TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU – Pertama kalinya dalam sejarah, sektor pertanian di Kabupaten Malinau Kalimantan Utara tidak lagi menjadi penyerap tenaga kerja utama.
Data BPS Malinau tahun 2025 mencatat sektor jasa kini memimpin dengan angka 43,50 persen, unggul tipis atas sektor pertanian di angka 43,48 persen.
Kepala BPS Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, menyebutkan fenomena ini dipicu oleh angkatan kerja baru yang lebih memilih sektor non-pertanian seperti jasa pemerintahan dan layanan lainnya.
"Tipis sekali selisihnya, hanya sekitar 0,02 persen. Namun, ini adalah sejarah baru karena selama ini sektor pertanian selalu mendominasi pasar kerja di Malinau," ujar Yanuar Dwi Cristyawan Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Temuan BPS Terbaru, Sektor Jasa Serap 43,50 Persen Tenaga Kerja di Malinau
Berdasarkan analisis BPS Malinau, fenomena ini terjadi karena angkatan kerja baru, terutama generasi muda, tak lagi melirik sektor pertanian. Begitu lulus sekolah atau kuliah, mereka lebih tertarik masuk ke dunia kerja non-pertanian seperti pemerintahan, real estate, hingga jasa pelayanan lainnya.
Kondisi ini dibenarkan oleh Agustinus, petani asal Kelapis, Malinau Utara. Dia mengakui regenerasi petani saat ini stagnan, hanya didominasi penduduk usia tua.
"Usaha tani, khususnya sawah, sekarang didominasi generasi usia 40 tahun ke atas. Jadi anak muda sudah jarang yang mau," ungkapnya.
Agustinus menilai realita ini memang harus diakui. Banyak dari generasi terdahulu yang menekuni pekerjaan karena melanjutkan warisan orang tua. Akses pendidikan juga saat ini terbuka lebar, tak seperti dulu, sehingga wajar jika terjadi perubahan paradigma.
Mahasiswa sekaligus pemuda asal Malinau, Anton, menilai kondisi ini tak hanya di Malinau, bahkan di seluruh daerah Indonesia. Menurutnya, butuh intervensi program untuk menjamin karier dan kehidupan, khususnya pada disiplin ilmu pertanian.
Baca juga: Tahun 2025, Ada 17,42 Persen Tenaga Kerja di Malinau Kalimantan Utara Lulusan Perguruan Tinggi
"Sektor pertanian bisa tetap hidup kalau ada intervensi pemerintah, baik melalui bantuan teknologi modern maupun jaminan harga, agar anak muda tertarik kembali ke lahan," katanya.
Integrasi antara disiplin ilmu pendidikan perlu dirumuskan untuk menjaga sektor pertanian tetap dapat hidup pada kondisi saat ini.
(*)
Penulis: Mohammad Supri