WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA –- Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyoroti dinamika dan ketegangan global yang mendominasi pembahasan dalam World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Swiss.
Hal tersebut disampaikan SBY melalui cuitan di akun media sosial X miliknya, @SBYudhoyono, Rabu (21/1/2026).
SBY menilai forum ekonomi dunia yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai negara itu menjadi panggung penting untuk mencermati situasi global yang kian kompleks.
Baca juga: Bill Gates Rekrut Sri Mulyani Masuk Dewan Yayasan, Dinilai Berpengalaman Global
Menurutnya, perdebatan dan pernyataan para pemimpin dunia dalam WEF 2026 banyak diwarnai isu persengketaan internasional dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Menarik mengikuti World Economic Forum 2026 yang diselenggarakan di Davos, Swiss. Kita tahu pembicaraan, debat, dan statement didominasi oleh persengketaan dan ketegangan global saat ini. Termasuk isu-isu yang bisa mengguncang stabilitas dan tatanan dunia,” tulis SBY.
Meski demikian, SBY berharap forum tahunan yang digagas World Economic Forum tersebut tetap mampu menghasilkan langkah-langkah positif bagi kepentingan dunia secara luas.
Ia menekankan pentingnya peran para pemimpin global untuk tidak sekadar menyampaikan pandangan politik, tetapi juga menunjukkan komitmen moral dalam menjaga perdamaian dan keselamatan umat manusia.
“Semoga forum yang dihadiri oleh ribuan partisipan, termasuk tokoh internasional dan para world leaders ini, menghasilkan sesuatu yang positif untuk kebaikan dunia,” lanjutnya.
WEF sendiri merupakan forum internasional bergengsi yang setiap tahun mempertemukan kepala negara, pemimpin pemerintahan, pimpinan korporasi global, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil.
Agenda pembahasannya mencakup isu ekonomi global, perubahan iklim, keamanan internasional, konflik geopolitik, transformasi digital, hingga ketahanan pangan dan energi.
Dalam konteks 2026, WEF digelar di tengah berbagai tantangan dunia, mulai dari konflik bersenjata di sejumlah kawasan, rivalitas kekuatan besar, krisis kemanusiaan, hingga ancaman perlambatan ekonomi global.
Situasi tersebut menjadikan Davos sebagai ruang strategis untuk diplomasi informal dan pertukaran gagasan lintas negara.
SBY juga mengingatkan bahwa forum seperti WEF dapat berperan sebagai alternatif dialog global, terutama ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi keterbatasan dalam mengakomodasi atau memediasi kepentingan internasional secara efektif.
Baca juga: Kongres AS Desak Pemakzulan Donald Trump Usai Mau Rebut Greenland
“Forum ini—saya pernah hadir dan berpartisipasi secara aktif ketika memimpin Indonesia dulu—bisa menjadi forum yang baik apabila PBB belum bisa atau tidak bisa mengacarakan kegiatan yang lebih baik,” ungkapnya.
Sebagai mantan kepala negara yang pernah aktif menghadiri WEF semasa menjabat Presiden RI periode 2004–2014, SBY menilai Davos bukan sekadar forum ekonomi, melainkan juga barometer kepemimpinan global.
Menurutnya, masyarakat dunia dapat menilai apakah para pemimpin mereka benar-benar memiliki visi, kecerdasan strategis, dan komitmen moral untuk menjaga stabilitas dunia.
“Bangsa-bangsa sedunia juga bisa mengikuti apakah para pemimpin mereka memiliki komitmen moral dan pikiran cerdas untuk menjaga keamanan dan keselamatan dunia, yang menjadi harapan semua umat manusia,” pungkas SBY.
Pernyataan SBY tersebut mencerminkan harapan agar WEF 2026 tidak hanya menjadi ajang diskusi elite global, tetapi juga melahirkan kesepahaman dan langkah konkret untuk meredam konflik serta memperkuat kerja sama internasional demi masa depan dunia yang lebih aman dan berkeadilan.
Prabowo Beri Pidato Kunci
Kepastian tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya melalui akun resmi Sekretariat Kabinet, Minggu (18/1/2026).
WEF 2026 akan dihadiri 61 kepala negara dan pemerintahan serta lebih dari 1.000 peserta yang terdiri atas pemimpin sektor swasta global, tokoh masyarakat sipil, dan kalangan akademisi dunia.
Forum ini menjadi salah satu ajang strategis bagi para pemimpin dunia untuk membahas isu ekonomi global, geopolitik, stabilitas keamanan, serta tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Di Davos, Swiss, Kepala Negara akan menyampaikan pidato kunci di World Economic Forum (WEF) yang rencananya dihadiri 61 kepala negara dan pemerintahan, serta lebih dari 1.000 peserta,” ujar Teddy dalam siaran persnya.
Selain berpidato, Presiden Prabowo juga dijadwalkan melakukan dialog strategis dengan sejumlah CEO perusahaan multinasional terkemuka.
Dialog ini ditujukan untuk memperkuat kerja sama ekonomi, menarik investasi, serta memperluas peran Indonesia dalam rantai pasok dan perekonomian global.
Namun, pemerintah belum merinci daftar CEO yang akan ditemui Presiden.
Baca juga: Tegas! PM Greenland Putuskan Tetap Bersama Denmark, Tolak Wacana Gabung AS
Sebelum menghadiri WEF, Presiden Prabowo terlebih dahulu melakukan kunjungan kenegaraan ke Inggris.
Ia bertolak dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Minggu (18/1/2026).
Menjelang keberangkatan, Presiden sempat bertemu Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad untuk membahas sejumlah perkembangan dan informasi strategis terkini.
Di London, Presiden Prabowo dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
Pertemuan bilateral ini akan membahas berbagai peluang kerja sama strategis, khususnya di bidang ekonomi dan maritim, termasuk peningkatan perdagangan, investasi, serta penguatan kemitraan di sektor kelautan.
Selain itu, Presiden Prabowo juga direncanakan mengadakan pertemuan dengan Raja Charles III.
Pertemuan tersebut akan difokuskan pada isu pelestarian alam dan lingkungan hidup, termasuk program konservasi gajah di Indonesia.
Dalam konteks ini, Prabowo telah menyerahkan sekitar 20.000 hektare konsesi lahan miliknya melalui PT Tusam Hutani Lestari untuk mendukung program perlindungan gajah di Provinsi Aceh.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari permintaan Raja Charles III agar Presiden Prabowo mendonasikan konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk kepentingan konservasi.
Program ini akan melibatkan sejumlah tokoh filantropi dunia sebagai bagian dari kolaborasi internasional dalam menjaga kelestarian satwa liar dan lingkungan.
Rangkaian kunjungan kenegaraan ini dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi global, memperluas jejaring kerja sama strategis, serta menegaskan komitmen Indonesia terhadap pembangunan berkelanjutan, pelestarian lingkungan, dan stabilitas ekonomi dunia.