BANGKAPOS.COM -- Pramugari Florencia Lolita Wibisono (33), batal nikah dengan kekasihnya yang merupakan seorang pilot.
Florencia menjadi korban jatuhnya Pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar, di perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).
Berdasarkan pengakuan keluarga Florencia, bungsu dari enam bersaudara ini akan segera melangsungkan pernikahan.
Namun insiden kecelakaan yang terjadi pada Sabtu kemarin membuat rencana bahagia itu batal digelar.
Kerabat korban, Juwita, memberikan keterangan bahwa Florencia sebenarnya memiliki rencana untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.
Rencana tersebut sudah dibicarakan secara internal di kalangan keluarga besar.
Baca juga: Sosok Daisy Fajarina Ibu Manohara, Aibnya Dibongkar, Anak Ngaku Dijual hingga Dipukuli: Bukti Banyak
Sosok pria yang menjadi calon suaminya diketahui juga bekerja di dunia penerbangan sebagai seorang pilot.
Kabar rencana pernikahan ini selama ini menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga, terutama karena Florencia dikenal sebagai anak bungsu yang sangat dekat dengan saudara-saudaranya.
"Iya, memang ada rencana menikah. Kami semua di keluarga sudah menantikan momen bahagia itu karena rencananya secepatnya," ujar Juwita.
Namun, rencana pernikahan tersebut kini tidak dapat terealisasi menyusul hasil identifikasi resmi dari pihak kepolisian.
Setelah seluruh prosedur di RS Bhayangkara Makassar selesai, jenazah Florencia akan segera diserahkan kepada pihak keluarga.
Rencananya, jenazah akan diterbangkan menuju Jakarta Timur untuk proses persemayaman dan pemakaman.
Isak tangis keluarga menyambut jenazah pramugari Florencia Lolita Wibisono di Biddokkes Polda Sulawesi Selatan pada Rabu (21/1).
Keluarga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses evakuasi dan identifikasi.
Keluarga Florencia juga mendoakan agar korban lain segera ditemukan.
Sebelum diserahkan ke keluarga, jenazah menjalani proses identifikasi Disaster Victim Identification (DVI) Polri dan Polda Sulsel.
Kemudian, peneyrahan jenazah dipimpin oleh Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Sulsel, Kombes Muhammad Haris
Dari pantauan tim Tribun Timur, keluarga sempat menatap peti jenazah Florencia dengan mata berkaca-kaca.
Raut wajah itu terlihat dari Natasha Wibisono dan Velix yang merupakan kakak almarhum.
Kepada wartawan, Velix menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses evakuasi dan identifikasi.
Ia mendoakan agar korban lain yang masih dalam pencarian segera ditemukan.
Florencia Lolita Wibisono merupakan satu pramugari pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/1/2026).
Florencia akrab disapa Ollen itu kini berusia 32 tahun.
Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara.
Ollen diketahui baru sekitar tiga bulan bertugas di pesawat ATR 42-500 milik Air Indonesia Transport (IAT).
“Kira-kira baru tiga bulan dia kerja di pesawat itu,” ujar Ramos, anggota keluarga Florencia.
Sebelum bergabung dengan IAT, Florencia menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di maskapai Lion Air selama kurang lebih 13–14 tahun.
Tak hanya berpengalaman sebagai pramugari, Ollen juga dipercaya menjadi trainer bagi awak kabin baru.
Ia kerap membina dan mendampingi kru junior.
“Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” ujar Ramos.
HRD adalah Human Resources Department.
Dalam bahasa Indonesia, HRD berarti Departemen Sumber Daya Manusia (SDM).
Pihak keluarga hingga kini masih menantikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan pencarian dan penanganan insiden tersebut.
Bagi keluarga, hilangnya kontak dengan pesawat itu terasa seperti waktu yang tiba-tiba berhenti.
Kerabat Florencia, Juwita, mengungkapkan, rencana pernikahan Ollen selama ini menjadi sumber kebahagiaan keluarga.
“Iya, dia memang akan segera menikah. Kami semua sudah menantikan momen bahagia itu,” ujar Juwita lirih.
