Terkuak Pesan Terakhir Pramugari ATR 42-500 Esther Aprilita, Minta Maaf ke Ayah
January 21, 2026 03:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Jakarta - Terkuak pesan terakhir yang dikirim oleh pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) bernama Esther Aprilita.

Pesawat tersebut sebelumnya dikabarkan jatuh di Gunung Bulusaraung pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pencarian para korban masih terus dilakukan hingga saat ini. 

Ayah Esther, Adi Saputra, mengenang komunikasi terakhirnya dengan putri sulungnya tersebut pada Jumat malam (16/1/2026), hanya beberapa jam sebelum insiden terjadi.

Adi merasakan ada kejanggalan dalam pesan terakhir yang disampaikan Esther. Sang putri secara tiba-tiba meminta maaf kepada ayahnya, sebuah tindakan yang jarang dilakukan oleh Esther sebelumnya.

"Terakhir komunikasi itu malam Sabtu. Dia minta maaf kalau ada salah. Biasanya nggak begitu," ungkap Adi, dikutip dari TribunnewsBogor, Rabu (21/1/2026). 

Kabar terbaru, tim SAR gabungan berhasil menemukan sejumlah barang pribadi milik Esther Aprilita. Hal ini diungkap oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafii. 

Ia mengungkapkan bahwa tim di lapangan menemukan beberapa benda penting milik Esther di sekitar lokasi jatuhnya pesawat pada pencarian hari ketiga, Senin (19/1/2026).

Penemuan ini menjadi petunjuk penting di tengah proses pencarian korban yang masih berlangsung.

"Tim SAR gabungan menemukan barang milik korban PK-THT, antara lain dompet, KTP, diary book (buku catatan harian), computer tablet, hingga AC Document milik FA (flight attendant) Esther Aprilita," ujar Syafi'i melansir dari Kompas.com, Selasa (20/1/2026).

Hingga saat ini, Basarnas mengonfirmasi baru dua jenazah yang berhasil ditemukan dari total 10 orang yang berada di dalam pesawat. Satu jenazah berjenis kelamin laki-laki dan satu jenazah lainnya berjenis kelamin perempuan.

Meskipun serpihan pesawat ditemukan tersebar hingga radius 700 meter, tim SAR mengaku tetap optimis karena kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan utuh.

"Awalnya kami agak pesimis melihat reruntuhan pesawat yang tersebar jauh, tapi saat menemukan kondisi korban dalam kondisi utuh, kami sangat berharap bisa menemukan korban lainnya segera," sambung Syafi'i.

Sosok Esther di Mata Keluarga

Bagi keluarga, Esther adalah sosok anak yang sangat baik, perhatian, dan tidak banyak menuntut. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia telah menjalani profesi sebagai pramugari selama hampir tujuh tahun.

Sang ibu, J. Siburian, juga mengingat bahwa Esther sempat mengabarkan posisinya yang sedang berada di Yogyakarta sesaat sebelum terbang menuju Makassar.

Meski barang-barang pribadi Esther seperti buku harian dan dompet sudah ditemukan oleh tim SAR di lokasi reruntuhan, Adi Saputra menegaskan bahwa pihak keluarga masih terus memanjatkan doa dan menunggu adanya mukjizat.

Keluarga Esther Aprilita masih menunggu kabar dengan penuh harap di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

"Saya berharap mukjizat Tuhan masih ada. Selama kami belum melihat Esther, mukjizat itu pasti masih ada," ujarnya penuh keyakinan.

Saat ini, barang-barang milik Esther telah dibawa ke posko utama untuk kepentingan pendataan dan penyelidikan lebih lanjut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.