Peta Sebaran Kasus Leptospirosis di DIY Tahun 2025, Bantul Terbanyak, 227 Kejadian, 12 Korban Jiwa
January 21, 2026 02:01 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus leptospirosis di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sepanjang 2025 tercatat cukup tinggi dan tersebar di hampir seluruh kabupaten/kota, menandakan penyakit zoonosis ini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama saat musim hujan.

Selama 2025, tercatat ada 453 kasus leptospirosis di wilayah DIY.

Sebarannya yakni wilayah Bantul 227 kasus, Sleman 118 kasus, Kulon Progo 49 kasus, Kota Yogyakarta 32 kasus dan Gunungkidul 27 kasus.

Dari total 453 kasus, leptosipirosis merenggut 38 jiwa dengan rincian di Kabupaten Bantul ada 12 korban jiwa, Sleman 11 korban jiwa, Kulon Progo merenggut 6 jiwa, Kota Yogyakarta 8 korban jiwa dan Gunungkidul 1 korban jiwa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Ari Kurniawati, menjelaskan bahwa tingginya kasus leptospirosis di DIY, khususnya di Bantul, tidak lepas dari faktor lingkungan.

Penyebaran penyakit ini banyak terjadi di wilayah persawahan, tempat bakteri Leptospira dari urine tikus dapat terbawa aliran air.

“Kalau di Kota Jogja memang sampai ke permukiman. Karena sawahnya lebih sedikit, maka penularannya bisa terkait higiene dan sanitasi lingkungan, termasuk pengelolaan sampah,” ujar Ari beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, leptospirosis memiliki tingkat keparahan yang beragam.

Pada kondisi ringan, penyakit ini masih dapat ditangani dengan antibiotik. Namun, jika terlambat mendapatkan penanganan dan sudah berkembang menjadi kondisi berat, risiko kematian meningkat.

“Lepto ringan biasanya cukup dengan antibiotik. Tetapi kalau sudah berat dan terlambat ditangani, risikonya kematian,” kata Ari.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan leptospirosis adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala awal penyakit ini.

Banyak pasien baru datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi sudah memburuk.

“Pengenalan penyakit ini sangat penting. Kalau masyarakat sudah sadar, kasus bisa cepat terdeteksi dan tidak terlambat ditangani,” ujarnya.

Ari mencontohkan, seseorang yang mengalami demam setelah beraktivitas di sawah tanpa menggunakan alas kaki perlu mewaspadai kemungkinan leptospirosis.

Kesadaran tersebut dinilai akan membantu petugas kesehatan menemukan dan menangani kasus lebih cepat.

“Kalau masyarakat aware, akan jauh lebih mudah menemukan kasusnya lebih cepat,” imbuhnya.

Dari sisi sistem kesehatan, Ari menilai pelaporan kasus leptospirosis di DIY sudah berjalan cukup baik. Meski demikian, ia mengakui pengendalian vektor penyakit ini masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

“Kita punya sumber daya pemeriksaan leptospirosis yang cukup, tapi PR terbesar adalah pengendalian tikus yang memang tidak mudah,” tuturnya.

Dengan tingginya kasus di Bantul dan masih ditemukannya kasus di wilayah lain, leptospirosis tetap menjadi perhatian serius di DIY.

Upaya pencegahan melalui edukasi, kewaspadaan terhadap gejala dini, serta pengendalian lingkungan dinilai penting untuk menekan risiko penularan dan kematian.

Baca juga: Kabupaten Bantul Catatkan Angka Tertinggi Kasus Leptospirosis di DIY Sepanjang 2025

Peta Sebaran Kasus

Total kasus di DIY selama 2025 sebanyak 453 

  • Bantul: 227 kasus (12 kematian).
  • Sleman: 118 kasus (11 kematian).
  • Kulon Progo: 49 kasus (6 kematian).
  • Kota Yogyakarta: 32 kasus (8 kematian).
  • Gunungkidul: 27 kasus (1 kematian).

Faktor Penularan & Lingkungan

Penyebab utama penularan berkaitan erat dengan bakteri Leptospira dari urine tikus yang terbawa aliran air.
Wilayah Persawahan: Penularan banyak terjadi melalui aliran air yang terkontaminasi.
Wilayah Permukiman (Kota): Penularan terkait erat dengan higiene, sanitasi lingkungan, serta pengelolaan sampah yang buruk.

Gejala Awal & Kesadaran Masyarakat
Salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala dini.

Waspadai Demam: Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam setelah beraktivitas di sawah atau area berisiko tanpa alas kaki.
Deteksi Cepat: Kesadaran masyarakat memudahkan petugas kesehatan dalam menemukan dan menangani kasus sebelum memburuk.

Langkah Pencegahan & Pekerjaan Rumah (PR)
Gunakan Alas Kaki: Hindari kontak langsung dengan air atau tanah yang berisiko terkontaminasi, terutama di sawah.
Pengendalian Vektor: PR terbesar bagi sistem kesehatan saat ini adalah pengendalian populasi tikus yang sulit dilakukan.
Edukasi & Kewaspadaan: Meningkatkan edukasi untuk menekan risiko penularan dan kematian di masa depan.


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.