TRIBUNJAMBI.COM, KERINCI – Permukaan air Danau Kerinci di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dilaporkan menyusut drastis dalam beberapa hari terakhir, meski wilayah tersebut belum memasuki musim kemarau panjang.
Danau Kerinci terletak di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, tepatnya di kaki Gunung Raja.
Danau ini berada di wilayah administratif Kecamatan Danau Kerinci dan Kecamatan Keliling Danau, sekitar 16 km atau 30 menit berkendara ke arah selatan dari Kota Sungai Penuh.
Danau ini memiliki luas kurang lebih 4.200 hektare (sekitar 42–46 km⊃2;) dengan kedalaman maksimal mencapai 110 meter.
Terletak di ketinggian 783 meter di atas permukaan laut (mdpl), Danau Kerinci merupakan danau vulkanik terbesar kedua di Pulau Sumatera setelah Danau Toba.
Penyusutan air Danau Kerinci ini terpantau pada Kamis (22/1/2026) sore dan diduga dipicu oleh cuaca panas serta minimnya curah hujan dalam sepekan terakhir.
Pantauan Tribunjambi.com di sejumlah titik sekitar danau menunjukkan garis air semakin menjauh dari bibir danau.
Bahkan, di beberapa bagian, dasar danau mulai terlihat mengering, kondisi yang dinilai tidak lazim oleh warga setempat.
Penyusutan paling jelas terlihat di area pintu keluar air Danau Kerinci menuju Sungai Batang Merangin.
Debit air yang biasanya mencapai kedalaman sekitar dua meter kini tampak dangkal dan mengalir lemah.
Sejumlah warga dan nelayan tradisional menyebut, fenomena ini berbeda dari kondisi biasanya. Umumnya, penyusutan air danau baru terlihat jelas saat kemarau panjang.
Namun kali ini, penurunan permukaan air terjadi hanya setelah beberapa hari tanpa hujan.
“Airnya menyusut, padahal baru beberapa hari saja tidak hujan. Biasanya kalau sudah kemarau panjang baru kelihatan begini, sekarang ini belum,” ujar Asep, warga yang tinggal di sekitar Danau Kerinci.
Menurut warga, perubahan cuaca yang cenderung panas dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu faktor utama penyebab turunnya permukaan air danau.
Selain itu, pola hujan yang tidak menentu juga diduga turut memengaruhi kondisi tersebut.
Penyusutan air Danau Kerinci tidak hanya berdampak pada kondisi fisik danau, tetapi juga mulai dirasakan pada aktivitas masyarakat sekitar.
Nelayan tradisional mengaku kesulitan melaut karena perairan dangkal, sementara sebagian warga khawatir terhadap potensi gangguan pasokan air dan penurunan hasil tangkapan ikan.
Jika kondisi ini terus berlanjut, masyarakat menilai dampaknya dapat meluas, mulai dari terganggunya ekonomi lokal hingga ancaman terhadap keseimbangan ekosistem danau yang selama ini menjadi salah satu sumber kehidupan warga Kerinci.
Sejumlah pemerhati lingkungan menilai fenomena ini perlu mendapat perhatian serius. Penyusutan air yang terjadi di luar pola musim normal dikhawatirkan menjadi indikasi adanya perubahan iklim lokal atau gangguan terhadap sistem hidrologi Danau Kerinci.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan pemantauan dan kajian ilmiah secara menyeluruh.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan penyebab pasti menyusutnya permukaan air danau, sekaligus merumuskan upaya antisipasi guna menjaga keberlanjutan sumber daya air dan ekosistem di kawasan Danau Kerinci.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya langkah mitigasi yang dapat membantu warga terdampak apabila kondisi penyusutan air terus berlanjut dalam waktu yang lebih lama.
Danau Kerinci selama ini bukan hanya menjadi ikon alam, tetapi juga penopang ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Baca juga: CCTV Bongkar Aksi Curanmor di Kerinci, Sepasang Kekasih Ditangkap Polisi