Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam survei terbarunya mengungkapkan sebanyak 1 dari 7 anak di Indonesia terpapar timbal dengan kadar melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu sebesar 5 mikrogram/desiliter. Ini menjadi sorotan tersendiri mengingat efek paparannya memiliki efek jangka panjang, khususnya anak-anak sebagai kelompok rentan.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr dr Then Suyanti, MM mengungkapkan paparan timbal tidak secara langsung memberikan efek gejala. Efek paparan timbal bersifat kumulatif sehingga baru memunculkan efek setelah terpapar dalam jumlah banyak dan lama.
"Jadi efeknya ini jangka panjang ya, dia nggak terlihat gejala langsung. Kadar tinggi yang kami temukan pun dia tidak bergejala. Memang tekaitnya adalah tumbuh kembang anak, jadi tidak batuk ada demam," ungkap dr Then pada awak media di Jakarta Selatan, Rabu (21/1/2026).
Ketika anak mengalami gangguan darah, salah satu efek yang muncul adalah anemia. Ketika sudah mengalami anemia, gejala baru terlihat.
Beberapa efek lain adalah gangguan otak dan saraf, menurunkan IQ atau kecerdasan, dan keterlambatan tumbuh-kembang. Paparan timbal juga dapat meningkatkan risiko kehamilan seperti keguguran, kelahiran prematur, dan kelahiran bayi dengan berat badan rendah pada ibu hamil.
"Kasian anak-anak kita, IQ-nya jadi tidak bagus, tumbuh kembangnya jelek, kemudian stunting," tandasnya dr Then mengungkap efek jangka panjang pada anak.
Anak merupakan kelompok paling rentan terhadap paparan timbal. Tubuh anak memiliki kemampuan timbal 4-5 kali lebih banyak dibanding orang dewasa. Anak-anak juga lebih rentan menelan tanah atau debu, dan sering memasukkan benda atau tangan dalam mulut.
Direktur Yayasan Pure Earth Indonesia Budi Susilorini yang ikut terlibat dalam penelitian bersama BRIN mengungkapkan pihaknya menemukan sumber paparan timbal dari cat mainan anak. Kebanyakan ditemukan berasal dari mainan impor.
Sumber paparan lain yang ditemukan adalah dari cat tembok yang mengelupas hingga alat masak berbahan logam.
"Ternyata kita masih menemukan pada mainan anak, ternyata banyak juga nih mainan-mainan impor yang ada di Indonesia. Kemudian juga ada ada peralatan masak berbahan logam," ungkap Susilorini.
"Ada juga lokasi-lokasi yang terkontaminasi timbal di tanahnya. Dan timbal ini karena sifatnya persisten tinggal, itu nanti bisa terhirup debunya tanah yang ada di situ," tandasnya.







