TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Ketua DPRD Padang Muharlion menanggapi fenomena viralnya lokasi pemandian baru yang kini menjadi tujuan masyarakat di kawasan Bandar Kali Jati dan Ujung Tanah.
Meski mengapresiasi kreativitas warga sekitar, ia menegaskan bahwa faktor nyawa dan kesehatan pengunjung tidak boleh diabaikan begitu saja oleh pemerintah.
Ketua DPRD Padang Muharlion meminta instansi terkait segera turun ke lapangan untuk memastikan lokasi tersebut tidak membahayakan masyarakat yang datang.
Menurutnya, antusiasme warga yang tinggi terhadap objek wisata baru harus dibarengi dengan kajian teknis yang mendalam, terutama terkait debit air sungai yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Ia menekankan bahwa faktor keselamatan dan kesehatan tetap harus menjadi prioritas.
Baca juga: Pendukung Semen Padang FC Tuntut Poin Saat Hadapi Bali United, Pemain Baru Jadi Sorotan
“Kadang masyarakat kita ini kreatif, itu juga patut diapresiasi. Tapi di sisi lain, keselamatan dan kesehatan juga penting. Soal dampak kesehatannya tentu perlu kajian,” kata Muharlion, Kamis (22/1/2026).
Ia menambahkan, DPRD Kota Padang akan membahas persoalan tersebut bersama pihak terkait untuk menentukan langkah yang tepat ke depan.
DPRD juga telah mengarahkan instansi terkait agar segera melakukan pengecekan lapangan dan menindaklanjuti temuan yang ada.
“Kita akan diskusikan dan kaji lebih lanjut, baru kemudian mengambil tindakan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutupnya.
Aliran Sungai Ujung Tanah dan kawasan Bandar Kali Jati Parak Salai, Kota Padang, Sumatera Barat belakangan viral di media sosial dan ramai dikunjungi masyarakat.
Baca juga: Pidana Kerja Sosial Solok Selatan Dimatangkan, Pelaku Tipiring Tak Lagi Masuk Lapas
Lokasi tersebut disebut-sebut sebagai destinasi wisata dadakan, menyusul surutnya debit air pascacuaca ekstrem.
Namun, fenomena ini menuai perhatian serius dari pemerintah dan sejumlah pihak terkait karena dinilai berpotensi menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan.
Balai Wilayah Sungai (BWS) sebelumnya telah mengeluarkan imbauan terkait munculnya lokasi wisata baru di aliran Sungai Ujung Tanah dan Banjir Kanal Jati Parak Salai.
BWS meminta Pemerintah Kota Padang untuk melakukan penertiban guna mencegah dampak buruk yang mungkin timbul.
“Kita tentu mendukung imbauan dari BWS. Sejak BWS menyampaikan informasi itu, tentu ini demi keselamatan warga. Walaupun cuaca ekstrem sudah berlalu, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kalau dibiarkan bisa berpotensi menimbulkan korban,” kata Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, Kamis (22/1/2026).
Baca juga: Wisata Dadakan di Bandar Kali Jati dan Ujung Tanah, Pemko Padang Tegaskan Larangan Jika Tak Ada Izin
Ia menegaskan, aktivitas masyarakat di kawasan sungai tersebut tidak dapat dilakukan secara bebas tanpa aturan.
Menurutnya, setiap bentuk pemanfaatan ruang yang berpotensi menjadi lokasi wisata harus melalui kajian dan perizinan resmi.
“Kalaupun masyarakat ingin melakukan aktivitas seperti itu, tentu harus sesuai aturan dan ada perizinan. Nanti akan kita kaji apakah layak atau tidak. Untuk langkah selanjutnya, kita akan pantau ke lokasi dan mencoba menertibkan. Kalau tidak ada perizinan, tentu akan kita larang,” tegasnya.
Selain faktor keselamatan, aspek kesehatan juga menjadi perhatian. Sejumlah pengamat lingkungan menilai air di kawasan tersebut berpotensi mengandung limbah domestik yang dapat menimbulkan penyakit.
Baca juga: Waspada Fenomena Fase Bulan Baru Picu Banjir Rob di Pesisir Sumbar, BMKG Minta Warga Siaga
Menanggapi hal itu, Raju Minropa menyebut Pemko Padang akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.
“Kita akan sampaikan kepada masyarakat agar apa yang dikhawatirkan oleh para aktivis lingkungan itu tidak terjadi. Dalam waktu dekat, petugas juga akan diturunkan untuk melakukan pengawasan,” ujarnya.
Di bawah jembatan Ujung Tanah, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, sisa-sisa amuk banjir bandang beberapa waktu lalu tak lagi menyisakan trauma pilu.
Alih-alih pemandangan lara, hamparan pasir yang dibawa arus deras kini menyulap aliran sungai menjadi destinasi wisata dadakan yang memikat hati warga.
Baca juga: Kafe Estetik dan Hits di Kota Padang, Cocok untuk Nongkrong dan Foto-foto
Saat Wartawan TribunPadang.com, Arif Ramanda Kurnia, berkunjung pada Senin (12/1/2026) petang, langit di atas Lubuk Begalung mulai menyemburat jingga.
Cahaya matahari yang kian melunak memantul di atas permukaan air sungai yang jernih, menciptakan gradasi warna yang menenangkan mata.
Terdengar tawa riuh anak-anak memecah kesunyian sore yang biasanya hanya diisi bising kendaraan.
Bagi warga setempat, fenomena ini adalah berkah di balik musibah yang tak terduga.
Banjir bandang yang sebelumnya menerjang memang sempat mencemaskan, namun material sedimen pasir dalam jumlah besar yang tertinggal justru menciptakan lansekap baru.
