Pertahankan Suku Bunga Acuan, BI Pastikan Kesiapan Jaga Stabilitas Rupiah
January 21, 2026 11:14 PM

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20-21 Januari 2026, sebagai satu langkah menjaga stabitas rupiah. 

Adapun, rupiah spot ditutup pada level Rp 16.936 per dolar AS di akhir perdagangan Rabu (21/1), menguat 0,12 persen dari sehari sebelumnya di Rp 16.956 per dolar AS.

BI mempertahankan BI rate di level 4,75 persen. Selain itu, suku bunga deposit facility juga dipertahankan di level 3,75 persen, dan suku bunga lending facility dipertahankan dilevel 5,50 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, keputusan itu konsisten dengan fokus kebijakan saat ini, yaitu upaya menjaga stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global, serta mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Tekanan berasal dari meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif AS, serta tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor 2 tahun maupun 3 tahun.

"Di samping juga kondisi-kondisi lain yang menyebabkan dolar menguat dan terjadi aliran modal keluar dari emerging market ke negara maju termasuk Amerika. Pada tahun 2026 ini terjadi net outflow 1,6 miliar dolar AS, data hingga 19 Januari 2026," jelasnya.

Perry menuturkan, terdapat faktor domestik yang turut menekan nilai tukar rupiah. Satu di antaranya adalah meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) dari sejumlah korporasi besar, seperti Pertamina, PLN, hingga Danantara. Bahkan, proses pencalonan Deputi Gubernur BI turut memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski demikian, ia menegaskan, proses pencalonan Deputi Gubernur BI sesuai dengan undang-undang tata kelola, dan tidak memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI yang tetap profesional dan tata kelola yang kuat.

"Juga persepsi pasar, ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur," bebernya.

Perry menyebut, pelemahan nilai tukar ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di beberapa negara. Namun, BI menegaskan kesiapan melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah secara tegas dan terukur.

Dia menambahkan, stabilisasi rupiah didukung kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, seperti imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik. 

"Kami tegaskan, BI tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward, maupun di dalam negeri non deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri spot dan DNDF," paparnya.

"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan akan membawanya untuk menguat, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi kita yang baik, termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang merendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik," imbuhnya.

Meski demikian, Perry meyakini, nilai tukar rupiah akan menguat didukung oleh kecukupan cadangan devisa Indonesia.

"Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil, dan bahkan akan cenderung menguat," tukasnya. (Tribunnews/Nitis Hawaroh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.