Petani Babar Tak Tertarik Lagi Tanam Lada Meskipun Harga Tinggi, Lebih Baik Beralih ke Kelapa Sawit
January 21, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Produksi lada putih di Kabupaten Bangka Barat saat ini mengalami penurunan dan membuat harga lada putih menjadi cukup tinggi.

Saat ini harga lada putih terhitung Rabu (21/1/2026) sudah mencapai Rp 142.000 per kilogram berdasarkan data yang ditampilkan dalam web Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Kementerian Perdagangan.

Meski harga lada saat ini terbilang stabil, pada kisaran Rp 125.000-142.000 per kilogram di tingkat petani. Tidak membuat petani di Bangka Barat tertarik kembali menanam lada putih, yang terkenal dengan brand Muntok White Pepper.

Petani di Bangka Barat kini memanfaatkan lahan, untuk berkebun jenis tanaman lain, seperti kelapa sawit. Mereka mengatakan, menanam kelapa sawit saat ini jauh lebih menjanjikan keuntungan.

Lada putih Bangka yang masih melekat di pohon. Foto diambil Minggu (8/12/2024).
Lada putih Bangka yang masih melekat di pohon. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)

Seperti disampaikan, Marman, petani lada yang saat ini telah beralih menjadi petani kelapa sawit asal Desa Pangek, Kecamatan Simpang Teritip.

"Semula saya dulu berkebun lada sampai panen 1,2 ton. Tetapi sekarang tidak lagi. Waktu itu kita jual hanya kisaran Rp 85.000 per kilogramnya,"kata Marman kepada Bangkapos.com, Rabu (21/1/2026).

Walaupun saat ini, dikatakan Marman, harga lada mencapai Rp 142.000 per kg, tak membuatnya berminat beralih kembali menanam lada. Karena tidak sesuai dengan biaya yang tinggi dan resiko gagal panen.

"Harga kita jual tidak sesuai dengan biaya yang kita keluarkan untuk berkebun lada. Seperti  pupuk, perawatan, upah, junjung dan lain-lain. Ditambah resiko gagal panen akibat penyakit kuning yang pernah saya alami," keluhnya.

Dengan persoalan itu, kata Marman, dirinya berpindah berkebun sawit. Karena lebih menguntungkan dan mudah dalam hal perawatan.

Lada Putih Muntok atau White Pepper Muntok
Lada Putih Muntok atau White Pepper Muntok (Kemenkumham Babel)

"Dibandingkan dengan lada, kelapa sawit lebih mudah serta menjanjikan, asalkan perawatan baik, resiko gagal panen tidak mungkin terjadi,"ungkapnya.

Senada disampaikan Juned, petani lada asal Mentok, dirinya juga beralih menanam kelapa sawit, karena dinilai lebih mudah dirawat, dan harga yang relatif stabil dan tidak mengalami penurunan drastis seperti lada. 

Selain itu, sawit juga tidak mudah terserang penyakit. Berbeda dengan lada, yang apabila terserang penyakit kuning dapat menyebabkan gagal panen bahkan tanaman mati.

"Untuk mengembalikan minat masyarakat menanam lada bukanlah hal yang mudah. Petani sudah merasa nyaman dengan kelapa sawit, dan harga lada harus benar-benar menjanjikan agar minat itu tumbuh kembali," katanya.

Dari sisi teknis, dikatakan Juned, lada dan sawit sama-sama berbuah dan ditanam di kebun. Tetapi lada membutuhkan junjung kayu serta perawatan yang lebih rumit. Risiko gagal panen pada lada juga lebih besar, terutama akibat penyakit kuning. 

"Sementara pada kelapa sawit, kendala umumnya hanya terkait pemupukan yang kurang optimal. Masa produktif kelapa sawit juga dapat mencapai 20 tahun, sedangkan tanaman lada bisa mati dalam waktu satu tahun apabila tidak dirawat dengan baik, meskipun sudah mulai berbuah," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bangka Barat Azmal, mengatakan, minat masyarakat Bangka Barat berkurang untuk berkebun lada, karena ada yang lebih menguntungkan yaitu dengan berkebun kelapa sawit.

Tetapi, dikatakan Azmal, pihaknya berusaha untuk mengembalikan kejayaan lada, terutama di Kabupaten Bangka Barat.

Karena telah memiliki Indikasi Geografis (IG) dan brand yang diakui dunia Muntok White Pepper.

"Bupati sangat konsen sekali mengembalikan kejayaan lada, karena itu salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Pemerintah akan menggelontorkan bantuan kepada petani," kata Azmal.

Ia berharap, melalui sejumlah program yang dirancang untuk mendukung kembali kejayaan lada, manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

"Mudah-mudahan dengan beberapa program untuk mendukung kembali kejayaan lada tadi, bisa dimanfaatkan untuk masyarakat Babar ,"harapnya.

Sementara untuk data luas areal produksi dan produktivitas tanaman lada di Bangka Barat 2025 dari DKPP Babar, mencapai total luas 525,34 hektar (Ha) dengan produksi 115.914,63 kg dan produktivitas 706,80 kg. (Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.