Ia perbuat: Ia menyembuhkan, mengajar dengan wibawa, memulihkan yang terpinggirkan.
Kedua, ada kerinduan kolektif dalam hati manusia. Mereka rela berjalan jauh, meninggalkan rutinitas, bahkan mengambil risiko, demi bertemu dengan Dia.
Dalam renungan Injil Markus 3:7–12, kita melihat bahwa iman sering lahir dari kerinduan. Orang tidak datang kepada Yesus karena hidupnya baik-baik saja, tetapi karena ada sesuatu yang tidak utuh.
Yesus yang Dikerumuni, Yesus yang Peduli
Injil mencatat:
“Semua orang yang menderita penyakit berdesak-desakan mengerumuni Dia untuk menjamah-Nya.”
Bayangkan suasananya: kerumunan, debu, teriakan, tangisan, harapan yang bercampur ketakutan. Di tengah semua itu, Yesus tidak menarik diri. Ia tidak menjauh. Ia justru menyiapkan perahu kecil agar tidak terimpit.
Ini detail kecil, tetapi penuh makna. Yesus realistis terhadap keterbatasan-Nya sebagai manusia. Ia menjaga jarak fisik, tetapi tidak pernah menutup hati-Nya.
Dalam renungan iman Katolik, ini mengajarkan bahwa menjaga diri bukan berarti menutup diri. Kita bisa memiliki batas, tanpa kehilangan belas kasih.
Orang Sakit, Roh Jahat, dan Pengakuan Akan Siapa Yesus
Menarik bahwa bukan hanya orang sakit yang datang, tetapi juga mereka yang dirasuki roh jahat. Setiap kali roh-roh itu melihat Yesus, mereka tersungkur dan berteriak:
“Engkaulah Anak Allah.”
Ironis. Yang sering paling cepat mengenali Yesus justru bukan orang yang merasa “saleh”, tetapi mereka yang hidupnya kacau dan terluka.
Dalam renungan Katolik 22 Januari 2026, ini mengingatkan kita bahwa mengenal Yesus bukan sekadar tahu tentang Dia, tetapi berjalan bersama Dia.
Yesus sebagai Pusat Harapan
Mengapa orang-orang datang begitu banyak? Karena di dalam Yesus mereka menemukan apa yang tidak mereka temukan di tempat lain: harapan.
Yesus bukan hanya penyembuh fisik. Ia adalah tanda bahwa Allah tidak jauh. Ia hadir. Ia melihat. Ia peduli.
Di zaman kita, banyak orang mencari kesembuhan dalam berbagai bentuk: pengakuan, pencapaian, hiburan, validasi digital. Tetapi sering kali setelah semuanya itu, hati tetap kosong.
Dalam renungan Injil hari ini, kita diingatkan bahwa hanya Tuhan yang mampu menjangkau akar terdalam luka manusia.
Iman yang Menggerakkan Langkah
Orang-orang itu tidak menunggu Yesus datang ke rumah mereka. Mereka pergi kepada-Nya. Mereka bergerak. Mereka mengambil inisiatif.
Iman tidak pernah pasif. Iman selalu menggerakkan langkah, sekecil apa pun.
Mungkin hari ini kita tidak berjalan puluhan kilometer seperti mereka. Tetapi kita bisa melangkah dengan cara lain:
meluangkan waktu untuk doa, membuka Kitab Suci, datang ke Ekaristi, mencari rekonsiliasi, meminta pertolongan ketika lemah.
Dalam renungan Katolik kaum muda, ini menjadi pesan penting: iman bukan perasaan sesaat, tetapi keputusan untuk terus datang kepada Yesus.
Kerumunan yang Sama, Motif yang Berbeda
Tidak semua orang datang kepada Yesus dengan motivasi yang murni. Ada yang ingin disembuhkan. Ada yang ingin melihat mukjizat. Ada yang mungkin sekadar penasaran.
Yesus tahu itu. Tetapi Ia tidak menolak mereka.
Ini memperlihatkan kelembutan hati Allah. Tuhan tidak menunggu kita menjadi sempurna sebelum mendekat. Ia menerima kita apa adanya, dengan motivasi yang campur aduk.
Namun Injil juga menantang kita untuk memurnikan niat:
Apakah aku mencari Yesus hanya ketika butuh?
Ataukah aku juga ingin mengenal hati-Nya?
Yesus Tidak Pernah Kehabisan Waktu untuk yang Terluka
Kerumunan bisa melelahkan. Tetapi Injil tidak mencatat Yesus mengeluh. Ia tetap hadir.
Dalam hidup sehari-hari, kita mudah lelah menghadapi orang lain. Mudah kesal. Mudah menarik diri. Tetapi Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati selalu bersedia diganggu.
Dalam renungan iman Katolik, ini bukan ajakan untuk membiarkan diri habis, tetapi ajakan untuk membiarkan kasih Allah mengalir melalui kita.
Yesus dan Wajah Gereja
Yesus yang dikerumuni orang sakit juga menggambarkan wajah Gereja yang sejati. Gereja bukan klub orang sempurna, tetapi tempat orang terluka mencari Tuhan.
Jika Gereja menjauh dari yang lemah, maka ia menjauh dari Yesus sendiri.
Dalam konteks proyek “The Katolik”, Injil ini menegaskan bahwa pewartaan digital bukan soal citra religius, tetapi soal menghadirkan Kristus yang dekat, yang menyembuhkan, yang merangkul.
Refleksi Pribadi
Dalam keheningan, renungkan:
Apa yang paling sering membawaku datang kepada Tuhan: cinta atau kebutuhan?
Luka apa yang belum sungguh kuletakkan di hadapan Yesus?
Apakah aku memberi ruang bagi orang lain untuk datang kepada Tuhan melalui sikapku?
Doa Penutup
Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah menolak mereka yang datang kepada-Mu.
Engkau melihat kerinduan, bahkan sebelum kami mampu mengungkapkannya.
Kami datang kepada-Mu hari ini membawa luka, harapan, dan kelemahan kami.
Sentuhlah hati kami. Pulihkanlah apa yang retak.
Dan jadikanlah hidup kami jalan kecil bagi orang lain untuk menemukan-Mu.
Amin. (Sumber the katolik.com/kgg).