BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sebanyak tiga desa di Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, diterjang banjir besar pada awal tahun 2026.
Daerah terdampak banjir tersebut meliputi Desa Lubuk Pabrik dan Desa Lubuk Lingkuk, serta sebagian kawasan Desa Perlang, tepatnya di Dusun Nadi.
Jika dilihat dari letak geografisnya, daerah-daerah tersebut berada di kaki Bukit Pading. Kawasan perbukitan yang membentang di antara Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka Selatan ini memiliki fungsi sebagai benteng ekologis penyangga air.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, masifnya perluasan perkebunan sawit dan aktivitas penambangan di alur sungai diduga telah menggerus fungsi hutan di kawasan tersebut sehingga menyebabkan deforestasi.
Hal itu terlihat dari pantauan Bangkapos.com saat menelusuri kawasan kaki Bukit Pading, khususnya di wilayah Kampung G atau Kampung C 2, Desa Lubuk Pabrik.
Saat berada di lokasi, terlihat hamparan pepohonan yang telah berganti menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.
Ketika diamati dari dekat, banyak deretan pohon sawit memiliki ketinggian kurang dari satu meter, menunjukkan usia tanaman yang masih berkisar satu hingga dua tahun.
Di beberapa sisi, tampak dahan hingga ranting sisa-sisa pohon yang ditebang masih berada di lokasi, seolah menggambarkan bahwa pembukaan lahan tersebut baru saja dilakukan.
Hilangnya pepohonan di area perbukitan akibat perubahan fungsi lahan ini tentu mengurangi daya serap air, sehingga meningkatkan kerentanan banjir di kawasan yang lebih rendah.
Kondisi tersebut turut diperparah oleh dugaan rusaknya alur sungai kecil akibat aktivitas penambangan.
Selain menyebabkan sedimentasi dan pendangkalan sungai, banyak titik aliran air tidak lagi beraturan karena luluh lantaknya jalur sungai.
Terlebih, pada titik banjir terparah, baik di kawasan RT 09 Desa Lubuk Pabrik maupun RT 05 Desa Lubuk Lingkuk, ditemukan bibir sungai yang hampir sejajar dengan permukaan tanah perumahan warga.
Warga RT 09 Desa Lubuk Pabrik, Sulasmi, menyampaikan bahwa banjir di awal tahun 2026 merupakan kejadian paling parah sejak ia tinggal di kawasan tersebut.
Sebagai warga yang menetap di bantaran sungai sejak tahun 1999, ia mengaku genangan air kerap memasuki rumahnya saat hujan lebat, namun sebelumnya hanya dengan ketinggian yang relatif rendah.
“Memang langganan banjir, tapi baru kali ini banjirnya luar biasa. Mungkin hampir dua meter, rumah saja sampai tenggelam,” ujar Sulasmi, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, banjir mulai memasuki pekarangan rumah sejak pukul 04.00 WIB. Ketinggian air terus meningkat hingga siang hari, sebelum akhirnya mulai surut pada sore hari.
“Dari jam empat subuh sudah ada air. Motor sudah tidak bisa keluar, akhirnya diangkat. Setelah itu kami tidak memikirkan rumah lagi, yang penting menyelamatkan diri dulu,” imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa banjir tersebut mengakibatkan sejumlah peralatan elektronik miliknya rusak karena terendam air.
“Kalau yang rusak ada, seperti mixer dan setrika. Setrika itu di dalam lemari, kami tidak menyangka air bisa setinggi itu. Magicom juga rusak,” tuturnya.
Ia berharap adanya pengerukan maupun perbaikan alur sungai di sekitar rumahnya agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
“Kalau sungai ini setahu saya memang alirannya dari atas bukit. Harapannya sungai ini diperbaiki supaya alirannya lancar. Jadi kalau hujan, kami tidak terdampak lagi. Sekarang ini kalau hujan sedikit saja harus waspada dan siap-siap,” tutupnya.
(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)