TPS3R Kutasari Purbalingga Sudah Beroperasi Sejak 2023, tapi Masih Sepi Pelanggan
January 22, 2026 02:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Kutasari, Kabupaten Purbalingga belum sepenuhnya berjalan optimal meski telah beroperasi sejak tahun 2023. 

Divisi Operasional TPS3R Kutasari, Suswanto mengungkap kondisi tersebut terjadi karena sebagian besar warga masih menggunakan kebiasaan lama, terutama bagi mereka yang masih memiliki lahan untuk membuang atau membakar sampah secara mandiri. 

"Jadi, bukan karena warga tidak tahu sebenarnya. Tapi karena mereka masih merasa bisa mengolah sampah sendiri," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Kamis (22/1/2026). 

Saat ini, TPS3R Kutasari baru melayani sekitar 300 rumah tangga termasuk beberapa pelanggan dari luar desa. Namun, jumlah tersebut menurutnya dinilai belum cukup untuk menopang operasional secara berkelanjutan. 

Ditarget Pemasukan Rp 15 Juta

Padahal, keberlanjutan TPS3R sangat bergantung pada jumlah pelanggan. Ia menyebut, pemasukan minimal Rp15 juta per bulan dibutuhkan agar operasional bisa berjalan normal. 

"Kalau konsumennya sedikit, operasional jadi berat. TPS3R baru bisa berjalan kalau pelanggan terus bertambah," ujarnya. 

Adapun, layanan pengambilan sampah di TPS3R Kutasari biasanya dilakukan setiap dua hari sekali dan langsung diambil ke rumah warga dengan iuran Rp20 ribu tanpa batasan volume sampah. Namun menurutnya, tarif yang terjangkau tersebut dinilai masih belum sepenuhnya menarik minat masyarakat. 

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026, untuk Apa dan Siapa?

Padahal, jika dilihat dari sisi manfaat, keberadaan TPS3R tersebut mampu mengolah sekitar 1,5 ton sampah per hari menjadi berbagai produk nilai guna, seperti pupuk organik, maggot hingga bio solar. 

"Bio solar yang kami hasilkan kadang kami manfaatkan sebagai bahan bakar mesin TPS3R, kadang juga sudah dimanfaatkan petani setempat sebagai bahan bakar traktor. Jadi manfaatnya sebenarnya banyak sekali," tuturnya. 

Sudah Sosialisasi

Meskipun pemerintah desa telah melakukan berbagai sosialisasi ia menilai upaya tersebut perlu dilakukan secara lebih berkelanjutan agar kebiasaan warga perlahan berubah. 

"Kami berharap, warga yang sebenarnya mampu dan tidak punya kendala dapat mempercayakan pengelolaan sampahnya ke TPS3R," katanya. 

Di sisi lain, TPS3R Kutasari juga menghadapi keterbatasan armada dan tenaga kerja. Saat ini hanya tersedia tiga armada pengangkut dan 12 pekerja, sementara kondisi mesin pengolahan tidak selalu optimal jika volume sampah terus meningkat secara signifikan. 

Ke depan, TPS3R Kutasari diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan di wilayah Kutasari. Namun, upaya tersebut tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat. Peningkatan kesadaran warga untuk beralih dari kebiasaan lama menuju pengelolaan sampah yang lebih tertata dinilai menjadi kunci agar potensi TPS3R dapat dimanfaatkan secara maksimal. (anr)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.