BPBD memperketat pengawasan dan memfokuskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah selatan Jawa Timur, guna meredam potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melonjak hingga 58 persen sepanjang sisa bulan Januari 2026.
SURYA.CO.ID, SURABAYA - Menanggapi imbauan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem selama sepuluh hari ke depan, BPBD Jawa Timur (Jatim) kini memusatkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di kawasan selatan Jatim.
Langkah strategis ini diambil, sebagai bentuk respons cepat instruksi Gubernur guna melindungi warga dari ancaman bencana hidrometeorologi yang kian nyata.
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan bahwa wilayah selatan menjadi sasaran utama intervensi awan hingga akhir pekan ini.
Keputusan tersebut didasari oleh analisis arah angin yang saat ini bergerak menuju selatan, selaras dengan peringatan dini dari BMKG Jawa Timur mengenai potensi curah hujan yang sangat tinggi.
Menurut Gatot, curah hujan di Jawa Timur pada bulan Januari ini mengalami peningkatan signifikan, dibandingkan periode sebelumnya.
Pihaknya terus memantau pergerakan awan, untuk menentukan titik koordinat penyemaian garam guna mempercepat hujan turun sebelum mencapai wilayah permukiman padat.
“Untuk Jatim potensi hujan di bulan Januari ada peningkatan sebesar 58 persen sebagaimana informasi dari BMKG. Sehingga beberapa langkah kami lakukan, di antaranya adalah OMC sebagaimana arahan Ibu Gubernur. Program OMC ini sudah kami lakukan sejak tanggal 5 Desember 2025, dan rencananya akan berakhir pada 31 Januari 2026,” ujar Gatot Soebroto saat diwawancarai SURYA.co.id, Kamis (22/1/2026).
Keberadaan OMC ini, diklaim sangat efektif dalam memitigasi bencana banjir di berbagai daerah.
Gatot menjelaskan, bahwa intervensi teknologi ini mampu menurunkan intensitas curah hujan hingga 20 hingga 30 persen dari prediksi semula.
Selain modifikasi cuaca, BPBD Jatim juga tengah berjuang menangani banjir yang merendam sejumlah titik di Lamongan dan Sidoarjo.
Di Lamongan, luapan Sungai Bengawan Solo telah berdampak pada Sungai Bengawan Jero yang mengakibatkan lima kecamatan terendam air.
“Adanya OMC efektif mencegah bencana karena menurunkan intensitas curah hujan hingga 20 sampai 30 persen. Artinya yang potensi hujan tinggi ketika diintervensi melalui OMC menjadi hujan sedang atau bahkan ringan,” imbuhnya.
Gatot menambahkan, bahwa posisi geografis Sidoarjo yang rendah juga menjadi faktor utama terjadinya genangan air yang cukup lama. Sebagai langkah cepat, BPBD telah mengaktifkan seluruh pompa di kawasan terdampak, untuk mempercepat proses surutnya air dan mencegah ketinggian banjir bertambah.
Tak hanya banjir, BPBD Jatim juga melaporkan kejadian tanah longsor di Pamekasan yang mengakibatkan 14 kepala keluarga mengungsi.
Tim di lapangan saat ini sedang melakukan pemetaan geologi, untuk menentukan kelayakan hunian bagi warga terdampak.
“Kami sudah melakukan langkah-langkah untuk melakukan pemetaan dan evaluasi terhadap kondisi tanah tersebut, apakah masih layak untuk ditinggali atau tidak,” tegas Gatot.
Menutup pernyataannya, Gatot mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menghindari berteduh di bawah pohon rindang saat hujan lebat.
Pihak BPBD Jatim juga terus melakukan normalisasi sungai bekerja sama dengan Dinas Pengairan, TNI dan Polri guna memastikan saluran air berfungsi optimal menghadapi puncak musim hujan.