Jembatan Datar Mangkung Tumingki HSS Masih Putus, Warga Bergantung pada Getek untuk Menyeberang
January 21, 2026 05:48 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Jembatan di Dusun Datar Mangkung, Desa Tumingki, Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan masih terputus.

Putusnya jembatan akibat kejadian banjir di wilayah Kecamatan Loksado di akhir Desember 2025 lalu, masih menyisakan sisa-sisa material bangunan yang berada di dua  sisi saling berseberangan.

Kondisi bangunan dari kayu ulin tersebut memang masih nampak utuh, tetapi dengan kondisi terputus sehingga tidak memungkinkan untuk digunakan penyeberangan oleh warga di Datar Mangkung dan sekitar, Rabu (21/1/2026).

Kondisi ini, dikatakan Kepala Desa Tumingki, Muhammad Yadi kepada Banjarmasinpost.co.id membuat warga di Datar Mangkung terisolir.

Baca juga: Razia ASN di Kandangan HSS, Dua Pegawai Kedapatan Keluyuran Saat Jam Kerja Tanpa Surat Izin

Baca juga: Rincian 18 Adegan Pembunuhan Mahasiswi ULM, Bripda Seili dan Korban Sempat Bahas Soal Perselingkuhan

Kini bagi warga yang ingin menyeberang ke Dusun Majulung dan seterusnya ke jalan utama Loksado, warga harus naik getek bambu sebagai alat menyeberangi Sungai Amandit.

Getek dimanfaatkan warga untuk keluar dusun, baik membawa hasil perkebunan, berbelanja ataupun bersekolah.

Getek bambu dibuat swadaya oleh warga setempat dengan tali dibentangkan dari pohon ke pohon menyeberangi Sungai Amandit yang lebarnya sekitar 30 meter, sebagai pegangan dan penarik.

Dikatakan Kepala Desa Tumingki, Muhammad Yadi selama menggunakan getek tidak pernah terjadi kecelakaan air, seperti tercebur dan terbalik.

“Namun, warga tetap berhati-hati sambil melihat kondisi debit air. Apabila cukup deras dan tinggi bertahan sambil menunggu agak normal,” katanya.

Diakuinya, getek yang dibuat diperkirakan bermodal sekitar Rp 2 juta dari swadaya masyarakat untuk masyarakat.

“Itu sudah terhitung pembelian tali dan pembuatan bambu. Tapi pernah sekali putus tali yang menjadi pegangan dan ditarik, kita beli dan pasang lagi,” ungkapnya.

Pantauan di lapangan, warga Datar Mangkung bergantian menggunakan getek tersebut, lantaran hanya bisa dimuati maksimal sekitar enam orang dewasa.

Sementara untuk anak-anak, masih memungkinkan sampai 10 orang, padahal akses penyebaran ini sangat vital bagi warga.

Berdasarkan keterangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSS beberapa waktu lalu, kerusakan dampak bencana banjir saat terjadi banjir di Loksado, yakni putusnya jembatan gantung di Datar Mangkung, Desa Tumingki,l dan jembatan gantung di Niih, serta satu rumah warga di Kecamatan Loksado.

(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.