Utopia Financial Freedom Gen Z: Kesalahan dalam Memilih Mentor Investasi
Adi Setiawan January 22, 2026 08:19 PM
Pentingnya Financial Literacydi Kalangan Gen Z
Di tengah gempuran konten media sosial, istilah financial freedom kini menjadi semacam "kitab suci" bagi Generasi Z (Gen Z). Keinginan untuk pensiun dini dan memiliki pendapatan pasif yang melimpah membuat banyak anak muda berlomba-lomba terjun ke dunia investasi.
Namun, di balik semangat tersebut, muncul fenomena menjamurnya "guru" investasi yang justru menjerumuskan para pemula ke dalam kerugian besar.
Terjebak Narasi "Flexing" dan Gaya Hidup Mewah
Paparan konten di platform seperti TikTok dan Instagram sering kali menampilkan sosok mentor yang terlihat sukses dengan memamerkan kekayaan. Narasi flexing berupa mobil mewah, jam tangan miliaran rupiah, hingga liburan ke luar negeri menjadi senjata utama untuk menarik perhatian Gen Z.
Bagi banyak pemula, kemewahan tersebut dianggap sebagai bukti autentik keberhasilan strategi investasi sang mentor, padahal sering kali itu hanyalah strategi pemasaran.
Kecenderungan Gen Z untuk memvalidasi kredibilitas seseorang berdasarkan tampilan visual menjadi bumerang. Mereka kerap mengabaikan rekam jejak profesional dan lebih memilih mengikuti arahan dari siapa yang paling sering mengunggah gaya hidup glamor.
Perbesar
Ilustrasi gaya hidup mewah. Foto: Shutter Stock
Akibatnya, fokus utama bukan lagi pada pemahaman fundamental aset, melainkan pada upaya meniru gaya hidup sang mentor yang belum tentu berasal dari hasil investasi murni.
Ketidaksadaran bahwa gaya hidup mewah tersebut bisa saja dibiayai dari biaya kursus atau komisi referral membuat banyak investor muda terjebak. Mereka terdorong untuk menggunakan "uang panas" atau bahkan pinjaman online (pinjol) demi mencapai level gaya hidup yang sama dalam waktu singkat.
Pada akhirnya, ketika pasar mengalami koreksi, mereka baru menyadari bahwa narasi flexing yang mereka ikuti tidak dibekali dengan manajemen risiko yang kuat.
Memilih Mentor tanpa Lisensi Resmi
Kesalahan fatal lainnya yang sering dilakukan Gen Z adalah memberikan kepercayaan penuh kepada mentor yang tidak memiliki lisensi resmi.
Di Indonesia, setiap individu yang memberikan nasihat investasi atau mengelola dana publik seharusnya mengantongi izin dari otoritas terkait seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau Bappebti. Namun, banyak "influencer" yang hanya bermodalkan pengalaman pribadi tanpa pemahaman regulasi yang memadai.
Perbesar
Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Mentor tanpa lisensi sering kali memberikan rekomendasi aset yang bersifat spekulatif tanpa penjelasan risiko yang transparan. Tanpa adanya pengawasan dari lembaga berwenang, para mentor ini bebas melakukan praktik pump and dump atau mempromosikan aplikasi investasi ilegal yang merugikan pengikutnya.
Gen Z yang minim literasi hukum cenderung melihat sertifikasi hanya sebagai formalitas belaka, padahal lisensi adalah bentuk akuntabilitas publik.
Risiko hukum juga mengintai para investor yang mengikuti arahan mentor ilegal ini. Ketika terjadi penipuan atau gagal bayar dari platform yang direkomendasikan, perlindungan konsumen menjadi sangat lemah karena sejak awal mentor tersebut tidak terikat pada kode etik profesional.
Memilih mentor berlisensi memang terkesan lebih kaku dan formal, tetapi itulah satu-satunya cara memastikan edukasi yang diterima memiliki landasan hukum yang kuat.
Tergiur Janji "Cepat Kaya" dan Profit Instan
Fenomena "FOMO" (Fear of Missing Out) membuat banyak Gen Z mencari jalan pintas untuk menggandakan uang mereka. Mentor yang tidak bertanggung jawab mengeksploitasi celah ini dengan menawarkan janji keuntungan pasti (fixed return) yang sangat tinggi dalam waktu singkat.
Perbesar
Ilustrasi keuntungan. Foto: Getty Images
Janji seperti "profit 10% per minggu" atau "modal kembali dalam sebulan" menjadi magnet kuat bagi mereka yang ingin cepat kaya tanpa harus bekerja keras.
Padahal, dalam prinsip investasi, berlaku hukum high risk, high return. Tidak ada instrumen legal yang bisa menjamin keuntungan tetap dalam persentase besar tanpa adanya risiko kerugian.
Mentor yang memberikan janji-janji manis ini biasanya menyembunyikan fakta tentang fluktuasi pasar dan hanya menonjolkan testimoni keberhasilan yang bisa saja direkayasa. Hal ini menciptakan persepsi keliru bahwa investasi adalah mesin pencetak uang instan, bukan proses akumulasi kekayaan jangka panjang.
Kecewa dengan kenyataan pasar, banyak investor muda akhirnya mengalami trauma finansial setelah modal mereka habis dalam sekejap. Alih-alih mendapatkan financial freedom, mereka justru terjerat utang dan krisis kepercayaan terhadap seluruh instrumen keuangan.
Mengubah pola pikir dari "cepat kaya" menjadi "tumbuh secara berkelanjutan" adalah tantangan terbesar bagi Gen Z agar tidak lagi menjadi mangsa empuk bagi mentor investasi abal-abal.