BATAM, TRIBUNBATAM.id - Ratusan warga Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Provinsi Kepri, kecewa Wali Kota Batam, Amsakar Achmad tidak mau hadir temui warga, saat unjuk rasa soal air di depan Kantor Wali Kota Batam, Kamis (22/1/2026).
Membawa galon, ember dan perlengkapan masak, ratusan warga Tanjung Sengkuang menyuarakan nasib mereka yang alami suplai air bersih tak lancar sejak tahun 2023.
Kekesalan warga memuncak sejak tujuh bulan terakhir, air di kompleks mereka tidak mengalir sama sekali di siang hari.
Air mengalir hanya dua jam setiap hari, itupun dini hari mulai pukul 02.00 WIB atau pukul 03.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB.
Baca juga: Air Tak Kunjung Mengalir, Warga Tanjung Sengkuang Demo di Kantor Wali Kota Batam
Di depan kantor Wali Kota Batam, warga membawa surat tuntutan sekaligus surat pernyataan.
Mereka meminta kehadiran Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra di lokasi.
Ada tiga tuntutan warga Tanjung Sengkuang yang mereka sebut Tritura (Tiga tuntutan warga).
Poin pertama, meminta agar air mengalir di Tanjung Sengkuang.
Selanjutnya, jika tidak bisa dipenuhi berarti pengelola tidak mampu.
Ketiga, warga meminta jika poin satu dan poin dua tidak bisa ditunaikan, maka diharapkan Wali Kota Batam dan wakilnya segera mundur dari jabatan.
"Hari ini kami tidak butuh ceramah, kami butuh kepastian dan pernyataan kesanggupan. Jika tidak bisa, diminta segera mundur sebagai wali Kota," kata Samsudin sebagai orator unjuk rasa.
Samsudin mengatakan, mereka tidak butuh retorika dan ceramah. Mereka minta aksi nyata karena warga Tanjung Sengkuang sudah tidak tahan dengan krisis air bersih yang warga alami selama ini.
Aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Batam ini berlangsung dari pukul 09.20-10.30 WIB.
Namun Wali Kota Amsakar atau wakilnya Li Claudia tidak kunjung hadir.
Baca juga: Breaking News, Warga Tanjung Sengkuang Gelar Aksi Soal Krisis Air Bersih, Ajukan 3 Tuntutan
Kekesalan warga semakin memuncak saat Kasatpol PP Batam Imam Tohari datang menemui warga dan menaiki mobil komando, untuk menyampaikan pesan Wali Kota Batam.
Imam menyampaikan pesan agar warga datang ke BP Batam. Sebab pimpinannya sudah menunggu warga di BP Batam.
Mendengar penyampaian Kasatpol PP itu, warga semakin geram dan meminta Imam turun dari mobil komando dan kembali masuk ke Kantor Wali Kota Batam.
"Kehadiran kami ke Kantor Wali Kota Batam mau bertemu dengan Wali Kota Batam. Soal BP Batam itu urusannya lain. Nanti kami juga akan unjuk rasa di BP Batam," kata Samsudin.
Ia mengatakan, warga sudah menyiapkan Tritura untuk beberapa instansi di Batam. Mulai dari Pemko Batam, DRPD Batam, BP Batam, ABHi Batam dan terakhir ke Kantor Polresta Barelang.
"Jadi kami menunggu Wali Kota Batam, bukan Kepala BP Batam," kata Samsudin disambut teriakan warga.
Dengan tidak hadirnya Wali Kota Batam dan wakilnya, mereka beranggapan Amsakar dan Li Claudia tidak peduli dengan warga Tanjung Sengkuang.
"Air kami mati, wali kota dan wakil wali kota tidak peduli. Mari kita sadar bersama, ke depan kita tidak perlu mendukung siapa yang hanya memberikan janji manis," kata Samsudim yang kembali disambut teriakan warga.
Ratusan warga Tanjung Sengkuang tersebut akhirnya meninggalkan Kantor Wali Kota Batam dengan kecewa, dan bertolak ke Kantor DPRD Batam untuk menyampaikan tuntutan warga.
"Kita lihat Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra tidak mau menemui warga Tanjung Sengkuang, sekarang kita ke DPRD Batam," ujarnya.
Sekitar pukul 10.30 WIB, warga bertolak ke Kantor DPRD Batam yang lokasinya berada di seberang Kantor Wali Kota Batam di Jalan Engku Putri, Kelurahan Teluk Tering, Kecamatan Batam Kota. (Tribunbatam.id/Pertanian Sitanggang)