Beberapa jam sebelum kejadian, Ollen masih sempat membagikan potongan kesehariannya di media sosial.
Hal senada disampaikan Yanti (46), anggota keluarga lainnya, saat ditemui di rumah keluarga korban di Tondano, Kabupaten Minahasa, Minggu (19/1/2026).
“Kami dengar sudah ada rencana menikah, tapi belum tahu kapan. Rencananya secepatnya,” kata Yanti.
Menurutnya, calon pasangan Florencia berprofesi sebagai seorang pilot di salah satu maskapai penerbangan.
“Kami tetap berharap Olen bisa segera ditemukan,” ucap Yanti.
Pesawat ATR 42-500 yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung pada Sabtu (18/1/2026).
Berdasarkan data AirNav Indonesia, posisi terakhir pesawat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, tepatnya di kawasan pegunungan karst Gunung Bulusaraung.
Pesawat dipiloti kapten senior Andy Dahananto (53).
Dua pendaki yang berada di puncak gunung menjadi saksi mata insiden yang diperkirakan terjadi sekitar pukul 13.00 Wita.
Reski (20), salah satu pendaki, melihat pesawat terbang rendah sebelum menghantam lereng gunung dan meledak.
“Meledak dan ada api. Saya dapat serpihan yang berhamburan,” ujar Reski.
Ia langsung merekam kejadian tersebut menggunakan ponselnya.
“Cepat sekali kejadiannya,” tuturnya.
Reski dan rekannya kemudian turun gunung untuk melaporkan peristiwa itu.
Sehari sebelum jatuh, pesawat ATR 42-500 yang membawa 11 orang itu dilaporkan sempat mengalami masalah di bagian mesin.
Direktur Operasional IAT, Capt Edwin, membenarkan adanya gangguan tersebut.
Pihak IAT mengklaim masalah sudah berhasil diperbaiki sehari sebelumnya.
“Memang ada problem di engineering kami, tapi sudah dites. Problem kecil dan sudah kami perbaiki hari Jumat,” kata Edwin.
Baca juga: Kisah Syifa WNI jadi Tentara Amerika Serikat, Keluarga Tinggal di LN, Segini Perkiraan Gajinya
Jenazah pramugari pesawat ATR 42-500 Florencia Lolita Wibisono telah diterbangkan ke Jakarta dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (21/1/2026) sore.
Proses evakuasi jenazah Florencia membutuhkan waktu sekitar empat jam dari lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Tubuhnya ditemukan tersangkut di sela pohon di dalam jurang kedalaman 350-400 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Lokasi penemuan berada di kawasan perbukitan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan – 119°44’52” Bujur Timur.
Area tersebut merupakan wilayah pegunungan dengan kontur lereng curam, vegetasi rumput dan semak, serta kerap diselimuti kabut tebal.
Medan yang curam yang terjal dengan kondisi cuaca diguyur hujan lebat dan berkabut, menyulitkan tim SAR melakukan evakuasi.
Butuh waktu dua hari bagi Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah Florencia.
Di hari pertama ditemukan, Tim SAR hanya mampu memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat.
Jenazah hanya bisa dievakuasi 25 meter dari lokasi awal ia ditemukan, Senin (19/1/2026)
Hari ketiga pencarian, Selasa (20/1/2026) jenazah Florencia berhasil dievakuasi ke Pos DVI yang berlokasi di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.
Ada sembilan pos dilalui tim SAR menggotong jenazah Florencia ke Pos DVI.
Sebelum digotong dari Puncak Gunung Bulusaraung ke Pos DVI, jenazah lebih dulu diangkat dari lereng kedalaman 400 meter menuju puncak.
Salah satu sosok anggota SAR yang mengangkat jenazah korban adalah, Alfian Rauf (40) dari SAR Rescue PT Vale.
Alfian tergabung dalam dua tim khusus evakuasi dari total tujuh tim yang dikerahkan.
Dalam kondisi kedinginan, Alfian Rauf baru tiba di Pos AJU SAR Desa Tompobulu, Selasa (20/12/2026) malam, bersedia menceritakan perjuangan Tim SAR mengangkat jenazah Florencia dari kedalam lereng menuju puncak.
