TRIBUNBANYUMAS.COM, BATANG - Kesegaran es teh ternyata menyimpan risiko besar bagi kesehatan remaja putri yang mulai memasuki pubertas.
Apalagi, jika es teh yang dikonsumsi memiliki kadar gula tinggi.
Bahaya di balik es teh bagi tubuh remaja putri yang mulai memasuki masa menstruasi ini diungkap Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Batang, Inayati.
"Anak-anak SMP, khususnya siswi, itu sudah mulai menstruasi. Di fase ini, tubuh mereka sangat membutuhkan zat besi," kata Inayati, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Waspada saat Anak Sering Ngompol dan Mudah Lapar, Bisa Jadi Tanda Mengalami Diabetes Tipe 1
Dia menjelaskan masalah teh termasuk es teh manis yang digemari mengandung zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi.
Artinya, meski seorang siswi sudah mengonsumsi makanan bergizi, kebiasaan minum teh justru bisa membuat asupan zat besi tidak terserap optimal.
"Kalau minum teh terus-menerus, itu tidak membantu menaikkan HB. Bahkan bisa memperparah anemia," jelasnya.
Anemia pada remaja putri bukan sekadar soal cepat lelah.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengganggu konsentrasi belajar, menurunkan daya tahan tubuh, hingga berdampak pada kesehatan saat dewasa nanti.
Sebagai solusi sederhana, Inayati menyarankan siswa membiasakan diri minum air putih atau minuman kaya vitamin C seperti es jeruk, yang justru membantu penyerapan zat besi.
Tak hanya minuman, jajanan favorit lain seperti seblak juga menjadi sorotan.
Baca juga: Jangan Sepelekan Kuantitas Tidur Jika Tak Ingin Mengalami Diabetes dan Stres, Begini Penjelasannya
Makanan pedas yang digemari siswa ini memang mengenyangkan namun belum memenuhi prinsip gizi seimbang.
"Seblak itu lebih dominan karbohidrat dan rendah serat. Padahal, tubuh butuh protein, vitamin, dan mineral juga," ujarnya.
Di balik maraknya jajanan kekinian, Persagi Batang melihat tantangan gizi yang lebih luas.
Mereka pun mulai melakukan pendampingan, terutama di sekolah-sekolah dan penyedia makanan bergizi gratis.
Namun, persoalan gizi tak berhenti di usia remaja.
"Yang paling berat justru di balita. Banyak yang berat badannya naik saat ada PMT (pemberian makanan tambahan) tapi turun lagi setelah program selesai," ujarnya.
Menurutnya, pola asuh dan peran orang tua menjadi kunci.
Edukasi terus dilakukan melalui kelas ibu balita dan kegiatan Posyandu, agar kesadaran gizi berlanjut di rumah, bukan hanya saat ada program. (*)