Simalakama Pemindahan Operasional Kapal Pelni dari Pantoloan Palu ke Donggala dan Solusi Pemerintah
January 22, 2026 03:22 PM

TRIBUNPALU.COM, DONGGALA - Aliansi Masyarakat Donggala Bangkit berunjuk rasa di Kecamatan Banawa, Kamis (22/1/2026).

Mereka meminta Kapal Pelni juga beroperasi di Pelabuhan Donggala, Desa Kabonga Kecil, Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala.

Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor 612 Tahun 2025.

Keputusan itu menetapkan Pelabuhan Donggala sebagai pelabuhan penumpang Kapal Pelni.

Selama ini, Kapal Pelni beroperasi di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu.

Sementara Pelabuhan Donggala hanya menjadi persingahan KM Dharma Kencana V.

Baca juga: BREAKING NEWS: Unjuk Rasa, Warga Minta Kapal PELNI Beroperasi di Pelabuhan Donggala

Permintaan itu berbanding terbalik dari tuntutan warga sekitaran Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang berunjuk rasa Desember 2025.

Pengunjuk rasa di sekitar Pelabuhan Pantoloan itu menuntut agar operasional Kapal Pelni tak berpindah ke Pelabuhan Donggala.

Alasannya, warga sekitar Pelabuhan Pantoloan yang mengais rezeki dari berjualan maupun sebagai kuli khawatir kehilangan mata pencahariannya.

Relokasi operasional Kapal Pelni dari Pelabuhan Pantoloan ke Donggala adalah upaya pemerintah untuk penguatan konektivitas transportasi laut di Sulawesi Tengah, termasuk untuk penumpang dan barang. 

Hal itupun diwujudkan dengan pembangunan fasilitas dermaga dan terminal di Donggala.

Setelah pembangunan infrastruktur Pelabuhan Donggala rampung, pemerintah daerah kemudian mendorong optimasilasi pemanfaatan untuk penumpang maupun kargo.

Optimasliasi itu dengan skema Pelabuhan Pantoloan fokus menjadi pelabuhan peti kemas (kontainer) dan logistik industri.

Sementara Pelabuhan Donggala menjadi pelabuhan curah dan penumpang.

Baca juga: DLU Palu Pastikan Kesiapan Angkutan Nataru KM Dharma Kencana V di Pelabuhan Donggala

Wacana itupun menjadi isu "simalakama" bagi pemerintah daerah.

Di satu sisi, ada ambisi untuk menghidupkan kembali kejayaan historis Donggala, namun di sisi lain, ada realitas infrastruktur dan efisiensi ekonomi yang sudah mapan di Pantoloan.

Pengoperasionalan Pelabuhan Donggala berarti mengembalikan marwah ekonomi kota yang sempat mati suri.

Apalagi posisi geografis Pelabuhan Donggala sangat dekat dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan sehingga sangat strategis untuk distribusi material dan logistik.

Termasuk solusi untuk memecah arus kepadatan di Kota Palu.

Plus Minus Palu-Donggala

PELABUHAN DONGGALA - Terminal penumpang Pelabuhan Donggala, Desa Kabonga Kecil, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.
PELABUHAN DONGGALA - Terminal penumpang Pelabuhan Donggala, Desa Kabonga Kecil, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. (Handover)

Letak "buah simalakama" pemindahan operasional Kapal Pelni dari Pantoloan ke Donggala sejatinya ada pada infrastruktur dan jarak.

Mayoritas pusat industri, gudang, dan konsumen berada di Kota Palu.

Jika barang dibongkar di Donggala, truk harus menempuh jarak sekitar 30–40 Km menuju Palu.

Hal tersebut menambah biaya bahan bakar dan waktu tempuh, yang ujung-ujungnya menaikkan harga barang bagi masyarakat.

Ditambah lagi Jalur Palu-Donggala merupakan daerah rawan longsor.

Baca juga: Rupiah Menguat Berada di Level Rp16.929 per Dolar AS Kamis 22 Januari 2026

Peningkatan volume truk kontainer berisiko mempercepat kerusakan jalan.

Soal infrastruktur dermaga, Pelabuhan Pantoloan memiliki fasilitas crane kontainer dan terminal yang sangat memadai.

Atas persoalan itu, Pemprov Sulteng pun menawarkan dua opsi.

Tetap mempertahankan aktivitas peti kemas di Pantoloan.

Sementara layanan penumpang dapat dilakukan dengan sistem singgah di Pelabuhan Donggala.

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan modal usaha maupun fasilitasi pekerjaan alternatif bagi buruh pelabuhan jika terjadi perubahan kebijakan di masa depan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.