TRIBUNJATIM.COM - Pengalaman menarik dirasakan oleh guru yang dulu mengajar di sekolah reguler kini menjadi tenaga pendidik di Sekolah Rakyat (SR).
Sudah enam bulan alias satu semester para guru bekerja agar siswa bisa beradaptasi di Sekolah Rakyat.
Baik itu dari segi pembelajaran maupun pola hidup berasrama dengan tinggal di sekolah rakyat selama 24 jam.
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 15 Mojokerto, Heri Susanto mengatakan sekolah rakyat dengan sekolah reguler tentu sangat berbeda dari segi perlakuan hingga pembinaan siswa.
Baca juga: Sekolah Rakyat Tuban Segera Punya Gedung Baru di Lahan Seluas 7 Hektar
"Tentunya sangat berbeda dari sekolah reguler, karena saya sebelumnya dari SMA Negeri 2 Kota Mojokerto bergabung di sekolah rakyat ini. Lebih spesifik perbedaannya dari karakter siswanya dan sekolah berasrama," ucap Heri, Kamis (22/1/2026).
Heri mengungkapkan, walupun awalnya sempat kaget dirinya telah beradaptasi dengan cepat.
Menurutnya, menjadi tantangan bagi tenaga pendidik yang mengajar di sekolah rakyat harus berkompeten berdedikasi tinggi dan berjiwa sabar.
Perbedaan mencolok dari sekolah rakyat terutama arakter siswa yang berbeda-beda berasal dari keluarga yang masuk DTSEN Kementerian Sosial (Kemensos) RI.
"Maka kami harus bekerja ekstra keras, khususnya untuk menangani anak-anak ini karena mereka harus tinggal 24 jam di asrama dengan jadwal yang padat. Kita harus membiasakan mereka menjalani rutinitas berasrama, ini butuh proses dan kesabaran," bebernya.
Menurutnya, setiap siswa juga memiliki kebiasaan yang berbeda apalagi mereka berasal dari daerah di 18 Kecamatan, Kabupaten Mojokerto.
Perbedaan dari sekolah umum lainnya, siswa menjalani rutinitas pembelajaran akademik maupun non akademik secara estafet sejak pagi buta sampai malam yang diampu baik oleh guru maupun wali asuh.
(Fullday) dimulai pukul 08.00 hingga pukul 15.00 WIB kemudian dilanjutkan ekskul dan motivasi belajar dari wali asuh sampai pukul 20.00 WIB.
Para siswa kini telah beradaptasi dengan rutinitas yang padat, dan betah tinggal di asrama dengan perubahan drastis yaitu meningkatkan keinginan belajar.
"Ketika mereka ada perhatian dari kami, aslinya anak-anak bisa tenang dan nyaman terbukti dalam 1 semester ini semakin kerasan ingin buru-buru balik ke asrama saat libur sekolah," tukasnya.
Guru TIK SRMP 15 Mojokerto, Salsabilah Tazkia (25) mengaku dirinya mendapat pengalaman berharga saat mengajar siswa di sekolah rakyat tersebut.
Mayoritas siswa memiliki minat belajar yang baik, hanya saja perlu dimotivasi secara terus-menerus dan memberikan perhatian lebih kepada peserta didiknya.
"Saat awal masuk siswa kelas 7 memang diakui minat belajar mereka masih sedikit rendah, namun setelah 1 semester ini minat belajar meningkat drastis. Para siswa senang belajar apalagi sekarang rajin ke perpustakaan," kata Salsa.
Salsa menambahkan, kebiasaan siswa terutama kelas 7.1 putra memang perlu mendapat perhatian utama untuk diubah contoh kecilnya beberapa dari mereka masih tidak nyaman beraktivitas mengenakan sandal.
"Dulu awal masuk siswa berada di kawasan asrama sering tidak pakai alas kaki, dari pengakuannya mereka karena sudah terlanjur terbiasa tidak memakai sandal. Namun setelah diingatkan, meski berulang kali akhirnya mereka sudah berubah," tandasnya.
Total 50 siswa SRMP 15 Mojokerto terdiri dari kelas 7.1 sebanyak 22 siswa putra dan kelas 7.2 berjumlah 28 siswi. (don)