"Cuaca sangat tidak bersahabat dengan kami," kata Alfian mengenakan helm climbing dengan berbagai perlengkapan climbing lainnya seperti, carabiner, belay device, dan rope grab.
Kondisi Bulusaraung berkabut tebal dengan guyuran hujan lebat sejak pagi hari, merupakan tantangan berat bagi tim evakuasi.
Baca juga: Sosok Widyarlina, Istri Kedua Capt Andy Dahananto Pilot Pesawat ATR 42-500, Berharap Ketemu Suami
Bagi Alfian dan tim evakuasi, waktu cerah sedikit pun adalah momen berharga yang harus dimanfaatkan segera untuk evakuasi.
"Begitu ada cerah sedikit tadi, kurang lebih setengah jam ada cerah sedikit terbuka, kami briefing, kami yakin bisa evakuasi dari bawah ke atas," katanya.
Lebatnya hutan belantara dengan kemiringan gunung yang curam bukanlah hal mudah bagi tim evakuasi mengangkat jenazah korban.
Namun, rintangan itu kata Alfian, dapat teratasi berkat kekompakan tim dalam menjalankan misi kemanusiaan itu.
"Rintangan-rintangan dari bawah itu sudah lumayan berat. Tapi Alhamdulillah dengan kerja sama tim semua berhasil naik ke puncak," jelasnya.
Secara teknis, Alfian yang 20 tahun terakhir bergelut di dunia SAR, mengatakan, ada total tiga tali yang digunakan menarik jenazah dari bawah jurang ke puncak gunung.
"Untuk pengangkatan secara manual itu sangat tidak bisa karena dengan medan yang sangat terjal," ucapnya sesekali menggigil.
"Jadi kami pakai tadi sistem, kalau di rope rescue biasanya disebut sistem 4 banding 1," lanjutnya.
Pola 4 banding 1 itu, kata dia, memerlukan alat khusus seperti rope grab.
Rope grab adalah perangkat yang digunakan pada tali cadangan untuk memberikan perlindungan tambahan jika tali utama putus.
"Alat ini yang dipakai tadi untuk pola 4 banding 1," ucapnya memperlihatkan dua rope grab di pinggangnya.
Proses pengangkatan jenazah dari lereng ke Puncak Bulusaraung itu, kata Alfian membutuhkan waktu sekitar 4 jam lebih.
Saat proses pengangkatan baru sepertiga dari puncak, jam sudah menunjukkan waktu pukul 16.00 Wita.
Alfian pun memotivasi petugas SAR lainnya untuk mengangkat jenazah hingga ke puncak meski hujan terus mengguyur.
Pasalnya, jika menyerah dengan kondisi cuaca, Tim SAR akan kehilangan momen cerah di sore hari yang tak lama lagi gelap.
"(Saya bilang) kalau memang jam 5 nanti kita tidak sampai di puncak, kita simpan paketnya, kita balik besok kita lanjut," ucap Alfian.
"Tapi ternyata dengan semangat teman-teman, jam 5 itu sampai di puncak, jam 5 lewat 10. Kurang lebih 4 jam lebih dari bawah sampai atas," sambungnya.
Setelah jenazah berada di puncak jenazah pun digotong ke Pos DVI Desa Tompobulu.
Ada sembilan pos yang harus dilalui petugas SAR untuk sampai di desa Tompobulu.
Baca juga: Sosok Abdul Rahman Dahlan Suami Vie Shanti yang Diisukan Nikah dengan Mualem, Punya 2 Istri
Untuk melintasi sembilan pos dengan medan terjal dan licin, akhirnya jenazah tiba di Pos DVI Desa Tompobulu, pada pukul 20.10 Wita.
Setelah dilebel oleh personel Biddokkes Polda Sulsel di Pos DVI, jenazah lalu dibawa ke RS Bhayangkara, Makassar.
Dalam proses pemeriksaan pos mortem dan ante mortem DVI Biddokkes Polda Sulsel di Makassar, jenazah akhirnya terinfeksi bernama Florencia Lolita Wibisono.
(Bangkapos.com/TribunnewsBogor.com/TribunVideo/Tribunnews.com)