TRIBUNNEWS.COM - Seorang anak perempuan berusia 6 tahun mengalami keajaiban sekaligus kisah pilu dalam kecelakaan dua kereta cepat di Spanyol bagian selatan pada Minggu (18/1/2026) malam lalu.
Surat kabar La Vanguardia melaporkan, gadis tersebut ditemukan oleh seorang petugas Garda Sipil dalam kondisi hampir tidak terluka, berjalan tanpa alas kaki di atas rel.
Gadis kecil yang memiliki nama belakang Zamorano Álvarez itu disebut berhasil keluar dari gerbong kereta lewat jendela yang pecah dan hanya mengalami luka kecil.
Salah seorang kerabatnya mengatakan, ia menerima tiga jahitan di kepalanya, tetapi secara keseluruhan dalam keadaan sehat.
Hanya diketahui informasi usia dan nama belakang, nama depan anak tersebut tidak diungkap oleh Associated Press (AP).
Di tengah kondisinya yang selamat, anak perempuan ini harus menghadapi kenyataan pahit di usia yang begitu belia. Empat orang anggota keluarganya tewas dalam kecelakaan tersebut.
Dikutip dari Daily News, kedua orang tua anak tersebut bersama kakak laki-laki dan saudara sepupunya masuk daftar korban jiwa.
Menurut update terbaru dari media Spanyol El Pais, jumlah korban tewas akibat kecelakaan tersebut tercatat 41 orang, sedangkan 122 orang lainnya terluka.
Per Senin (19/1/2026) malam waktu setempat, 41 orang masih dirawat di rumah sakit, sembilan di antaranya mengalami luka serius.
Perjalanan Keluarga Berakhir Duka
Reuters melaporkan, gadis kecil Zamorano Álvarez tersebut sedang dalam perjalanan pulang ke Aljaraque, Provinsi Huelva bersama keluarganya dari menonton pertunjukan musikal The Lion King di ibu kota Spanyol, Madrid.
Baca juga: UPDATE Kecelakaan Dua Kereta Cepat di Spanyol: Korban Jiwa Capai 40 Orang, 3 Hari Berkabung Nasional
Adapun pertunjukan musikal The Lion King itu merupakan hadiah untuk si gadis kecil dan saudara-saudaranya untuk Hari Epiphany, perayaan di Spanyol yang digelar sebagai puncak rangkaian perayaan Natal.
Selain itu, keluarga Zamorano Álvarez sempat mengunjungi stadion sepak bola markas klub Real Madrid, Bernabeu Stadium.
Sayangnya, perjalanan keluarga yang menyenangkan, berujung tragedi hingga menyebabkan gadis kecil itu menjadi yatim piatu.
Wali Kota Aljaraque, Adrian Cano, menyebut gadis kecil yang selamat dalam kecelakaan ini sebagai, "Sebuah keajaiban."
Ia menuturkan, seluruh kota merasa berduka.
"Kota Aljaraque hancur oleh rasa duka, hampir tidak ada kata-kata penghiburan," kata Adrian Cano.
Sementara itu, pihak berwenang setempat mengungkap, gadis kecil ini sempat dirawat semalaman oleh seorang petugas polisi sebelum dipertemukan kembali dengan neneknya di Cordoba.
Wali Kota Punta Umbria José Carlos Hernández memastikan, gadis tersebut kini diasuh oleh kakek dan neneknya.
Ia juga menyebut apa yang dialami gadis ini sebagai keajaiban.
“Ada banyak orang yang sangat sedih atas para korban kecelakaan mengerikan ini, tetapi ada juga yang selamat, seperti keajaiban gadis kecil yang selamat,” kata José Carlos Hernández kepada wartawan, Selasa (20/1/2026).
Kecelakaan ini melibatkan dua kereta cepat Spanyol yang dioperasikan oleh dua perusahaan yang berbeda, yakni perusahaan swasta Iryo dan perusahaan Renfe yang dikelola negara (kereta cepat Alvia).
Insiden maut ini terjadi di dekat Adamuz, Cordoba, Spanyol bagian selatan atau sekitar 370 kilometer sebelah selatan ibu kota Madrid, pada Minggu (18/1/2026) malam pukul 19.45 waktu setempat.
Lokasinya terbilang terpencil, dan menjadi bagian dari kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Madrid dengan Kota Malaga di Spanyol bagian selatan.
Kecelakaan terjadi ketika bagian belakang kereta yang api yang dioperasikan perusahaan Iryo dan membawa 289 penumpang dalam perjalanan dari Malaga ke Madrid (selatan ke utara) tergelincir, sehingga anjlok dan keluar dari rel.
Sekitar 20 detik kemudian, bagian belakang kereta Iryo yang anjlok tersebut terhantam oleh kereta Alvia milik Renfe yang datang dari arah berlawanan, yaitu dari Madrid ke Huelva.
Akibat tabrakan ini, bagian depan kereta Alvia mengalami dampak paling besar, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente.
Dua gerbong pertama di kereta Alvia rute Madrid-Huelva milik Renfe itu terhantam hingga keluar rel, dan terguling ke jurang sedalam empat meter.
Kecelakaan ini begitu dahsyat, hingga menyebabkan sejumlah korban tewas terlempar dan ditemukan ratusan meter dari lokasi kecelakaan.
Saat kecelakaan terjadi, kereta Iryo melaju dengan kecepatan 210 kilometer per jam, sedangkan kereta Alvia melaju dengan kecepatan 205 kilometer per jam.
Ini artinya, kedua kereta tidak melebihi batas kecepatan.
Akan tetapi, masinis kereta Alvia yang hanya memiliki 20 detik, tidak memiliki jendela waktu yang cukup untuk mengantisipasi anjloknya gerbong belakang kereta Iryo.
Masinis kereta Alvia turut tewas dalam peristiwa ini.
Dilansir El Pais, jika dilihat dengan hukum fisika dasar, kedua kereta api beserta para penumpang mengalami benturan yang setara dengan menabrak tembok dengan kecepatan lebih dari 400 kilometer per jam.
Kecelakaan Paling Mematikan di Spanyol Sejak 2013
Tragedi kecelakaan kereta cepat Iryo dan Alvia ini merupakan kecelakaan kereta api paling mematikan di Spanyol sejak 2013.
Pada 24 Juli 2013, kereta cepat Alvia milik Renfe yang berangkat dari Madrid ke Ferrol tergelincir dengan kecepatan tinggi di tikungan sekitar 4 kilometer di luar stasiun kereta api di Santiago de Compostela, yang terletak di Galicia, wilayah otonomi di barat laut Spanyol.
Dalam kecelakaan yang terjadi hampir 13 tahun lalu itu, tercatat 79 orang tewas.
(Tribunnews.com/Rizki A.)