SAKSI KATA Puing Doa di Lambung Bukik: Surau Jamiaturrahmah Rata Tanah, Warga Bakal Tarawih di Tenda
January 21, 2026 03:02 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Ada kesunyian yang mencekam saat kaki melangkah di atas hamparan material sedimen di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (20/1/2026).

Di tempat yang seharusnya gema suara anak-anak mengaji terdengar, kini hanya ada deru sisa air sungai yang mengalir di antara celah batu-batu besar dan potongan kayu yang berserakan.

Surau Jamiaturrahmah, sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu pasang surut kehidupan warga, kini benar-benar hilang dari peta pandangan mata.

Banjir bandang akhir November 2025 tidak hanya meruntuhkan dinding-dinding betonnya, tetapi juga menyapu bersih seluruh tapak sejarah yang dibangun sejak tahun 1960 oleh kaum Suku Tanjung tersebut.

Surau ini bukan sekadar bangunan ibadah bagi orang dewasa, melainkan rahim pendidikan bagi generasi muda.

Baca juga: Suporter di Kota Padang Optimistis John Herdman Bawa Timnas Indonesia Berjaya

SURAU HANYUT PADANG: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Saat TribunPadang.com berkunjung Selasa (20/1/2026) terlihat sisa material banjir seperti kayu dan batu masih berserakan.
SURAU HANYUT PADANG: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Saat TribunPadang.com berkunjung Selasa (20/1/2026) terlihat sisa material banjir seperti kayu dan batu masih berserakan. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Sejak tahun 1960-an, dari bentuk kayu hingga berubah permanen, tempat ini adalah rumah bagi MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah).

Di sinilah anak-anak belajar bahwa agama adalah tentang cinta dan kebersamaan.

Asmiraldi, Guru Ngaji di MDTA tersebut, kini harus menyaksikan murid-muridnya belajar di bawah bayang-bayang trauma. Dari 50 anak yang aktif mengaji sebelum bencana, kini hanya tersisa 25 anak.

Sisanya harus mengungsi, menjauh dari ingatan buruk tentang air yang menggulung kampung mereka.

"Anak-anak trauma. Mereka kehilangan tempat bermain, tempat belajar, dan tempat yang mereka anggap rumah kedua," tutur Asmiraldi lirih.

Baca juga: John Herdman Dinilai Lebih Baik dari Patrick Kluivert, Ridwan Berharap Dongkrak Prestasi Timnas

Kini, ia harus memutar otak, mencoba menghadirkan tawa di sela-sela mengaji di rumah warga yang dijadikan posko sementara, agar ketakutan akan gemuruh air tak lagi menghantui tidur murid-muridnya.

Bagi warga setempat, kehilangan ini melampaui urusan material. Kehilangan surau seluas 15×15 meter itu adalah hilangnya pelukan batin yang selama ini menyatukan mereka.

“Rumah kami hanyut, itu pedih. Tapi melihat surau tempat kami bersujud juga hilang tanpa sisa, itu seperti kehilangan pegangan hidup," ujar Dasri Ben, warga yang rumahnya ikut raib ditelan amuk sungai.

Kesedihan itu kian menyayat hati saat kalender mendekati bulan suci. Di Lambung Bukik, ada tradisi luhur bernama "Salat 40"—sebuah ikhtiar batiniah melalui salat berjamaah selama 40 hari tanpa putus yang dimulai sepekan sebelum Ramadan. Surau Jamiaturrahmah adalah jantung dari tradisi ini.

"Biasanya seminggu sebelum Ramadan, kami sudah mulai berbenah, mencuci mukena, dan menyiapkan saf. Sekarang, tempat kami berkumpul itu sudah dibawa air," kata Reni, warga lainnya.

SURAU HANYUT PADANG: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Saat TribunPadang.com berkunjung Selasa (20/1/2026) terlihat sisa material banjir seperti kayu dan batu masih berserakan.
SURAU HANYUT PADANG: Banjir bandang akhir November 2025 lalu menghanyutkan Surau Jamiaturrahmah di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Saat TribunPadang.com berkunjung Selasa (20/1/2026) terlihat sisa material banjir seperti kayu dan batu masih berserakan. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Baca juga: Berpotensi Hujan Ringan Sepekan ke Depan, BMKG: Belum Bisa Pulihkan Krisis Air di Padang

Baginya, ketiadaan surau membuat ritual menyambut bulan suci terasa ada yang tercerabut dari akar sebuah kekosongan spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Bencana November 2025 adalah puncak dari rentetan duka yang sudah dimulai sejak 2012.

Surau itu berkali-kali dihantam air, namun ia selalu teguh berdiri. Namun, tiga gelombang banjir bandang tahun lalu akhirnya merobohkan pertahanannya hingga tak bersisa sedikit pun.

Kini, warga hanya bisa menatap nanar ke arah tumpukan batu yang menimbun bekas fondasi surau.

Untuk tetap menjaga tradisi Salat 40 sebuah rencana darurat disusun mereka akan mendirikan tenda dari terpal di atas tanah kaum Suku Tanjung.

Baca juga: Padang Dilanda Panas Menyengat, BMKG Minangkabau Jelaskan Sejumlah Faktor Penyebab

Sebuah upaya bertahan di tengah keterbatasan agar identitas spiritual mereka tidak ikut hanyut terbawa arus.

Kesedihan kolektif ini adalah potret tentang betapa rapuhnya kaitan antara ruang fisik dan ketenangan batin masyarakat adat.

Harapan warga kini membubung ke langit, sesederhana keinginan agar revitalisasi sungai segera dilakukan.

Mereka tak ingin lagi hidup dalam ketakutan setiap kali hujan turun di hulu sungai.

Mereka ingin kembali beraktivitas dengan tenang, jauh dari ancaman bencana yang sewaktu-waktu bisa merampas sisa-sisa harapan mereka.

Di Lambung Bukik, duka ini masih basah. Namun, di bawah tenda terpal yang akan segera berdiri nanti, warga bertekad untuk tetap menyalakan pelita iman.(*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.