Antisipasi Lonjakan Penggunaan Elpiji 3 Kg, Batang Hari Ajukan 12.025 Metrik Ton
January 22, 2026 03:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN – Tingginya permintaan masyarakat terhadap Elpiji bersubsidi 3 kilogram mendorong Pemerintah Kabupaten Batang Hari mengusulkan penambahan kuota.

Elpiji bersubsidi 3 kilogram, atau yang sering disebut dengan "Gas Melon"  adalah program bantuan pemerintah yang bertujuan menyediakan energi murah bagi masyarakat golongan tertentu.

Elpiji 3 kg berperan vital sebagai sarana utama untuk menekan biaya operasional dan produksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). sehingga harga jual produk mereka tetap kompetitif dan terjangkau di pasar.

 Kehadiran subsidi ini berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi yang menjaga keberlangsungan usaha mikro agar tetap stabil dan menguntungkan, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga energi yang dapat membebani modal usaha kecil.

Dalam usulan yang disampaikan, kuota elpiji 3 kilogram untuk Batang Hari tahun 2026 mencapai 12.025 metrik ton.

Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan kuota tahun 2025 yang berada di angka sekitar 10 ribu metrik ton.

Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten Batang Hari, Agus Rachmad, menjelaskan bahwa pengajuan penambahan kuota dilakukan agar distribusi elpiji bersubsidi di daerah tetap berjalan stabil dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kebutuhan elpiji 3 kilogram di Batang Hari cukup tinggi. Karena itu, kuota yang kami usulkan untuk tahun 2026 sekitar 12 ribu metrik ton atau setara kurang lebih 4 juta tabung, naik dari tahun sebelumnya yang hanya 10 ribu metrik ton,” ujar Agus.

Ia menjelaskan, pada tahun 2025 kuota elpiji 3 kilogram yang diterima Kabupaten Batang Hari setara dengan sekitar 3,3 juta tabung.

 Jumlah tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat, seiring meningkatnya aktivitas UMKM dan konsumsi rumah tangga.

Menurut Agus, sebagian besar pengguna elpiji bersubsidi di Batang Hari merupakan pelaku UMKM yang menggantungkan kelangsungan usahanya pada ketersediaan gas 3 kilogram.

Oleh karena itu, keberlanjutan pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat kecil.

“Mayoritas pengguna elpiji ini adalah pelaku UMKM. Untuk harga di tingkat konsumen, tetap mengacu pada Harga Eceran Tertinggi atau HET sebesar Rp17 ribu per tabung,” katanya.

Selain mengusulkan penambahan kuota tahunan, Pemkab Batang Hari juga menyiapkan langkah antisipatif menjelang bulan suci Ramadan.

Pemerintah daerah berencana mengajukan kuota elpiji cadangan untuk menghindari potensi kelangkaan akibat meningkatnya konsumsi selama bulan puasa.

“Menjelang Ramadan, kami juga akan mengajukan kuota cadangan sekitar 6 ribu metrik ton yang akan disalurkan ke seluruh kecamatan, agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.

Dengan pengajuan penambahan kuota tersebut, Pemkab Batang Hari berharap distribusi elpiji bersubsidi dapat berjalan lebih optimal, harga tetap terkendali sesuai HET, serta aktivitas rumah tangga dan UMKM tidak terganggu akibat keterbatasan pasokan.

Baca juga: Harga Cabai di Pasar Kramat Tinggi Muara Bulian Stabil, Pasokan Melimpah Tekan Sejumlah Komoditas

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.