TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Sarolangun, memakan korban jiwa. Delapan nyawa terenggut, sementara empat lainnya mengalami luka.
Jurnalis Tribun Jambi, Frengky Widarta langsung ke lokasi dan mewawancarai Kepala Desa Temenggung, Supriadi.
Ada beberapa fakta tersembunyi yang akhirnya terungkap terkait peristiwa tersebut.
Berikut petikan wawancara Kepala Desa Temenggung Supriadi dalam program Saksi Kata Tribun Jambi.
Tribun: Dalam program Saksi Kata kali ini saya sedang bersama dengan Kepala Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun. Bersama saya, ada Kepala Desa Temenggung, Bapak Supriadi. Bisa diceritakan, Pak, bagaimana awal mula laporan dari warga terkait tambang emas yang longsor ini?
Kades: Habis zuhur kita lagi kunjungan ke rumah warga. Nah, pas perjalanan kita mau pulang dapat cerita dari keluarga atau warga ada keluarga kita yang ketimpa longsor dalam penambangan.
Maka kami dari situ langsung ke lokasi, ngecek ke lokasi, ternyata betul dan juga masyarakat sudah berkumpul di situ untuk membantu evakuasi.
Dari desa tetangga sebelah juga, masyarakat sudah kumpul, keluarga-keluarga sudah kumpul di lokasi untuk melakukan evakuasi.
Evakuasi pada malam itu sampai jam 9-an lah. Kami evakuasi beberapa orang. Alhamdulillah, pas malam itu sudah sudah ketemu semua.
Dari yang terevakasi malam itu, yang meninggal itu delapan orang.
Selain itu ada empat orang yang sakit-sakit, tergores. Totalnya ada 12 orang.
Tribun: Mereka ini kerja atau nebeng (ikut menambang saja)?
Kades: Kalau itu yang ini kebanyakan yang nebeng.
Tribun: Itu perkiraannya, jam berapa, Pak?
Kades: Dari sore, itu selesainya sekitar 00.30 lah. Pas malam itu Pak Kaposek, Wakaposek, juga dari Bhabin sudah dari kepolisian sudah turun ke lapangan.
Juga ada yang dari TNI juga. Kamis putuskan ke lapangan lagi besoknya, sudah malam, sudah harus istirahat.
Sesuai kesepakatan dengan tim yang dari masyarakat dan keluarga juga, kita sepakati untuk malam ini kita cukup sebatas ini dulu. Insyaallah kita lanjutin besoknya.
Kita mengingat tempat yang kurang memungkinkan, susana hujan, takutnya longsor lagi, maka kami putuskan pada malam itu untuk sebatas itu.
Nah, besoknya itu ada dari kepolisian, dari TNI, dari Damkar, dari PMI, dan juga dari tim yang lain yang turun untuk mengevakuasi, untuk memastikan bahwa di situ tidak ini lagi.
Tribun: Sudah berapa lama ada tambang di sini?
Kades: Nah, dari kalau penambang zaman dulu itu kami sudah, kami masih kecil sudah ini. Tapi caranya yang berbeda-beda .
Tapi sekarang caranya modern dikitlah. Itu rata-rata yang menambang ini warga kita sendiri. Ya, rata-rata ada yang dari keluarga kita dari sini.
Ada juga yang dari luar. Ada ada juga ada yang di luar.
Tribun: Sudah berapa kali kejadiannya?
Kades: Iya, sebelumnya juga ada. Tapi gak (sampai ada korban jiwa), paling terkelis. Ada yang tertimbun juga ada, tapi gak banyak ya dari jumlah korban.
Kalau yang kejadian kemarin yang meninggal delapan orang, yang luka-luka, yang patah, yang sakt, itu empat orang. Total 12 orang.
Tribun: Terakhir, pengin tahu juga langkah-langkah yang akan dilakukan ini oleh Kepala Desa Temenggung.
Kades: Kalau sekarang kami setiap ada acara kami tetap mengimbau, dari sebelum-sebelum ini juga kami sudah bikin baner bersama dengan pihak kepolisian, dari pihak TNI juga, bikin spanduklah. Setop PETI.
Dari kepolisian juga mengimbau kasih baner. Kami juga sosialisasi ini dari desa juga. Setiap acara kami mengimbau. Itu yang kami lakukan
Tribun: Imbauan dengan memasang spanduk sudah. Lalu, harapan ke depannya seperti apa?
Kades: Kalau kami untuk ke depannya, ya, namanya ini kan mata pencarian, mencari nafkah, ya.
Nah, pertama itu ya kita izinlah secara resmi, penambangan secara resmi supaya masyarakat kita punya aturan mainnya. Dalam arti, aturan kita jadi keselamatan dia bagaimana cara dia selamat.
Nah, kalau dia pakai ini, dia tahu apa namanya keselamatan, dia cepat antisipasi.
Sekarang kan mungkin teori dia gak punya ini, untuk keselamatan gak punya juga, kami dari desa juga sudah mempersiapkan.
Misalnya kita kasih bantuan supaya kalau PETI kalau yang kayak penambang ini kita berangsur-angsurlah hilangkan.
Sekarang dari desa juga ada bantuan bibit sawit, supaya reklamasi yang bekas itu didatarin, ditanam sawit, supaya dia nanti berangsur-angsur hilang.
Tapi kalau hilang tuh kita gak spontanitas gitu kan.
Tapi setidaknya, ada kegiatan yang bisa memberikan bantuan kepada warga agar penambangan ini tidak ada lagi.
Tempat lokasi yang sebelumnya itu sudah nanti akan direklamasi dan ditanami oleh
Tribun: Kalau sayur mayur?
Kades: Kalau sayur mayur ya masih dicoba kan. Tapi yang sawit itu insyaallah hidup, sebab sudah banyak contoh-contoh ini kan sudah.
Terakhir, saya mau mengucapkan kepada yang membantu kami dari masyarakat Temenggung dan juga pemerintah Desa Temenggung pertama mengucapkan terima kasih.
Semuanya yang ikut mengevakuasi kami sebagai pemerintahan, sebagai masyarakat, keluarga korban, kami mengucapkan ribuan terima kasih dan juga insyaAllah itu dicatat oleh Allah sebagai amal ibadah kita.
Dan juga kami minta doa kepada kita sekalian bahwa anak korban, keluarga yang ditinggalkan oleh yang kena musibah, kita doakan mudah-mudahan diberi ketabahan.
InsyaAllah diberi ketabahan dan rezeki lancar untuk menghadapi ya masa depan yang ke depannya. (Tribunjambi.com/Frengky widarta)
Baca juga: Bupati Tanjabtim: Tak Elok Saling Menyalahkan, Titik Damai Konflik Guru-Siswa SMK 3 Tanjabtim
Baca juga: 8 Korban Tewas Hanya Menumpang Kerja, PETI Sarolangun Telan Nyawa