TRIBUNNEWS.COM, JEPANG - Kebakaran hutan yang melanda wilayah timur Prefektur Yamanashi, Jepang, kini mulai mereda.
Di Kota Uenohara, pemerintah setempat telah mencabut perintah evakuasi setelah penyebaran api berhasil dikendalikan sementara.
Profesor Keiji Kushida dari Fakultas Ilmu Sumber Daya Hayati Universitas Nihon menilai, meningkatnya intensitas kebakaran hutan tidak bisa dilepaskan dari dampak perubahan iklim.
“Perubahan iklim menyebabkan kekeringan dan angin kencang yang ekstrem. Api kecil akibat kelalaian bisa dengan cepat berkembang menjadi kebakaran besar,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Kushida, kekeringan membuat dedaunan, semak, dan ranting sangat mudah terbakar. Angin kencang kemudian mendorong api naik di lereng, sementara bara api terbang hingga ratusan meter, memicu titik api baru.
Kondisi ini diperparah karena hutan yang terbakar melepaskan karbon dioksida, mengurangi kemampuan alam menyerap emisi gas rumah kaca.
“Inilah lingkaran setan perubahan iklim. Pemanasan global memicu kebakaran, dan kebakaran mempercepat pemanasan global,” tambahnya.
Baca juga: Setelah Seminggu, Kebakaran Hutan di Yamanashi Jepang Mulai Mereda
Badan Kehutanan Jepang mencatat sekitar 60 persen kebakaran hutan di negara ini disebabkan aktivitas manusia, termasuk puntung rokok, api unggun, dan pembakaran ladang.
“Hal kecil seperti api unggun atau puntung rokok yang tidak dipadamkan bisa berkembang menjadi bencana besar,” ujar seorang pejabat kehutanan.
Masyarakat diimbau tidak membawa api ke kawasan pegunungan, menghindari aktivitas pembakaran saat cuaca kering, dan mematuhi seluruh aturan keselamatan.
Beberapa langkah pencegahan mulai diterapkan, seperti pemasangan papan larangan di jalur pendakian dan penggunaan drone untuk pemantauan dini kebakaran.
Selain kewaspadaan manusia, pengelolaan hutan jangka panjang dinilai penting untuk mencegah kebakaran. Organisasi nirlaba JUON NETWORK menjalankan program perawatan hutan berbasis partisipasi masyarakat, termasuk penjarangan pohon, pembersihan semak, dan pengurangan kayu mati di lantai hutan.
Direktur Eksekutif JUON NETWORK, Takayuki Shikazumi mengatakan, perawatan hutan membuat api lebih sulit menyebar.
"Dengan jarak antar pohon yang lebih baik dan bahan bakar alami berkurang, risiko kebakaran bisa ditekan,' katanya.
Ia menekankan, membangun hutan yang sehat dan terang lebih efektif dibanding sekadar mengandalkan pemadaman saat kebakaran terjadi.
“Hutan yang terawat dengan baik akan lebih tahan terhadap api,” pungkas Shikazumi.