Baca juga: 5 Rekomendasi Tempat Makan Strategis bagi Mahasiswa UNAND
Sekilas, suasana di sana menyerupai tepian pantai alami, lengkap dengan pasir yang lembut di bawah pijakan kaki.
Di sudut lain, beberapa pasang muda-mudi sibuk mengatur sudut kamera ponsel mereka untuk mengabadikan momen.
Latar belakang aliran sungai yang jernih dengan bingkai langit senja yang estetis menjadi magnet bagi mereka yang haus akan konten media sosial.
Berswafoto di "Pantai Ujung Tanah" kini seolah menjadi agenda wajib bagi warga kota yang rindu akan ruang terbuka hijau.
Kejernihan air sungai di lokasi ini memang patut diacungi jempol dan menjadi buah bibir.
Di sepanjang pinggiran sungai yang berpasir, kini berjajar pedagang kaki lima yang menjajakan aneka penganan sederhana namun menggugah selera.
Aroma bakso bakar yang gurih sesekali tertiup angin sore, menggoda selera para pengunjung yang baru selesai berenang.
Kerupuk mie dengan siraman kuah sate yang pedas dan kental menjadi primadona kuliner di tepian sungai ini.
Selain itu, aneka minuman dingin juga laris manis diburu warga yang ingin menyegarkan tenggorokan setelah beraktivitas di bawah sisa panas matahari.
Keberadaan para pedagang ini memberikan nuansa keramaian yang positif dan hidup bagi lingkungan sekitar.
Menurut Ujang, salah seorang warga lokal, kondisi ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang cenderung keruh.
Sungai yang dulunya mungkin terabaikan, kini tampak lebih sehat dan sangat mengundang siapa saja untuk sekadar membasuh diri atau berenang.
Perubahan kualitas air ini bukan terjadi tanpa alasan yang mendasar.
Baca juga: Jelajahi Keindahan Alam Kota Padang, Ini 5 Destinasi yang Bisa Dikunjungi
Ujang bercerita bahwa salah satu faktor pendukung utama adalah berhentinya aktivitas pabrik karet yang berada di sekitar lokasi.
Tanpa adanya lagi buangan limbah industri yang mencemari aliran, ekosistem sungai perlahan pulih dan air kembali bening tanpa aroma yang menyengat.
"Sekarang sungainya jauh lebih bersih, airnya terasa segar sekali di kulit. Tidak ada lagi limbah, jadi orang-orang tidak ragu lagi untuk mandi-mandi di sini setiap sore," ujar Ujang sembari memperhatikan kerumunan pengunjung yang kian ramai memadati area pinggiran sungai.
Daya tarik utama tempat ini, selain keindahannya yang alami, adalah masalah aksesibilitasnya bagi semua kalangan.
Wisatawan tidak perlu merogoh kocek untuk biaya masuk maupun retribusi parkir yang seringkali memberatkan.
Di tengah himpitan ekonomi perkotaan, hiburan gratis yang berkualitas seperti ini menjadi oase bagi masyarakat yang membutuhkan penyegaran.
Ovi, salah seorang pengunjung yang baru pertama kali menginjakkan kaki di sana, mengaku sangat terkesan dengan transformasi sungai ini.
Baca juga: Wisata Puncak Pato Punya Spot Foto Menarik, Bisa Berkemah dengan Pemandangan Danau Singkarak
Ia sengaja datang bersama keluarga kecilnya untuk menghabiskan waktu luang di awal pekan.
Baginya, Ujung Tanah menawarkan paket lengkap pemandangan bagus, air bersih, dan tentu saja sangat ramah di kantong.
"Tempatnya bagus sekali, anak-anak juga puas bermain air sampai tidak mau pulang. Jarang ada tempat wisata di tengah kota yang sealami ini dan benar-benar tidak dipungut biaya sedikitpun," kata Ovi dengan nada puas sembari mengawasi buah hatinya yang sedang asyik berenang.
Tak jauh dari posisi Ovi, terlihat Rian seorang mahasiswa yang mengabadikan momen.
Bagi Rian, tempat ini menjadi lokasi pelarian singkat yang efektif dari penatnya rutinitas di Kampus.
"Saya baru tahu dari media sosial kalau ada tempat senyaman ini di Lubuk Begalung. Ternyata benar, suasananya tenang sekali untuk sekadar melepas lelah," ungkap Rian.
Ia menilai, kehadiran wisata sungai ini menjadi alternatif yang sangat menyegarkan bagi warga yang mulai bosan dengan suasana mal.
Baca juga: Kunjungan Wisata Pasir Jambak dan Pantai Air Manis Menurun Saat Libur Nataru di Padang
Kehadiran para pelancong lokal ini secara otomatis menggerakkan roda ekonomi warga sekitar yang sempat lesu.
Warga lokal yang sebelumnya menggantungkan hidup pada sektor lain, kini mulai beralih menjadi pelaku UMKM dadakan demi menyambung hidup.
Menjelang pukul 18.00 WIB, arus pengunjung justru tampak belum menunjukkan tanda-tanda akan surut dari lokasi.
Justru saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, suasana di tepian sungai menjadi semakin syahdu dan tenang.
Baca juga: Imigrasi Padang Catat 44.433 Permohonan Paspor Sepanjang 2025, Didominasi Wisata dan Umrah
Wisata Sungai Ujung Tanah bukan sekadar tempat untuk mandi-mandi atau bermain air semata bagi warga Padang.
Ia adalah simbol daya lenting masyarakat dan bukti nyata bagaimana alam mampu memulihkan diri pasca dihantam bencana hebat.
Dari endapan pasir sisa banjir, lahir sebuah ruang publik yang mempersatukan warga dalam kebahagiaan yang sangat sederhana. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)