BANGKAPOS.COM -- Senyum terakhir Yoga Naufal menjadi petunjuk dalam pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500.
Diketahui pencarian para korban kecelakaan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026) masih dilakukan.
Dalam tragedi itu, nama Yoga Naufal Prakoso Nahudi masuk dalam daftar korban.
Mengutip Tribun-Timur.com, Yoga Naufal merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tepatnya bertugas di Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
Sebagai bagian dari tahapan identifikasi korban, pihak keluarga mendatangi Posko Ante Mortem Biddokkes Polda Sulawesi Selatan di Makassar, Senin (20/1/2026).
Baca juga: Harga Samsung A57 5G Diperkirakan Dijual Segini, Mengandalkan Chipset Exynos 1680
Pantauan di lokasi, ibu Yoga hadir dengan raut wajah tegar. Di tangannya, ia membawa map berisi sejumlah dokumen penting, salah satunya foto dinas putranya yang kemudian menjadi perhatian tim identifikasi.
Dalam foto tersebut, Yoga tampak mengenakan seragam biru gelap khas PSDKP. Senyum lepas menghiasi wajahnya saat berpose di lintasan pesawat, mencerminkan semangat dan dedikasinya sebagai abdi negara.
Foto itu kini menjadi salah satu petunjuk visual yang diserahkan keluarga kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, untuk dicocokkan dengan data korban lainnya.
Tak hanya foto, keluarga juga menyerahkan berbagai dokumen pendukung sebagai bagian dari data ante mortem guna membantu proses identifikasi secara ilmiah dan menyeluruh.
Yoga Naufal Prakoso Nahudi lahir di Ambon pada 6 November 1995. Ia tercatat sebagai warga Kelurahan Pondok Bambu, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Di lingkungan kerja, Yoga dikenal sebagai sosok muda yang berdedikasi dan memiliki rasa tanggung jawab tinggi. Ia tergabung dalam tim air surveillance PSDKP KKP, unit yang berperan penting dalam pengawasan wilayah perairan Indonesia melalui jalur udara.
Dalam tugasnya, Yoga kerap terlibat dalam misi pemantauan dan pengamanan sumber daya kelautan dan perikanan demi menjaga kedaulatan laut Indonesia.
Kini, senyum dalam foto dinas itu menjadi saksi bisu perjalanan pengabdian Yoga. Bagi keluarga, gambar tersebut bukan sekadar arsip, melainkan secercah harapan di tengah penantian panjang hasil identifikasi korban tragedi pesawat ATR di Gunung Bulusaraung.
Sementara itu kisah Franky D Tanamal, penumpang yang selamat dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Batalnya keberangkatan Franky kini menjadi kisah haru tersendiri baginya.
Diketahui hari itu ia batal berangkat ke Sulawesi Selatan.
Namanya pun terncantum dalam manifest pesawat ATR 42-500.
Belakangan diketahui, Franky tidak ikut penerbangan lantaran sedang menjalani pelayanan di gereja.
Pemilik akun, Rumoton Sitanggang, diketahui merupakan teman dekat Franky D Tanamal.
Rumoton mengungkapkan bahwa Franky sebenarnya sudah terdaftar sebagai kru dalam penerbangan tersebut. Namun ia memutuskan untuk meminta izin kepada komandannya agar tidak ikut terbang.
“Dia izin ke komandannya karena ada pelayanan di gereja saat itu,” ungkap Rumoton.
Menurut Rumoton, keputusan tersebut menjadi alasan utama Franky luput dari musibah besar yang merenggut nyawa para korban.
Ia juga menegaskan bahwa pesawat ATR 42-500 dalam kondisi layak terbang.
“Kebetulan teknisinya teman saya yang juga luput dari musibah ini. Yang pasti pesawat layak terbang. Ini murni musibah,” ujarnya.
Ungkapan syukur juga disampaikan Rumoton melalui unggahan di akun Facebook pribadinya.
“Puji Tuhan atas segala kemurahan-Nya. Sobatku luput dari musibah ini karena tidak ikut penerbangan. Kami sama-sama melayani umat Tuhan untuk beribadah pagi ini. Itulah cara Tuhan yang tak terselami,” tulisnya.
(Bangkapos.com/Tribunnews/Tribun Timur)