TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Mimi Sugiarti selaku Ketua Jurusan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Tanjungkarang menjelaskan secara komprehensif sistem pendidikan.
Juga terkait dengan kurikulum hingga peluang kerja lulusan TLM Poltekkes Kementerian Kesehatan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang menjanjikan.
Mimi Sugiarti mengungkapkan bahwa Jurusan Teknologi Laboratorium Medis memiliki dua program studi, yakni Diploma Tiga (D3) dan Sarjana Terapan (D4).
Profil lulusan TLM dan prospek kerjanya pun sangat menjanjikan. Lulusan D3 berperan sebagai verifikator hasil pemeriksaan laboratorium, sementara sarjana terapan berperan sebagai validator hasil pemeriksaan dan penelitian.
Mimi Sugiarti menegaskan bahwa alumni TLM telah tersebar hampir di seluruh Indonesia, baik di sektor swasta maupun pemerintah.
Di Provinsi Lampung sendiri, sekitar 99 persen tenaga laboratorium medis merupakan lulusan jurusan TLM dari Poltekkes tersebut.
“Alumni kami bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik, bahkan ada yang menjadi pengusaha dengan mendirikan laboratorium sendiri,” ungkapnya Kamis (22/1/2026).
Tak hanya nasional, sejumlah alumni juga telah berkarier di luar negeri seperti Jepang dan Jerman.
Dengan kebutuhan tenaga laboratorium medis yang masih sangat tinggi, Mimi Sugiarti optimistis prospek kerja lulusan TLM akan terus terbuka luas.
“Setiap fasilitas pelayanan kesehatan, dari tingkat dasar hingga rumah sakit tipe A, membutuhkan tenaga laboratorium medis. Jadi jangan ragu memilih Teknologi Laboratorium Medis sebagai masa depan,” pungkasnya.
Tak berhenti disitu, Mimi juga menjelaskan mata kuliah apa saja yang akan diajarkan kepada mahasiswa saat pertama kali masuk ke jurusan tersebut.
“Di semester satu, baik mahasiswa D3 maupun sarjana terapan akan dibekali mata kuliah dasar umum, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, kewarganegaraan, dan agama. Selain itu, mereka juga langsung diperkenalkan dengan dunia kelaboratoriuman,” jelasnya.
Meningkat tahun kedua mahasiswa diajarkan mata kuliah pengenalan laboratorium, pengantar laboratorium medik, instrumentasi, hingga biokimia menjadi bekal awal mahasiswa.
Menurut Mimi, mata kuliah dasar ini berperan penting sebagai pondasi untuk mata kuliah lanjutan di semester berikutnya.
“Contohnya biokimia, yang nantinya menjadi dasar pembelajaran kimia klinik di semester dua hingga empat pada kurikulum baru,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa mata kuliah unggulan yang ada di jurusan tersebut adalah berbasis IT dan molekuler.
“Sejalan dengan profil lulusan TLM yang diharapkan mampu melakukan pemeriksaan laboratorium berbasis teknologi informasi dan molekuler, jurusan ini memiliki tujuh mata kuliah unggulan di program D3 dan delapan mata kuliah unggulan di program sarjana terapan,” tuturnya.
Mata kuliah tersebut meliputi hematologi yang mempelajari Mempelajari darah dan kelainannya.
Kimia klinik mempelajari pemeriksaan kimia pada cairan tubuh untuk diagnosis penyakit.
Parasitologi mempelajari parasit yang menginfeksi manusia, meliputi protozoa, cacing (helminth), dan artropoda.
Mikrobiologi mempelajari mikroorganisme penyebab penyakit, seperti bakteri, virus, jamur.
Imunologi serologi mempelajari sistem kekebalan tubuh dan reaksi antigen–antibodi, meliputi mekanisme respon imun, penyakit autoimun dan alergi.
Sitohistoteknologi mempelajari struktur sel dan jaringan serta teknik preparasi jaringan.
Terakhir biologi molekuler mempelajari materi genetik dan teknik analisis molekuler, meliputi DNA, RNA, dan gen.
Seluruh mata kuliah ini dipelajari secara bertahap mulai semester dua hingga semester enam untuk D3, dan hingga semester tujuh untuk sarjana terapan.
“Khusus sarjana terapan, semester terakhir difokuskan untuk praktik lapangan. Mahasiswa langsung terjun ke rumah sakit maupun ke masyarakat,” ujar Mimi.
Ia juga menjelaskan bahwa jurusan TLM memiliki 20 dosen yang menaungi berbagai mata kuliah yang sudah dijelaskan, dengan latar belakang pendidikan yang relevan dan beragam.
Sebagian besar dosen merupakan lulusan TLM yang melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 dan S2 di berbagai bidang, seperti kesehatan masyarakat, biologi molekuler, kedokteran tropis, kimia, hingga kesehatan lingkungan.
Saat ditanya mengenai fokus atau peminatan yang ada di jurusan tersebut, Mimi mengatkn bahwa secara umum, seluruh mahasiswa mendapatkan materi yang sama untuk memastikan kompetensi menyeluruh.
Namun, seiring perkembangan teknologi dan sistem layanan rumah sakit, mahasiswa diberi kesempatan untuk menentukan fokus keilmuan di tahap akhir perkuliahan atau saat penyusunan skripsi.
“Mahasiswa bisa memilih fokus di patologi klinik, mikrobiologi, atau patologi anatomi saat menyusun tugas akhir atau skripsi. Ini untuk memperkuat kompetensi sesuai minat mereka,” jelas Mimi.
Tak hanya kemampuan teknis, jurusan TLM juga membekali mahasiswa dengan soft skill melalui mata kuliah pilihan seperti Public Speaking dan English Academy yang bisa mahasiswa ambil saat semester 4.
“Kebutuhan dunia kerja saat ini menuntut lulusan yang mampu berkomunikasi dengan baik dan menguasai bahasa Inggris. Harapannya, lulusan kami tidak hanya siap bersaing di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri,” katanya.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/ Bintang Puji Anggraini)