Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Aroma rempah-rempah langsung menusuk hidung begitu memasuki sebuah bangunan di Jalan Siaran, Kecamatan Sako, Palembang.
Di sudut ruangan, tong-tong besar berisi bumbu yang telah dihaluskan tersusun rapi.
Dari tempat inilah bumbu racikan Hikmah Fajar diproduksi, dikemas, dan didistribusikan ke berbagai rumah makan ternama di Palembang, Sumatera Selatan, hingga ke luar negeri.
Nama Hikmah Fajar bukanlah pemain baru di dunia kuliner Palembang, usaha bumbu Hikmah Fajar dirintis sejak 1975 oleh almarhum Haji Askar bersama, dan sang istri Uni Cinde.
Perjalanan usaha ini bermula dari sebuah lapak kecil di Pasar Cinde Palembang. Saat itu, Haji Askar bersama, dan sang istri Uni Cinde. Keduanya hanya menjual kelapa parut. Namun, usaha tersebut berjalan cukup lambat.
Melihat pedagang lain di sekitar lapak yang menjual cabai giling dan bumbu, muncul ide untuk mencoba peruntungan baru.
Dari keuntungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, Haji Askar dan Uni Cinde akhirnya mampu membeli mesin penggiling cabai.
Sejak saat itu, mereka mulai menjual cabai giling, sebelum akhirnya memberanikan diri meracik dan menjual bumbu masak siap pakai.
Pemilik Hikmah Fajar Novia Ariani yang merupakan generasi kedua mengatakan, setelah menjual kelapa parut dan cabai giling, muncul ide dari orangtua untuk menjual bumbu masakan yang sudah digiling
"Kini bumbu Hikma Fajar telah dikenal lintas generasi dan menjadi andalan berbagai hidangan khas, mulai dari rendang, pindang, malbi, opor, sop hingga aneka masakan rumahan,” kata Novia Ariani, Kamis (22/1/2026).
Novia menceritakan, karena berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat, keluarganya memiliki bekal pengetahuan dasar dalam meracik bumbu masakan khas Minangkabau.
Berbekal keahlian tersebut, ia mulai bereksperimen dengan berbagai bahan baku.
Proses pencarian rasa yang pas tidak instan. Hampir dua hingga tiga tahun dibutuhkan untuk melakukan uji coba hingga menemukan racikan yang sesuai dengan lidah banyak orang.
“Semua bumbu diracik sendiri tanpa bahan pengawet. Bahan-bahan yang digunakan alami dan berkualitas terbaik. Komposisinya ditakar dengan sangat teliti agar rasanya konsisten,” kata Novia.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Bumbu racikan Hikmah Fajar diterima dengan baik oleh masyarakat.
Permintaan terus meningkat, membuat usaha yang awalnya hanya lapak kecil di Pasar Cinde berkembang pesat.
Hikmah Fajar kemudian membuka cabang di sejumlah pasar tradisional di Palembang, seperti Pasar Cinde, Pasar Perumnas Sako, dan Pasar Lemabang.
Seiring waktu, estafet usaha keluarga ini diteruskan oleh Novia Ariani bersama sang suami.
Sebagai generasi penerus, Novia berupaya menjaga warisan rasa sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Pada 2016, Hikmah Fajar mulai berinovasi dengan memperbarui kemasan agar terlihat lebih modern dan menarik.
Namun, perubahan tersebut sempat berdampak pada penurunan omzet.
Sebagian pelanggan mengira perubahan kemasan diikuti perubahan rasa. Untuk mengatasi hal itu, pihaknya sempat memajang dua kemasan sekaligus, kemasan lama dan baru.
“Masih ada pelanggan yang minta kemasan lama. Tapi pelan-pelan mereka paham kalau yang berubah hanya kemasannya, bukan rasanya," kata Novia.
Baca juga: Gulai Ayam Nanas Bawa Kabupaten Lahat Jadi Juara 2 Festival Rempah Sumsel 2025
Baca juga: Kencur Jadi Andalan Kabupaten OKU di Festival Rempah Sumsel 2025, Diolah Jadi Sabun Hingga Lulur
Selain pasar tradisional, Bumbu Hikmah Fajar kini juga telah merambah pasar ritel modern dan sejumlah supermarket di Palembang.
Pada 2023, Novia mencoba memperluas pasar melalui sistem reseller online. Sayangnya, upaya tersebut berujung pahit setelah ia mengalami penipuan hingga puluhan juta rupiah.
“Barangnya diambil, tapi tidak dibayar. Kami sudah datangi rumahnya, tapi orangnya tidak ada,” kenangnya.
Tak ingin larut dalam kegagalan, Novia bangkit bersama Diva putrinya. Ia belajar secara otodidak dan membuka toko daring di platform Shopee dengan nama Hikma Fajar Bumbu.
Langkah tersebut justru membawa hasil di luar dugaan. Pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi.
"Dalam satu hari, penjualan daring bisa mencapai 200–300 kemasan. Jika digabung dengan penjualan offline, total penjualan bisa menembus 500 kemasan per hari. Kini ada 16 varian bumbu dan yang paling diminati antara lain bumbu rendang, ayam goreng, opor, sambal goreng buncis, sop, hingga malbi. Dengan harga mulai dari Rp 14 ribu, " ungkapnya
Tak hanya pasar domestik, Bumbu Hikmah Fajar juga telah menembus pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Australia.
Hampir setiap tiga bulan sekali, konsumen yang punya usaha di sana beli sekitar 50 kilogram bumbu. Ada juga konsumen yang menjadikannya sebagai oleh-oleh dan dibawa ke luar negeri.
Kini, dari dapur sederhana yang berawal di Pasar Cinde, Bumbu Hikmah Fajar berhasil membawa cita rasa lokal Palembang dan Minangkabau ke berbagai penjuru dunia.
Cita rasa yang khas, kaya rempah, dan konsisten membuat Bumbu Hikma Fajar terus diburu konsumen.
Perjalanan panjang lintas generasi ini menjadi bukti bahwa konsistensi, kualitas, dan inovasi mampu membuat usaha kecil bertahan dan bisa berkembang.
Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com