TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Kesehatan bersama Satgas Percepatan Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Tulungagung masih memantau perkembangan kondisi siswa SMKN 3 Boyolangu pascakeracunan massal.
Sebelumnya siswa sekolah kejuruan teknik ini mengalami keracunan massal, usai menyantap menu MBG yang disajikan Senin (19/1/2026).
Kedua lembaga ini telah melakukan survei epidemiologi kepada para siswa, untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka.
Dinas Kesehatan (Dinkes) juga menyiagakan Puskesmas untuk menangani para siswa, jika ada yang kondisinya memburuk.
“Karena kondisi keracunan ada yang cepat, ada juga yang lambat. Karena itu kami siagakan Puskesmas untuk memberikan layanan,” jelas Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan.
Para siswa yang kondisinya memburuk bisa mengakses Puskesmas terdekat.
Menurut Aris, ada siswa korban keracunan ini yang mengakses layanan dokter praktik swasta.
Namun di antara mereka tidak ada yang sampai rawat inap.
“Sejauh ini tidak ada yang sampai rawat inap. Semua mengalami mual dan diare, tidak ada yang muntah,” ungkapnya.
Baca juga: PMK Mulai Serang Sapi di Trenggalek, Vaksinasi Kembali Digencarkan
Dinkes bersama Unit INAFIS Satreskrim Polres Tulungagung telah mengambil sampel makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyoketen 2, dapur yang memasok MBG di SMKN 3 Boyolangu.
Menurut Aris, sesuai prosedur, setiap SPPG wajib menyimpan 2 porsi menu MBG yang diproduksi setiap hari untuk sampel.
Menu sampel ini juga disimpan dengan prosedur yang ketat agar tidak rusak, seperti di dalam lemari pendingin.
“Tujuannya, jika ada kasus keracunan seperti ini kita langsung punya sampel yang memadai,” tuturnya.
Namun ternyata SPPG di bawah Yayasan Mutiara Rawa Selatan ini hanya menyimpan 1 porsi sampel.
Sampel ini akhirnya dibagi 2, setengah untuk Dinkes dan setengahnya lagi untuk INAFIS Satreskrim Polres Tulungagung.
Sampel ini akan diuji di laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya.
“Dari hasil uji laboratorium ini bisa diketahui, apakah sumber kontaminasi yang menyebabkan keracunan ini,” tegasnya.
Dinkes akan memeriksa 47 relawan yang menangani MBG ini, terutama para penjamah makanan.
Namun Dinkes tidak sampai mengambil sampel kotoran siswa yang mengalami diare, karena kendala teknis.
Ratusan siswa SMKN 3 Boyolangu mengalami gejala keracunan pada hari Selasa (20/1/2026).
Keracunan ini diduga dampak dari menu MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya, Senin (19/1/2026).
Mereka mulai merasakan gejala keracunan ini sejak Senin malam.
Para siswa banyak yang memaksa masuk, karena menganggap kondisinya membaik.
Namun pada Selasa (20/1/2026) situasi memburuk, 70 siswa tidak masuk sekolah, yang masuk sekolah harus antre di toilet karena banyak yang diare dan akan buang air besar.
Sebanyak 123 siswa harus menjalani perawatan di Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Pihak sekolah mendapat bantuan obat diare dari Puskesmas untuk membantu kondisi para siswa.
SPPG Moyoketen 2 diketahui beroperasi belum genap 2 bulan, dan belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Namun SPPG ini sudah mengajukan permohonan SLHS dan masih dalam proses.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik