TRIBUNPALU.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir terkait pelemahan nilai tukar rupiah.
Ia menegaskan bahwa situasi ini tidak akan berujung pada krisis ekonomi.
Purbaya meyakini bahwa pelemahan rupiah tidak akan menyebabkan krisis ekonomi karena fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.
Selain itu, kebijakan yang diterapkan Kementerian Keuangan sudah selaras dengan kebijakan moneter yang diterapkan oleh otoritas terkait.
Baca juga: Rupiah Menguat Berada di Level Rp16.929 per Dolar AS Kamis 22 Januari 2026
"Ekonomi Indonesia akan terus tumbuh lebih cepat. Ke depannya, investor baik asing maupun domestik akan mulai mewujudkan rencana investasi mereka," ujar Purbaya di Kantor Pelayanan Pajak Madya Jakarta Utara, Gambir, Jakarta Pusat, pada Kamis (22/1/2026) dikutip dari tribunnews.com.
Ia juga memastikan bahwa Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia sepakat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Purbaya percaya bahwa Bank Indonesia memiliki langkah yang tepat untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar.
Pada Rabu (21/1/2026), Purbaya bertemu dengan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Kompleks Istana Kepresidenan. Dalam pertemuan tersebut juga hadir Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad.
Purbaya menyatakan bahwa hasil diskusi dalam pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa nilai tukar rupiah seharusnya tidak berada pada level saat ini dan perlu bergerak menguat.
Ia menegaskan bahwa kerjasama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia akan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.
Baca juga: Ketua DPRD Donggala Temui Massa Aksi, Dukung Kapal PELNI Kembali Beroperasi di Donggala
Selain itu, Purbaya juga mengungkapkan bahwa tren positif yang terlihat pada pasar modal menjadi indikator penting untuk menarik minat investor.
"Pasar modal berfungsi sebagai sinyal kepada investor global bahwa ada perubahan positif yang sedang terjadi di Indonesia," ujarnya.
Purbaya menjelaskan bahwa tanpa adanya kenaikan yang signifikan di pasar modal, investor global mungkin tidak tertarik. Namun, dengan kondisi ekonomi yang membaik dan adanya perubahan yang terlihat, investor mulai melirik Indonesia.
Purbaya menilai momen ini sangat penting untuk menarik lebih banyak investasi asing.
"Jangan remehkan pergerakan pasar modal karena itu adalah sinyal bagi investor internasional. Kami percaya bahwa investasi asing langsung (FDI) akan semakin banyak masuk," tambahnya.
Penguatan Nilai Tukar Rupiah
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis (22/1/2026) terlihat menguat.
Pada awal perdagangan, rupiah menguat sebesar 7 poin atau sekitar 0,04 persen, menjadi Rp16.929 per dolar AS, dibandingkan dengan posisi sebelumnya di Rp16.936 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah kembali menunjukkan penguatan meskipun sebelumnya sempat melemah dan hampir menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada Rabu, 21 Januari 2026, nilai tukar rupiah ditutup di Rp16.936 per dolar AS, menguat 20 poin atau 0,12 persen dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat di Rp16.956 per dolar AS.