Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNNWSDEPOK.COM, BEKASI - Ratusan rumah di Muaragembong, Kabupaten Bekasi, terendam banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum pada Senin (19/1/2026).
Jebolnya tanggul ini berdampak pada 553 Kepala Keluarga di lima kampung yaitu Kampung Bendungan, Kampung Gedung Cinde, Kampung Singkil, Kampung Gedung Bokor, serta Kampung Biyombong.
Pemerintah Kabupaten Bekasi kewalahan menangani masalah jebolnya tanggul Sungai Citarum ini.
Baca juga: Tanggul Sungai Citarum Jebol, Lima Kampung di Muaragembong Terendam Banjir
Oleh karena itu, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi, dr Asep Surya Atmaja meminta bantuan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan perbaikan tanggul jebol di Muaragembong secara permanen.
Menurutnya, persoalan tanggul jebol di Muaragembong kerap terjadi ketika curah hujan tinggi.
“Kalau tanggul jebol di Muara Gembong, kita di kabupaten sifatnya hanya sementara, pasang karung dan beronjong. Tapi tadi BBWS sudah turun ke lapangan. Ke depan, saya ingin solusi permanen,” ujar Asep di Cikarang pada Rabu (21/1/2026).
Asep menerangkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk penanganan tanggul jebol tersebut.
Asep menjelaskan, saat ini BBWS tengah melakukan pendataan dan penanganan terhadap tanggul yang rawan jebol pada sungai yang menjadi kewenangannya.
Meski begitu, ia berharap penguatan tanggul dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Kalau keinginan kita sih semua tanggul yang menjadi kewenangan BBWS yang ada di wilayah kita diperkuat,” jelasnya.
Minta bantuan KDM
Selain itu, Asep juga telah berkomunikasi langsung dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) agar ikut membantu pembangunan tanggul di sejumlah aliran sungai di wilayahnya.
“Saya juga sudah telepon Pak Gubernur, minta bantuannya supaya aliran sungai di Kabupaten Bekasi dibuatkan tanggulnya seperti Kalimalang, pakai sheet pile. Kita akan ajukan itu, karena kalau begini terus solusinya tidak ketemu. Jebol terus dan dampaknya ke banyak daerah,” katanya.
Asep juga menyoroti kondisi sungai di wilayahnya yang banyak mengalami pendangkalan dan bahkan tidak memiliki tanggul. Akibatnya, hujan dengan intensitas ringan selama dua jam saja sudah memicu banjir.
“Sungainya dangkal, ada yang bahkan tidak punya tanggul. Air naik sedikit langsung banjir. Kalau hujan semalaman, pasti penuh,” ungkap Asep.
Ia menegaskan, bakal melakukan solusi jangka panjang dengan melakukan penataan lingkungan.
Persoalan normalisasi sungai menjadi prioritasnya, meskipun harus merelokasi warga yang tinggal di bantaran sungai.
“Masyarakatnya sudah komitmen mau pindah. Saya bilang, kalau tidak ditata, setiap tahun begini terus. Kita keruk, langsung kita bikin tanggul. Alat berat siap masuk,” tegasnya.
Ratusan KK Terdampak
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat sebanyak 533 Kepala Keluarga (KK) di lima kampung terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi pada Senin (19/1/2026) tengah malam.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi Dodi Supriadi mengatakan, luapan Sungai Citarum menyebabkan ratusan kepala keluarga terdampak banjir.
Pemerintah setempat mencatat sebanyak 553 kepala keluarga (KK) terdampak akibat luapan air sungai tersebut.
"Jumlah itu dari lima kampung, ketinggian air mencapai 10 hingga 60 sentimeter,” kata Dodi saat dikonfirmasi pada Selasa (20/1/2026).
Adapun lima kampung terdampak meliputi Kampung Bendungan RT 03/05 dengan jumlah 141 kepala keluarga (KK), Kampung Gedung Cinde RT 01/05 dengan 105 KK yang berada di area tanggul kritis, Kampung Singkil RT 02/06 sebanyak 152 KK, Kampung Gedung Bokor RT 03/03 dengan 30 KK, serta Kampung Biyombong RT 03/06 sebanyak 125 KK.
"Walaupun merendam ratusan rumah warga, kami mencatat tidak terdapat korban jiwa, korban luka, maupun warga yang mengungsi," katanya.
Saat ini warga masih bertahan di rumah masing-masing meski kondisi arus air cukup deras.
Sebagai langkah penanganan darurat, pihaknya telah melakukan koordinasi dan pendataan bersama RT, kepala dusun, serta pihak pemerintah desa.
Selain itu, BPBD juga menyalurkan bantuan logistik ke lokasi terdampak.
"Logistik yang telah kita salurkan antara lain bronjong, karung, terpal, pop mie, air mineral, serta paket sembako untuk membantu kebutuhan warga terdampak banjir," ujarnya.
Pihaknya juga merekomendasikan agar kedepan dilakukan pembangunan turap permanen di sepanjang tanggul Kali Citarum guna mencegah kejadian serupa terulang, khususnya saat debit air sungai meningkat.
"Kami merekomendasikan pembangunan turap permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum untuk mencegah kejadian serupa terulang," ujar Dodi.
Kronologi tanggul jebol
Tanggul Sungai Citarum di Kampung Bendungan, RT 03/05, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi alami jebol pada Senin (19/1/2026) malam.
Jebolnya tanggul menyebabkan air sungai meluap menyebabkan akses jalan terputus dan merendam permukiman warga.
Salah seorang warga, Satibi (45) mengatakan, peristiwa tanggul jebol itu terjadi sekitar pukul 23.50 WIB.
Tanggul jebol setelah debit Sungai Citarum meningkat signifikan akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Tekanan air yang tinggi membuat tanggul tak lagi mampu menahan aliran sungai hingga akhirnya runtuh.
Tak lama setelah tanggul jebol, air langsung mengalir deras ke kawasan permukiman.
“Tanahnya masih gembur. Begitu air naik, langsung terkikis dan air cepat mengalir ke kampung,” kata Satibi, Selasa (20/1/2026).
Sejumlah titik permukiman warga terdampak banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar satu meter.
Akibat tanggul jebol itu juga merendam rumah warga dan memutus akses jalan utama desa.
"Semalam langsung ditangani pakao karung isi tanah sama pasir seadanya aja," katanya.
Firman warga lainnya menyebutkan kejadian tanggul jebol di lokasi serupa sudah dua kali.
Sebelumnya tanggul jebol terjadi pada tahun 2020 di desa yang sama.
"Sekarang beda titik sama tahun 2020, tapi masih satu desa," katanya.
Dia menyebut, proses perbaikan tanggul jebol pada tahun 2020 juga dilakukan hanya sementara, tidak secara permanen.
Untuk itu, ia berharap penanganan tanggul jebol sekarang ini harus dilakukan permanen.
Dia juga meminta pemerintah melakukan pembenahan menyeluruh tanggul sepanjang Sungai Citarum, khususnya di wilayah Muaragembong.
"Ya begini susah juga, waktu itu aja sementara diatasinya. Harus ditangani menyeluruh di sepanjang Citarum," katanya. (MAZ)